Minggu, 24 Oktober 2010

Aku Menggugat Akhwat dan Ikhwan Jilid 4

 JILID 4
Mentari bersinar lagi. Cahanya memancar pada setiap denyut sisi dunia ini. Aku  mempercepat  gerak  langkahku.  Menuju  sebuah  perkampungan  kumuh.  Aku harus  menuju  kesana.  Karena  seperti  biasanya,  aku  harus  mengisi  kajian  disana. Beberapa  kali  aku  melihat   orang-orang  yang  berlalu-lalang  dengan  membawa gerobak. Gerobak asongan, untuk mengisi  dagangan atau besi-besi tua. Hilir mudik disetiap laju jalan daerah kumuh ini. Aku pasti sudah  terlambat nich! Ini salahku. Kenapa aku harus ngobrol dengan Ukhti Reni sampai larut  malam. Sampai-sampai aku tidak sholat tahajjud tadi malam! Gerutuku dalam hati. Dengan tetap berjalan.

Rumah  ibu  Inah  sudah  terlihat.  aku  percepat  langkahku,  menuju  medan dakwah yang menunggu. Menunggu ladang-ladang dakhwah yang akan aku semai.

“Assalamualaikum”  Ucapku, sembari langsung masuk rumah ibu Inah. Serempak, seisi rumah langsung menjawab salamku. “Walaikumsalam” “Wah, maaf yah. Saya terlambat!”
“Oh, nggak kok Mbak Farah!” Jawab ibu Inah, ramah.

Setelah itu aku langsung memberikan materi tarbiyah, untuk para ibu-ibu. Mereka  dengan  baik  menyimak  beberapa  materi  tarbiyah  yang  aku  sampaikan. Sesekali terdengar celetukan para ibu-ibu, bingung karena tidak mengerti materi yang aku sampaikan. Materi Tauhid, materi awal pada setiap kajian. Ternyata, masih sangat banyak para wanita-wanita Islam ini yang belum mengerti tentang ajaran ketauhidan.

“Tauhid, merupakan sebuah hal yang mendasar dalam agama Islam sebelum Iman! Kalimat tauhid  merupakan kalimat pertama yang harus diucapkan. Bentuk kalimat Tauhid, ada beberapa macam. Ucapan tauhid yang pertama adalah, syahadat. Dalam kalimat syahadat, telah ditetapkan. Bahwa, kita  hanya boleh menyembah Allah dan mengikuti   aturan-aturan   yang   telah   dilakukan   oleh   Rasulullah.   Kadang,   kita melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama. Tetapi anehnya, kita tidak merasa bahwa perbuatan yang kita lakukan itu melanggar agama! Contohnya, saat kita kesulitan mendapatkan uang. Beberapa macam cara kita gunakan, sampai-sampai datang meminta  pertolongan kepada orang pintar! Nah, kadang kita menganggap bahwa memita pertolongan kepada orang pintar itu sebagian dari ikhtiar kita!” sejenak aku  menghentikan  penjelasanku.  Para  ibu-ibu  ini  terlihat  sangat  antusias  sekali mengikuti kajian.

Sesudah menghela nafas, aku meneruskan penjelasanku. “Ibu-ibu, ikhtiar itu bukan meminta tolong kepada selain Allah. Mungkin kita menganggap, bahwa orang pintar bisa  dijadikan  sebagai  perantara  pertolongan  dari  Allah?  Sebenarnya,  saat  kita meminta  pertolongan  kepada  mahluk  Allah.  Maka  Allah  itu  akan  sangat  murka kepada  kita,  karena  berarti  kita  meminta  tolong  bukan  kepada  Allah  langsung. Padahal dalam Al Qur’an [16.53] ‘Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka  hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.’ Jadi, Allah sudah memperingatkan kita

untuk selalu langsung meminta pertolongan kepada-Nya. Bukan melalui perantara orang  yang  diragukan  keimanannya  untuk  menyembah  Allah.  Seperti  dalam  Al Qur’an  [29.41]  ‘Perumpamaan  orang-orang  yang  mengambil  pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba  kalau mereka mengetahui’ ini merupakan sebuah perintah Allah kepada kita. Untuk langsung  meminta sesuatu kepada Allah langsung. Dan, kita harus meminta dengan segenap ketaqwaan kita  terhadap Allah. Dan  Allah  pasti  mengambulkan  permintaan  kita!  Jika  permintaan  kita  belum dikabulkan  secepatnya,  pasti  Allah  akan  mengabulkannya  diwaktu  mendatang! Karena Allah itu  maha pemberi. Maka memintalah kepada yang Maha mengasih!” Ibu-ibu terlihat mengerti dengan materi kajian yang aku berikan. Insya Allah.

