Sabtu, 23 Oktober 2010

Aku Menggugat Akhwat dan Ikhwan Jilid 5

JILID 5
Dewi sudah kembali pulang. Keceriaannya sudah kembali datang. Sinar redup matanya pun  telah sirnah. Insya Allah, Dewi sudah bisa bekerja diperusahaan Abi. Minggu  depan.  Tetapi,  Dewi  tetaplah  Dewi.  Seorang  akhwat,  yang  harus  tetap menyelesaikan  kuliahnya.  Seorang  akhwat,  yang  harus  tetap  beraktivitas  dengan dakwahnya.  Tidaklah  aku  akan  senang.  Jika  pekerjaan  yang  aku  berikan,  malah menghambat aktivitasnya. Apalagi aktivitas dakwahnya.

“Tluutt...Tliiuut...” Suara Hpku. Saat aku lihat di LCD Hpku. Nomer Hpnya siap yah? Kok nggak tertera di LCD!

Dengan cepat aku tekan tombol call. “Halo, Assalamualaikum!” “Iya, Selamat pagi! Ini Mbak Farah Zahrani?” Ucap si penelepon.
Hem kok nggak jawab salamku sih! Pikirku dongkol. “Iya, ini Farah Zahrani! Ini siapa yah?”

“Saya pernah membaca artikel Mbak Farah Zahrani, disalah satu buletin kampus! Saya tertarik untuk mendiskusikannya. Bisa Mbak?”

“Oh, iya bisa! Kapan?”

“Kalau nanti jam satu siang, gimana?” “Insya Allah, bisa. Dimana?”
“Kita ketemu di Aneka Kafe!”
“Ok. Bisa! Aku nanti tak kesana. Oh, iya. Nama Mbak siapa?” Tanyaku penasaran. “Aku, tunggu  disana! Terima kasih. Namaku Nova!” Ucapnya, sembari langsung
menutup telphonennya.

Nova! Sepertinya aku mengenal nama itu. Apakah benar, dia? Aku terkejut, saat tak lama Hpku berdering kembali.

“Tluut....tliuutt” Dewi!

“Hallo, Assalamualaikum. Ukh!” Ucapku setelah memencet tombol call. “Wa..laikumsalam. Mbak....!” Ucapan Dewi terlihat gugup dan bingung. “Ada apa, Ukh?”
“Mbak... rumah ana. Rumah ana dibobol orang... semua barang diobrak-abrik. Surti, pembantu ana. Diikat, dikamar mandi. Mbak... ana bingung!” Dewi terdengar sangat panik.


“Tenang.... Istighfar. Ukh! Sudah menelephon polisi?” Aku sangat khawatir. “Be..lum, Mbak! Ana takut...”
“Nggak usah takut! Sekarang, anti telephon polisi!” “Ta..pi Mbak! Pembobol rumah itu mengancam.”
“Nggak usah takut. Pokoknya, sekarang anti telephon polisi! Ana kesana sekarang.” “i....ya Mbak! Ana akan telephone sekarang.”
“KLIK”

Ya Allah, kuatkan saudaraku. Kuatkan seorang mujahidahmu! Ya Allah. Aku tahu, bahwa pastilah ini cobaanmu kepadaku juga. Aku sadar, bahwa engkau memberikan cobaan kepadaku. Cobaan untuk lebih peduli lagi kepada saudara seiman.