Waktunya    tanya    jawab.    Waktu    inilah    yang    akan    membuatku    lebih berinteraksi, jika memberikan sebuah materi kajian.

“Mungkin ibu-ibu, ada yang belum mengerti?” Tanyaku,

Ibu Inah mengacungkan tangannya. “Mbak Farah, saya mau bertanya!” “Iya silan Bu Inah!”
“Mungkin ini agak, menyimpang dari tema kajian kita kali ini! Yang saya tanyakan adalah.  Apakah seorang wanita muslim wajib memakai jilbab? Apakah jilbab juga bentuk ketauhidan kita kepada Allah? Itu aja Mbak!”

Hem, memang ini saatnya aku memberitahukan perintah berjilbab! Tapi tetap dalam koridor-koridor  yang bisa mereka mengerti! Ucapku dalam hati. “dalam Al Qur’an yang tertera dalam Annur 31 dan Al Ahzab 59. Allah sudah mengatur beberapa cara berpakaian  wanita!  Ibu-ibu,  tubuh  wanita  itu   sesungguhnya  sangat  sempurna. Sungguh kesempurnaan yang sangat luar biasa, karena Allah  menciptakan mahluk yang dinamakan wanita itu dengan keindahan! Alangkah sayang, jika keindahan yang diberikan  Allah  kepada  kita,  kita  perlihatkan  kepada  khalayak  umum.  Karena keindahan  itu, harus diberikan kepada manusia yang berhak menerima keindahan. Yaitu suami kita. Karena Allah memualiakan kita, maka akhirnya dengan kemuliaan Allah kita diberikan ciri pakaian yang  pantas untuk dipakai oleh seorang wanita! Sungguh wanita itu sangat mulia. Maka jika kita ingin  mulia berpakaianlah sesuai dengan kemuliaan.

Hubungannya jilbab dengan ketauhidan. Merupakan sebuah mata rantai yang bertautan.  Karena jilbab merupakan perintah Allah. Maka dengan begitu, jika kita wanita yang bertauhid. Dengan sendirinya kita akan menuruti apa yang diperintahkan oleh Allah. Termasuk perintah untuk berjilbab menutup aurat! Jika kita tidak menuruti perintah Allah. Berarti kita telah menafikkan perintah-Nya. Orang-orang, yang tidak menuruti perintah Allah. Berarti dia telah mempunyai sesembahan baru selain Allah. Dengan begitu, seorang wanita yang tidak berjilbab. Sama saja  dengan  mempunyai sesembahan baru selain Allah. Karena telah berani menentang perintah Allah!

Tapi bukan berarti ibu-ibu menetang perintah Allah. Saya yakin, bahwa ibu- ibu  sebenarnya pengen sekali berjibab! Tetapi mungkin, hanya belum dilaksanakan saja” kataku sambil tersenyum kepada para ibu-ibu.


Para  ibu-ibu  terlihat  serius  sekali  memperhatikan  penjelasanku  tentang penutup aurat.

“Tapi Mbak, kalau kita belum punya uang untuk beli jilbab. Gimana?” tanya bu
Darmin.

“Insya Allah Ibu-ibu. Jika kita berniat kuat untuk melakukan sesuatu kebaikan. Maka Allah akan memudahkan usaha kita! Sesungguhnya, jika kita mendekati Allah dengan berjalan, maka Allah akan mendekati kita dengan berlari. Maka jangan putus asa, jika kita memang belum punya uang untuk berjilbab. Niat saja, itu sudah dihitung menjadi pahala oleh Allah. Apalagi melakukannya!” Senyumku terus mengembang, pada ibu- ibu.

“Mbak Farah, saya mau bertanya!” Giliran ibu Ijah.

”Iya Bu!”

“Apakah benar, wanita itu tidak boleh bersalaman dengan laki-laki?”

“Hem. Dalam hadits, dikatakan bahwa Rasulullah itu berkebiasaan berjabat tangan atau bersalaman. Tetapi Rasulullah tidak pernah berjabat tangan dengan wanita. Dan para sahabat pun, tidak pernah berjabat tangan dengan wanita. Dengan contoh seperti itu, maka kita harus mengikuti aturan-aturan yang dilakukan oleh Rasulullah. Seperti penjelasan saya tadi, bahwa seorang wanita itu adalah  mahluk yang mulia. Maka, muliakanlah wanita dengan kemuliaan akhlak wanita itu sendiri. Maka wanita, akan menjadi benar-benar seorang yang dimuliakan! Bagaimana ibu-ibu, ada pertanyaan lagi?” Tanyaku menutup penjelasan.

Semua mengangguk, tanda mengerti.
*** Saat aku berjalan.
“Tluut...Tliiluut...” Bunyi Hpku. Saat aku lihat, Sms masuk dari Ukhti Dewi. “Mbak, ada dimana? Ana butuh bantuan Mbak, sekarang bisa?” Tulisnya. Langsung saja aku meneleponnya.
“Assalamualaikum, Mbak!” Ucap Dewi.

“Walaikumsalam, Ukhti! Ada apa Ukh?” Ucapku saat setelah Dewi    mengaangkat
Hpnya.

“Mbak, ana butuh konsultasi nih! Mbak ada dimana?”

“Ana lagi dalam perjalanan pulang! Ini sudah sampai Jl. Sudirman.”

“Oh ya! Mbak, bisa nunggu ana di rumah makan LEZAT nggak? Itukan didaerah JL. Sudirman!” Serunya.
“Hem, ok! Ana tunggu disitu. Udah yah, ana menuju rumah makan Lezat sekarang!” “Iya Mbak, ana  kesana sekarang! Assalamualaikum” Ucap Dewi, sambil menutup
pembicaraan.

Walaikumsalam! Hem, itung-itung makan siang disana. Gumamku dalam hati.

Dewi adalah adik kelasku saat masih di SMU. Dia termasuk anak ROHIS, yang militan  banget. Semangatnya hebat sekali. Aku salut kepadanya. Jarang ada akhwat semilitan dia.  Entahlah, Dewi memang lebih sering mengadu masalahnya kepadaku, daripada Akhwat senior yang lainnya.

***

Siang ini begitu terik, mentari bersinar dalam naungan panas yang menyengat. Aspal-aspal  jalanan,  mengeluarkan  fatamorgana  yang  berhamburan.  Pasti  sangat panas! Tetapi dari sudut  jalan, terlihat anak-anak kecil berlarian tanpa alas kaki. Mereka  meminta  beberapa  rupiah,  pada  setiap  pengendara.  Aspal-aspal  jalanan, seperti sudah menjadi saudara anak-anak itu. Hingga panasnya pun, tidak menyengat mereka. Pantas mereka disebut, anak jalanan. Sebenarnya pilu, saat melihat mereka berlarian mengais rupiah. Tetapi, aku hanya bisa merubah sedikit sekali anak-anak jalanan itu.

Tetap, diruang yang berAC dingin ini. Aku melihat mereka, si anak-anak jalanan.  Semoga  Allah,  tetap  membibing  mereka.  Terlihat  Dewi  berjalan  menuju kearahku. Sambil tersenyum. Jilbab dan gamisnya pun seraya ikut menyapaku.

“Assalamualaikum. Afwan mbak, ana baru datang!” Ucap Dewi. “Walaikumsalam. Nggak kok, ini aja ana belum makan apa-apa!” Gurauku.
Dewi hanya tersenyum. Senyumannya terasa berat. Terlihat aral yang membelunggu dalam hatinya. Hem! Kenapa lagi adikku ini? Kasihan!

“Ada apa, Ukh?” Tanyaku langsung.