Secepatnya aku berkemas. Dan langsung mengambil kunci mercedezku. Ini genting! Tak  lama, aku sudah berada dikursi empuk mercerdez. Sesegera mungkin, aku lansung meluncur  kerumah  Dewi. Gundah sekali suasana hati. Bahkan mobil mewah  yang  aku  kendarai,  tetap  tidak  bisa  menentramkan  hati.  Rasa  asa  yang berkecambuk dalam hati. Semakin membesar  dalam  diri. Pedal gas, seakan ingin melaju  dalam  kecepatan  yang  tak  wajar.  Melaju  dalam   kecepatan  tinggi  yang melanggar. Tapi, aku tetap harus bisa mengontrol diri. Tidaklah seorang  muslim, terburu-buru dalam sebuah tindakan. Karena terburu-buru adalah tindakan syetan. Tidaklah  seorang  muslim,  berlebih-lebihan  dari  kecepatan  yang  telah  ditentukan untuk kemaslahatan. Kecuali seorang yang selalu melanggar dalam kehidupan. Mobil ini  memang  bagus,   memang  cepat  dan  nyaman.  Tetapi,  tidaklah  seharusnya membuatku lupa dengan kemaslahatan.

Kecepatan mobilku, harus tetap sedang. Sedang, sesuai dengan peraturan yang tertera   dalam  berlalu-lintas.  Meskipun  aku,  dalam  naungan  nafsu  untuk  dapat mempercepat laju kendaraanku. Deru laju mobil, begitu sangat nyaman. Tidak seperti, angkot yang biasa aku tumpangi. Memang beda. Beda memang, saat menaiki angkot. Aku merasa lebih leluasa sebagai seorang  hamba  Allah yang zuhud. Tetapi, saat marcedes ini aku kendarai. Kadang ujub dan takkabur  sering  muncul berbarengan. Aku takut, menjadi teman mereka. Teman-teman ujub dan takkabur apalagi riya’.

Tak lama, perumahan citra asri kencana sudah terlihat. Tinggal berbelok dan beberapa blok  lagi, aku sudah sampai dirumah Dewi. Marcedes ini, melaju dengan nyaman diperumahan ini. Beberapa kali, seorang melihatku. Entahlah, kenapa. Orang- orang  cina  yang  keluar  dari  rumahnya,  menatapku  dengan  agak  heran.  Menatap, seorang berjilbab mengendarai mobil mewah. Mungkin.

Terlihat banyak sekali orang-orang disalah satu rumah. Ya, itu rumah Dewi. Beberapa mobil polisi, sudah terlihat disekitar rumah itu. Alhamdulillah, polisi lebih dahulu sampai. Tidak seperti difilm-film! Polisi, dikesankan selalu datang terlambat. Tapi, ya memang terlambat sih!



***

“Mbak Farah....!” Dewi berlari memelukku. Saat aku baru turun dari mobil. “Ukhti. Anti tidak apa-apa kan!” Tanyaku, khawatir.
Dewi menggelengkan kepalanya. Isakan tangisnya masih terasa. “Istighfar, ya Ukh!”
Sejenak  Dewi  menghela  nafas  panjang.  Mencoba  untuk  menenangkan  dirinya. Bisikan lirih terdengar dimulutnya. “Astagfirllah.” Derai air matanya, tetap mengalir seiring isak tangis yang tiada henti.

“Ukhti, sabar! Allah sedang menguji anti.”

“Mbak! Coba,  Mbak  masuk  kedalam.  Lihat  tulisan  yang  ada  di  diding.”  Dewi langsung   menarik  tanganku,  mengajak  masuk  kedalam.  Memperlihatkan  tulisan ancaman itu.

“BERIKAN DATA-DATA ITU, ATAU KALIAN SEKELUARGA MATI. JANGAN SEKALI-KALI MELAPOR KEPOLISI” Tulisan yang terpampang di dinding ruang tamu.

Aku langsung memeluk Dewi. “Ukhti, bersabar yah! Jangan takut dengan ancaman- ancaman mereka. Insya Allah, polisi dapat menangani kasus ini!”

Tak lama, muncul seseorang polisi. AKBP Sumarta. Aku kenal beliau. Seorang polisi, yang pernah  menangani kasus pembunuhan anak seorang karyawan perusahaannya Abi.