Sejenak, saat aku bertanya itu. Dia langsung memelukku. Isak tangisnya langsung mengalir  dalam  pelukanku. “Mbaa...k, Ana kena musibah!” Suaranya parauh dan terdengar lirih. “Mbak, Allah memberikan banyak musibah kepada ana! Ana nggak kuat Mbak!” isak tangisnya menandakan kegalauan yang sangat besar.

“Innalillahi.... Sabar, ya Ukh! Anti jangan ngomong gitu. Nggak boleh! Lebih baik sekarang kita makan dulu. Lalu, kita bicaranya dirumah ana aja! Biar, lebih leluasa!” kataku, sambil mengusap-usap punggung Dewi.

Wajah yang  jelita,  ceria  dengan  kegiatan  yang  begitu  dia  senangi.  Kini  seakan, musnah. Aral telah membelunggu tubuhnya. Jiwanya terlihat lemah. Matanya sayup dan terlihat tidak bergairah. Dengan sedikit mengangguk, Dewi menyetujui saranku.

Tetapi tidak seberapa lama, Dewi menatapku. Wajahnya terlihat khawatir. “Mbak..!”
ucapnya lirih. “Apa, Ukh!”
Dewi terlihat berhati-hati dalam setiap ucapannya. “Afwan ya, Mbak! Eem... Mbak, sebenarnya ana nggak punya duit banyak untuk mentraktir Mbak Farah!”

Saat Dewi mengucapkan itu. Aku langsung tersenyum. Adikku yang satu ini, sifatnya memang nggak pernah berubah! Pasti nanti minta bayarnya sendiri-sendiri. Tapi ini yang aku suka, sifat blak-blakkannya inilah yang membuatku semakin senang dengan dia. Sifat yang jujur, polos dan lugu. Gumamku dalam hati.

“Hehe... pasti anti mau bilang kalau bayarnya, sendiri-sendiri aja! Ya kan?” Ucapku sambil menggoda, si lugu.

Dengan sedikit malu, Dewi menundukkan wajahnya dan mengangguk pelan. “Hehee... Udah deh, Ukh. Anti nggak usah bayar, biar ana yang traktir anti!”
“Eh... jangan Mbak! Ana kan sudah merepotkan Mbak. Masa makan, Mbak juga yang repot!” Ucapnya, seraya memang terlihat rasa malu diwajahnya.

“Nggak apa-apa, lagi Ukh! Anti kan saudara ana. Jadi sesama saudara itu kan harus saling memuliakan!”

Dewi langsung tertunduk. Wajahnya memerah. “Afwan ya, mbak. Memang saudara harus saling  memuliakan. Tetapi ana tidak pernah memuliakan Mbak Farah! Malah Mbak Farah yang terus  memuliakan ana. Saudara macam apa ana ini! Ana malah sering merepotkan Mbak Farah, dengan masalah-masalah ana sendiri!”

Waduh, aku salah ngomong nich! Wah, jadi mendung kembali nih.
“Ukhti, anti selalu memuliakan ana kok! Dengan menceritakan masalah anti ke ana. Ana merasa anti sudah menganggap bahwa ana adalah saudara anti. Karena saudara, adalah seorang yang tidak  saling menutupi kekurangan dan kelebihannya. Kepada saudara yang lainnya! Dengan menceritakan problem anti, ana sudah sangat merasa anti muliakan!” Aku menatapnya dengan penuh keikhlasan.

“Terima kasih, ya Mbak!” Ucap Dewi polos.

Aku tersenyum. “Baik, sekarang kita pesan makanan. Ok!”

Dewi mengangguk sambil tersenyum. Senyuman seorang saudara, yang mengandung keteduhan hati.

Uhibbukka fillah yaa ukhti.


***



“Ceritakan masalah anti, sekarang!”  Ucapku. Saat sudah berada dikamar yang setiap hari  memberikan fasilitas tidurnya untuk selalu kutempati. Tak lupa, aku memeluk boneka panda, yang setiap hari menemani tidurku.

“Mbak, Papa dipecat dari perusahaannya! Yang lebih parah lagi. Papa sakit jantung! Papa sekarang dirawat dirumah sakit. Kata Mama, saat Papa dipecat tidak membuat Papa sakit. Tetapi saat Papa  dapat surat panggilan dari kepolisan, tentang dugaan korupsi diperusahaan. Papa langsung pingsan,  dan langsung dirawat dirumah sakit! Pernah  Papa,  mengatakan  kepada  ana.  Bahwa  Papa,  sedang  menyelidiki  dugaan korupsi diperusahaan. Papa curiga dengan, seorang anak pemilik salah satu pemodal perusahaan. Yang melakukan korupsi itu! Tapi entah kenapa. Pada saat Papa, sudah hampir menemukan semua bukti-bukti. Papa dengan cepat dipecat diperusahaan! Dan setelah itu Papa, balik dituduh sebagai seorang koruptor! Ana bingung Mbak. Biaya rumah sakit sangat besar. Hingga akhirnya, kami sekarang tidak mempunyai apa-apa! Alhamdulillah, Mas Aldi. Siap menanggung biaya pengobatan Papa. Tetapi mas Aldi, tidak punya cukup banyak uang untuk membiayai kuliah ana. Kasus tuduhan dugaan korupsi Papa, sampai saat ini masih diusut!” Sejenak Dewi menghela nafas panjang. Dengan  masih  terisak  tangis,  Dewi  mengatakan.  “Mbak  ana  bingung,  ana  nggak punya cukup uang biaya kuliah. Ana sekarang harus DO! Mbak ana juga takut, kalau Papa benar-benar akan masuk penjara! Ana takut.... Mbak!” dengan serta merta pun, Dewi langsung memelukku.

“Sabar ya Ukh! Ukhti, sesungguhnya anti sudah pernah mempelajari tentang teori kesabarankan!  Hanya saja, kita terkadang dengan mudah berkata-kata tentang teori kesabaran yang diajarkan oleh agama kita! Tetapi, pada saat ujian itu datang kepada kita. Masya Allah, kita lupa dengan segudang teori kesabaran yang telah kita pelajari! Ini sudah sangat sering terjadi Ukh! Ana hanya mengingatkan kepada anti. Anti harus ingat,  bahwa  Allah  sangat  menyukai  dengan  hamba-hambanya  yang  sabar.  Dan kemuliaan orang yang sabar, adalah dijanjikannya surga dan pahala. Anti harus ingat dengan Al Baqarah 214 ‘Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal  belum   datang  kepadamu  (cobaan)  sebagaimana  halnya  orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan)  sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersama-sama. ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.’ Atau dalam Al Ankabut dalam   ayat   2-3.   ‘Apakah   manusia   mengira   bahwa   mereka   dibiarkan   (saja) mengatakan,    ‘Kami    telah    beriman’,    sedang    mereka    tidak    diuji    lagi?    Dan sesungguhnya  Kami  tealh  menguji  orang-orang  yang  sebelum  mereka,  maka sesungguhnya  Allah  mengetahui  orang-orang  yang  benar  dan  sesungguhnya  Dia megnetahui orang-orang yang dusta.’

Ukhti, cobaan merupakan sebuah rasa kasih sayang Allah. Yang diberikan kepada seluruh hambanya. Manakala seorang hambanya, saat diberikan cobaan. Maka kita harus ingat, katakanlah innaa lillahi wa innaa ilayhi raaji’uun. Yaa Ukhti, ana juga akan mengingatkan kepada anti, tentang hadits Abu Razin “Allah Swt. Merasa heran kepada seorang hamba yang putus asa  padahal Allah Swt. Dapat merubah

segala sesuatu dengan mudah. Allah Swt. Melihatnya dalam keadaan putus asa, lalu Dia tertawa  karena jalan keluar sebenarnya sudah dekat” Ukhti, anti harus ingat. Bahwa sesungguhnya cobaan yang anti dapatkan, merupakan sebuah ungkapan kasih sayang Allah kepada anti. Sungguh besar, kenikmatan yang diberikan Allah kepada saat ini. Jika anti menyadarinya! Anti ana sebagai saudara, apalagi ana merasa sebagai kakak Anti. Tidak akan mau melihat saudara atau adik ana, berputus  asa.  Karena, sebenar-benar seorang manusia yang terhina, adalah manusia yang berputus asa!