“Maaf, kami tidak menemukan sidik jari apapun disini! Motifnya, kemungkinan balas dendam! Kami masih dalam penyelidikan.” Seru AKBP Sumarta.
“Apakah memang, tidak ada bukti atau jejak yang terlihat Pak!” Tanyaku penasaran. “Hem,  kami  hanya  menemukan  beberapa  sapu  tangan.  Dan,  ada  setetes  darah.
Kelihatannya,  darah  ini  milik  para  pelaku.  Yang  mungkin  tidak  sengaja,  terkena pecahan kaca! Kami akan memeriksanya di LABFOR.”

Aku dan Dewi hanya mengangguk.

“Loh, kamu kan putrinya Pak Hanafi!” Ucap AKBP Sumarta. Aku tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Hem. Insya Allah, saya akan berusaha sebaik-baiknya menangani kasus ini!” Ucap
AKBP Sumarta, mantap.


“Iya, Pak! Saya percaya dengan Pak Sumarta. Saya hanya memberitahukan. Bahwa sesungguhnya,  Papanya  Dewi.  Sedang  dituduh  kasus  korupsi  oleh  perusahannya. Padahal, Papa teman saya ini  malah mengetahui beberapa orang yang tersangkut kasus  korupsi  diperusahaan  itu!  Tetapi,  malahan.  Yang  dituduh  korupsi  adalah Papanya Dewi! Hingga akhirnya, Papanya Dewi masuk rumah sakit. Karena penyakit jantung.” Jelasku. Kepada AKBP Sumarta.

“Hem. Memang, kasus korupsi dimana-mana sangat rumit! Dan sangat sulit untuk diberantas.  Mungkin  karena  kita  memang  membudayakan  korupsi.  Jadi  korupsi akhirnya  budaya  kita!  Dalam  bahasa  kerennya,  membudayakan  korupsi  menjadi budaya” Ucap AKBP Sumarta, sambil  tersenyum ramah. “Kami memang sedang menangani kasus korupsi, Bapak Rosyidin. Tetapi  memang, ada kejanggalan dalam setiap data-data yang diberikan oleh perusahaan Bapak Rosyidin! Terlihat, data-data itu tidak singkron dengan data-data yang lainnya! Saya sebenarnya, bukan mencurigai Bapak  Rosyidin.  Tetapi  malah  mencurigai,  orang-orang  yang  melaporkan  kasus korupsi Bapak Rosyidin! Sangat begitu ganjil. Laporan-laporan data, yang diberikan kepada  kita   untuk  proses  BAP.  Begitu  tidak  realistis  dengan  jumlah  nominal pengeluaran  uangnya!  Malah   terkesan,  berkas  itu  asal  dibuat  saja.  Dan,  ada kemungkinan berkas itu palsu! Tetapi, tidak disangka. Malah, rumah Bapak Rosyidin dibobol orang. Ini malah, menjadi sebuah pertanyaan besar bagi kami! Apakah benar, Bapak Rosyidin terlibat korupsi diperusahaannya? Insya Allah, tim dari  kepolisian. Akan  serius  menangani  kasus  ini!  Dan  kami,  akan  melindungi  keluarga  Bapak Rosyidin. Dengan cara, menempatkan beberapa personil disini. Insya Allah, akan aman!”

Alhamdulillah. Seandainya, semua polisi seperti AKBP Sumarta. Pasti, citra polisi akan sangat baik.

“Kami berdua, sangat berterima kasih kepada Bapak!” Kataku.

“Itu memang tugas kita. Dan setiap orang baik, harus mendapatkan kebaikan pula. Saya  yakin,  Insya  Allah.  Semuanya  akan  berakhir  dengan  jelas!  Dan  tentunya, semoga tidak ada korban.”

Aku dan Dewi hanya mengangguk. Memasrahkan diri kepada Allah.

“Akan saya  perintahkan  anak  buah  saya.  Untuk  menjaga  rumah  ini!  Dan  juga, menjaga kamar  Bapak Rosyad yang di rumah sakit. Insya Allah, tidak akan terjadi apa-apa!”