Ingat  Ukh,  ‘Sesungguhnya  pertolongan  turun  dari  langit  sesuai  dengan cobaan yang  ditimpakan kepada seseoarang, dan kesabaran turun sesuai dengan besarnya    musibah’    (Ibnu    Katsir    IV/526).    Maka    sesungguhnya,    Allah    pasti memberikan pertolongan  kepada anti. Sesuai dengan tingkat cobaan yang diberikan anti!” sejenak aku melihat wajah sendu Dewi. Terpancar cahaya kemuliaan kembali. Semangatnya timbul, seiring dengan terpacunya  penghambaan kepada Allah. Aku tersenyum. “Ukhti, ana siap membantu semua biaya kuliah anti! Mulai dari apapun. Ana tidak mau saudara atau adik ana putus kuliah hanya karena masalah seperti ini! Biaya kuliah ana yang tanggung. Untuk proses fitnah korupsi yang dituduhkan kepada Papa  anti.   Ana  siap  untuk  membantu,  menyediakan  pengacara  muslim,  yang berkompeten dalam bidang ini! Insya Allah, Abi punya banyak kenalan tim pengacara Muslim!

Wajah sendu itu kembali tersenyum. Keceriaan yang meredup, kembali merekah. Kini saudaraku  bahagai, sebahagia aku membahagiakan saudaraku. Aku pun tersenyum, bahagia.

Tapi tak lama. Wajah itu kembali meredup. “Nggak Mbak! Ana udah terlalu banyak merepotkan  Mbak Farah! Ana menceritakan masalah ana, hanya untuk mendapat taujih dari Mbak Farah. Serasa damai saat Mbak Farah memberikan taujih Rabbani kepada ana! Itu sudah cukup! Ana  nggak mau merepotkan Mbak terlalu banyak.” Dewi menundukkan kepalanya. Sebutir kristal  kembali berjatuhan. Wajah sendu itu pun, kembali datang tanpa diundang.

“Yaa  Ukhti!   Apakah   anti   menganggap   ana   adalah   saudara   anti?”   Ucapku, mempertegas.

Dewi mengangkat kembali kepalanya, dia tersentak. Kaget. “Pasti Mbak Ana sudah menganggap  Mbak Farah adalah kakak ana!” sejenak dia menghela nafas panjang “Tapi, ana nggak mau  menerima pemberian Mbak Farah dengan cuma-cuma. Ana malu, Mbak! Lebih baik Mbak Farah memberikan pekerjaan kepada ana. Dari pada ana harus berdiam diri, meminta pertolongan Mbak  Farah terus menerus! Atau ana bisa menjadi seorang pembantunya Mbak Farah. Ana siap!” Ucapnya terbata-bata.

Aku tersenyum. Sebuah kesalahan besar, jika seorang Muslim hanya mendapatkan harta tanpa bekerja. Karena itu akan merendahkan kemuslimannya. Aku bertambah salut  dengan  Dewi.  Memang  benar-benar  seorang  adik  yang  memegang  izzah! Pikirku. “Baik kalau begitu! Ana akan memberikan pekerjaan buat anti. Tapi bukan menjadi pembantu ana!” Kataku sambil senyum.

Dewi tersenyum puas. “Ana siap bekerja, apapun yang Mbak Farah perintahkan. Ana akan menurutinya! Apa pekerjaan ana, Mbak?” Dewi terlihat sangat antusias sekali.


“Mudah, anti tinggal menjadi pembantunya pembantu ana! Gimana?”

Mata Dewi terbelalak. Seakan tidak percaya dengan ucapanku. Bibirnya terlihat berat untuk berkata. Saat dia akan berkata.

“Hehhehe... afwan ana bercanda! Nggak mungkinlah, seorang akhwat yang cantik jadi pembantunya  pembantu ana! Insya Allah, ada beberapa perusahaan ana yang akan membutuhkan seorang akhwat  yang brilian dalam bekerja. Dan istiqomah tentunya. Apalagi yang siap berdakwah dalam perusahaan. Dan masih tetap bisa kuliah!”

Dewi kembali tersenyum. “Mbak Farah bisa aja! Ana kaget, tapi sebenarnya ana siap aja  jadi   pembantunya  pembantu  Mbak  Farah.  Asal  pembantunya  Mbak  Farah mengijinkan ana kuliah!” Ucapnya dengan lugu dan polos.

Aku jadi  teringat  saat  pertama  kali  Dewi  masuk  Rohis.  Seorang  anak  direktur perusahaan  yang baru beranjak dewasa. Apapun kegiatan dia ikuti. Sampai-sampai kegiatan ngeceng di mall  pun  dia ikuti. Lucu. Dia tidak mengetahui hukum-hukum Islam secara benar. Tetapi semangatnya benar-benar kuat. Dia pernah berkata, bahwa saat masih SMP dulu. Dia tidak boleh mengikuti kegiatan apapun. Jika sudah pulang sekolah,  dia  harus  langsung  pulang  tepat  waktu.  Tidak   boleh  kemana-mana. “Bagaimana bisa kemana-mana Mbak! Setiap hari diantar supir. Kalau telat sedikit, langsung supir diomelin sama Mama. Makanya supir nggak berani nuruti kemauan yang aku  minta!” itulah curhat pertama Dewi kepadaku. Hingga akhirnya, saat dia beranjak dewasa. Apapun ingin diikutinya. Alhamdulillah, setelah bergabung dengan anak-anak ROHIS. Dia lebih cenderung untuk mengikutinya, meskipun Dewi masih sering pergi konkow-konkow di mall. Tetapi lama kelamaan, dia mengetahui sendiri. Bahwa anak-anak ROHIS punya jiwa pembeda dengan yang lainnya. Dan mempunyai jiwa, lebih damai ketimbang dengan yang lainnya.

Masih  banyak  Dewi-Dewi  yang  lainnya.  Yang  tidak  mengetahui  dengan benar. Antara kebaikan, keburukan dan kesamaran dengan keduanya. Masih banyak Dewi-Dewi yang lainnya. Yang mereka tidak mengetahui perbuatannya. Entah salah, entah benar. Yang penting adalah kesenangan. Karena lepas dari jeratan penjara yang mengekang  mereka.  Beruntunglah  Dewi  yang  satu  ini,  karena  dia  berada  pada naungan kebaikan. Tetapi apakah Dewi-Dewi yang lainnya, seberuntung Dewi yang ini? Entahlah, semoga para aktivis dakwah tidak dengan mudah mengklaim kebenaran pada diri mereka masing-masing. Atau bahkan mengklaim paling baik dan paling sholeh  ketimbang  Dewi.  Atau  mengira,  Dewi  memang  dilahirkan  untuk  menjadi setan! Bagi para aktivis dakwah. Renungkanlah!

Aku menatap Dewi, dalam-dalam. Aku penuhi matanya dengan jiwa kasih sayang seorang saudara. Dengan nada pelan dan lembut, aku katakan. “Ukhti, sesungguhnya ana sangat menyayangi anti! Ana tidak akan setega itu.”

Binar matanya kembali terang. Kini mata binar itu kembali. Cerah sekali. Setetes bulir air mata kebahagiaan membasahi. Terang itu kembali datang, mengisi semua rongga kebahagiaan dirinya.  Entah apa yang diucap dalam bibirnya, seraya dia menyebut- nyebut  nama  Tuhannya.  Seraya  dia   menyebut  nama  Sang  Maha  Suci  Allah. Mengucapkan  rasa  syukur  yang  teramat  dalam.   Mengucapkan  kebesaran  nama

Tuhannya.  Dan  selalu  melafalkan  kalimat  ketauhidan  yang  teramat  dalam.  Tak sebarapa lama, Dewi langsung memelukku. Pelukan seorang adik yang menyayangi kakaknya. Pelukan seorang saudara yang begitu mencintainya. Subhanallah.

“Terima  kasih,  Mbak  Farah!”  Itulah  ucapan  lirih  yang  terlantun  dalam  bibir merahnya.