“Iya pak, Insya Allah!” Ucap Dewi, sembari menahan isak tangisnya.

“Baik, kalau gitu saya permisi dulu! Beberapa anggota saya, masih akan tetap berada disini. Sambil memeriksa beberapa barang-barang yang bisa dijadikan bukti lain.”

“Silakan, Pak! Terima kasih” Ucap Dewi.

Sambil tersenyum, AKBP Sumarta mengucap salam “Assalamualaikum!” Setelah itu pergi meninggalkan kami berdua.


“Walaikumsalam” jawab kami bersamaan.

“Sekarang, anti gimana? Anti mau tinggal dirumah ana atau bagaimana?” Tanyaku

Dewi masih terlihat bingung.

“Kayaknya, anti sebaiknya tinggal di rumah ana dahulu!” Pintaku.

“Hem, Mbak. Lebih baik ana tinggal di rumah nenek aja! Itung-itung biar nenek nggak sendirian.”

“Oh, iya! Ana antar, anti kesana!” “Ana nggak ngerepotin Mbak kan?” “Nggak, kok! Kapan berangkat?” “Sekarang, gimana Mbak?” Pintanya. “Ok. Ayo kita berangkat!” Ajakku.
“Tunggu    sebentar    Mbak!”    Dewi    mendatangi    pembatunya.    Entah    apa    yang dibicarakannya.  Setelah  itu,  Dewi  langsung  menghampiriku.  “Baik  Mbak.  Kita berangkat sekarang!”

“Loh, Surti nggak diajak?” Tanyaku bingung.

“Nggak Mbak, biar Surti dirumah! Sambil nunggu Ijah. Pembantuku yang satunya. Ijah lagi pulang kampung. Kasihan dia, kalau nanti pulang dirumah nggak ada orang! Ya, itung-itung juga buatin kopi dan teh para polisi yang bertugas menjaga rumah ini! Kasihan kan, kalau sudah bertugas tetapi nggak ada camilan buat makan!”

“Iya, bener. Asalkan jangan diwajibkan aja! Biar camilannya nggak berupa uang. Nanti bisa dikatakan Bid’ah itu!” Ujarku, sambil tersenyum.

Dewi hanya tersenyum.

“Ok, kita berangkat sekarang!” Ajakku, dengan langsung menarik tangan Dewi.

***

Beberapa kali, Dewi terisak dalam tangisan yang tak kunjung mereda. Cobaan yang   mungkin  berat  baginya.  Ironis  memang,  seorang  yang  memperjuangkan kebenaran.  Malah  mendapatkan  bertubi-tubi  fitnah  yang  menerpa.  Mungkin,  ini memang sunnatullah. Dimana ada sebuah kebaikan, maka disitupun akan ada sebuah keburukan pula. Marcedesku tetap melaju dalam  kecepatan yang stabil. Automatic diver, menjadi pilihanku disaat mengendarai mobil dengan suasana yang tidak begitu menyenangkan. Deru dalam haru, masih kami rasakan. Rasa takut, masih terlihat dari wajah cantik sang Dewi. Berjalan dalam setiap keramaian yang tidak begitu sibuk.

Jalan-jalan yang  tidak  dalam  kemacetan.  Menyenangkan  sebenarnya,  hanya  saja. Kami datang dengan kondisi hati yang tidak menyenangkan.

Melaju, dalam  setiap  deru  haru  yang  menderu.  Kami  melaju  terus  dalam kebisingan  lalu-lalang mobil dan motor yang tidak henti. Mereka melaju, bagaikan tidak akan pernah berhenti dalam satu titik yang pasti. Tapi, aku merasakan ada yang aneh dengan perjalanan kami. Aku merasa, ada sebuah mobil. Yang sedari tadi, terus mengikuti  kami.  Entah  benar  atau  tidak.  Dalam  sebuah  persimpangan  jalan,  aku membelokkan mobilku. Mencoba untuk lebih mengetahui, apakah benar  memang mereka mengikuti kami. Dari kaca spion mobil, aku masih melihat mereka pun ikut berbelok  arah.  Mengikuti  arah  berbelokku.  Aku  mencoba  untuk  memelankan mobilku. Ternyata,  mereka pun tidak mencoba untuk mendahului kami.