Aku tetap  memeluknya.  Pelukan  seorang  wanita  yang  merindukan  seorang  adik. Pelukan  seorang  akhwat  kepada  saudaranya.  Pelukan  seorang  wanita,  yang  ingin membahagiakan Ukhtinya. Aku, akan tetap menjagamu. Adikku!

***

“Mbak, gimana kuliahnya!” Tanya Dewi. Disela-sela pagi, sesudah sholat subuh. “Alhamdulillah baik. Tinggal sidangnya aja, sekarang!”
“Kabar-kabarnya. LDK kampus Mbak sekarang, lagi ngerencanain setrategi dakwah baru yah Mbak!”

“Iya, nih. Aktivis Dakwah Kampus ana, sekarang lagi mulai bersosialisasi dengan para mahasiswa ammah! Biar nggak terkesan ekslusive, gitu!”

“Hem, benar Mbak. Ana aja, kadang malas melihat para Aktivis Dakwah Kampus. Yang terkesan menjauhi para mahasiswa ammah! Padahal mereka kan objek dakwah juga!”

“Nah,  makanya   itu!   Dakwah   bukan   berarti   mengasingkan   diri.   Karena   kita mempunyai  objek dakwah yang pasti, yaitu orang dekat sekeliling kita. Maka, kita dilarang untuk menghindari mereka! Kalau kita menghindari mereka, sama saja kita menghindari objek dakwah!” Ujarku.

“Iya, Mbak! Oh iya, Mbak. Kapan nih, bersiap melangkah untuk menggenapkan Dien kita?” Ucap Dewi menggoda.

“Hem, Anti ini apa-apaan sich! Mana ada sih Ikhwan yang mau sama ana?”

“Yee... Mbak Farah gimana sih! Nggak ada, lagi. Maksudnya nggak ada yang akan menolak menjadikan istri Mbak Farah! Mana ada sih, seorang ikhwan yang menolak Akhwat sesempurna Mbak Farah!” Ucap Dewi, genit.

“Ih, anti genit banget!”

“Biarin, ana genitnya kan sama kakak sendiri!” Ujarnya sambil tersenyum centil plus manjanya.

Yaa Allah. Terima kasih, Engkau memberikan adik kepadaku. Adik yang selalu dapat menghiburku. Adik yang selama ini hanya menjadi khayalanku. Sungguh, Yaa Allah. Aku sangat berterima kasih kepada-Mu. Aku akan benar-benar menjaganya. Menjaga seperti kakak yang tidak akan mau melihat adiknya terluka atau pun dilukai.


“Mbak.... Mbak Farah! Ih kok melamun sih!” Suara Dewi mengejutkanku.
“Nggak, ana hanya mengingat-ingat. Nanti ada kegiatan apa nggak!” Ujarku

“Ih, Mbak  Farah.  Ngeles  aja!  Oh,  iya  Mbak.  Mas  Khalid  itu  siapa  yah!”  Dewi melirikku dengan matanya yang genit. Kegenitan seorang adik.

DEG. Jantungku serasa berhenti. Nama itu disebut lagi. Entah kenapa, setiap kali ada yang menyebut nama itu. Jantungku berdebar-debar. Astaghfirllah.
“Anti, tahu darimana Akhi Khalid!” Ucapku terlihat kaget. “Yee... berarti benar yah!”
“Bener, apanya? Anti jangan berfikiran yang bukan-bukan loh!”

“Berarti benar, Mas Khalid akan jadi Kakak laki-laki ana! Mas Khalid akan jadi suami Mbak Farah! Hihihihi...”

“Anti...” langsung saja, aku memukulkan bantal busa kearah Dewi.

Akhirnya, kami pun perang bantal. Seiring dengan tawa kebahagiaan bersama. Tawa yang   tidak   menjadikan   rendah   martabat   seorang   wanita.   Tawa   yang   bukan memekikkan telinga.  Apalagi,  bukan tawa yang membuat orang ketakutan. Tawa yang dikira orang kerasukan.

Pesan: =========================================================== Hanya itu yang dapat kami tulis untuk potingan artikel ini, bila pengujung semua menyukai ini silahkan tinggalkan komentar anda.... Salam Hangat By Iwan Kurniawan ===========================================================


0 komentar

Posting Komentar

Cancel Reply