Hem, siapa mereka! Gumamku.

“Mbak, ada apa?” Dewi terlihat bingung dengan sikapku. “Ada mobil Jeep, yang sedari tadi mengikuti kita!”
Saat Dewi akan menoleh,

“UKHTI! Jangan menoleh kebelakang.” Bentakku.

Dewi  dengan  cepat  memalingkan  wajahnya  kedepan.  Saat  ia  akan  menengok kebelakang melihat mobil Jeep itu.

“Afwan, Ukh! Ana tidak bermaksud membentak anti. Hanya saja, biar mereka tidak mengetahui. Kalau kita sudah mengetahui, mereka mengikuti kita!”

“Iya Mbak. Afwan!” Ucap Dewi. Terlihat panik.

“Ukh, anti nggak usah panik! Ana akan mencoba untuk berhenti. Apakah mereka akan    berhenti    juga?”    Dengan    memperlambat    kecepatan    mobilku.    Aku memberhentikan  mobilku  disalah  satu  pedagang  kaki  lima.  Berpura-pura,  akan membeli minuman ringan.

Sejenak,  mereka   terlihat   akan   berhenti.   Tetapi   akhirnya,   mereka   pun meneruskan perjalanannya. Mendahuluiku, yang sedang berhenti membeli minuman ringan. Aku tetap memperhatikan, saat-saat Jeep itu mendahuluiku. Tentunya, dengan hanya  melirikkan  mataku.  Agar  mereka  tidak  curiga,  kalau  kami  berdua  sudah mempergoki mereka. Saat mereka sedang membuntuti kami.

Sejenak aku  dan  Dewi  bernafas  lega.  Karena  Jeep  itu  sudah  berlalu  dari hadapan  kami.  Setelah  itu,  kami  melanjutkan  perjalanan  kembali.  Saat  beberapa meter, kami melihat Jeep itu lagi. Mereka berhenti disalah satu pedagang kaki lima. Saat kami mendahului mereka. Terlihat dari kaca spion. Mereka dengan cepat masuk kedalam Jeep itu. Aku percepat laju mobilku. Mencoba untuk menghindari mereka. Sekilas, kami melihat di kaca spion. Mereka tidak terlihat lagi. Degup  jantungku, berdetak cepat. Seiring dengan laju marcedes ini yang melesat cepat. Pedal gas tetap aku tekan lebih dalam. Untuk lebih mempercepat lajunya. Beberap kali, aku melihat

di kaca spion. Mereka tetap tidak terlihat lagi. Dewi, masih terlihat panik. Terlihat dari    mulutnya,    terus    menungucapkan    lafadz-Nya.    Mencoba    untuk    meminta pertolongan kepada-Nya. Sebenarnya, jantungku pun berdetak dengan cepat. Rasa takut yang teramat sangat sedang melanda dalam relung jiwa kami berdua. Tetapi, aku harus tetap bisa bersikap tegar. Agar Dewi, tidak lebih menjadi semakin takut. Karena melihatku, ketakutan.

“CIIIITT......!”

Tak aku duga. Jeep itu langsung memotongku dari tikungan yang sedang aku lewati. Secera  cepat, Jeep itu langsung memotong jalan. Tepat berada di depanku. Aku pun langsung spontan menginjak rem. Seketika itu, dua orang langsung meloncat dari mobil Jeep itu.

“KELUAR KALIAN. CEPAT!” Teriak mereka. Sambil menodongkan pistol kearah kami.

Ya Allah! Tolong kami. Aku masih tertegun dengan kejadian ini. “BRENGSEK. KELUAR KALIAN, CEPAT!” Teriaknya lagi.
Dengan tergagap, aku melihat Dewi. Dewi terlihat sangat shock. Tidak ada kata apapun yang  keluar dimulutnya. Yang ada hanya, tatapan mata yang begitu sangat ketakutan.

Aku langsung memegang tangan Dewi. “Ukhti. Kita keluar! Kita layani apa mau mereka! Allah bersama kita”

Dewi melihatku dengan tatapan yang sangat takut.

Aku menatapnya. Tatapan kekuatan seorang saudara. Aku genggam erat tangannya. “Percayalah Ukhti! Allah bersama kita.” Ucapku, lirih.

Aku buka pintu mobil. Dengan langkah pelan, aku mendekati mereka. Seorang yang berjaket Levis, tersenyum. Tak pelak pun, pistol mengarah tepat dikepalaku.

“HAI!    Kami    sudah    bilang.    Jangan    bawa-bawa    polisi    segala.    Kami    hanya menginginkan data-data itu kalian serahkan!” Ucapnya.

Aku hanya  bisa  memandanginya.  Hanya  istighfar  yang  terucap  dalam  benakku. Tetapi, saat  aku  mamandang seorang pemuda yang berada di mobil Jeep itu. Aku merasa  pernah  bertemu  denganya.  Tatapanku,  kini  beralih  kepada  pemuda  itu. Pemuda  itu  pun,  terlihat  mengenalku.  Dia  merasa  heran,  tatapannya  pun  seperti merasa serba salah. Aku yakin. Aku mengenalnya. Tapi, entah dimana.

“HAI! Sudah ayo cabut sekarang.” Ucap pemuda didalam mobil itu. Terlihat sangat salah tingkah sekali.

“INGAT! Serahkan  data-data  itu  nanti  pada  kami.  Atau  kalian  akan  merasakan akibatnya!” Ucap seorang yang berjaket Levis itu. Sambil tetap menodongkan pistol kearah kepalaku. Setelah itu beranjak pergi.

Jeep itu sudah meninggalkan kami berdua. Dewi, hanya berdiri disamping mobil.   Tatapannya  nanar.  Terlihat  sangat  shock  sekali.  Segera  mungkin,  aku mendatanginya. Dan  langsung memeluknya. Beberapa orang yang melihat, hanya diam saja. Orang-orang itu tidak mau menolongku. Mereka takut dengan pistol para penjahat-penjahat itu.

“Ukhti, Istighfar!”  ucapku.  Masya  Allah,  sungguh  kami  merasakan  cobaan  yang sangat  berat.  Tapi  aku  yakin,  Engkau  memberikan  cobaan  ini.  Karena  engkau menyayangi kami!

Isak tangis  yang  semula  mereda.  Kini  terbias  dalam tatapan  kosong  yang terlihat. Bening kristal, yang semula tertahan. Kini pun, telah berjatuhan.

“Hiks.... Mmbak..!  Afwan,  ana  tidak  bisa  sekuat  Mbak  Farah.  Afwan  Mbak.  Ini masalah ana, tapi Mbak Farah juga kena dampaknya. Afwan Mbak! “

“Nggak, ini masalah ana juga! Anti adalah saudara ana. Maka sudah seharusnya sesama  saudara  menanggung  kesulitan  saudara  yang  lainnya.  Tenang  Ukh,  kita pasrahkan kepada Allah!” Ucapku. Dengan memeluk tubuh Dewi, dan mengelus-elus punggungnya. “Sudah. Sekarang, kita masuk mobil.” Ajakku dengan lembut.

Astaghfirllah. Alhamdulillah, Allah masih memberikan perlindungannya!    Ucapku dalam hati, sambil mengelus dada. Hanya ditodongkan pistol dikepala. Aku sudah sangat   berkeringat   dingin.   Lalu,   bagaimana   dengan   mujahidah-mujahidah   di Palestina, di Afganistan,  Kosovo, Irak! Masya Allah, Imanku ternyata sangat tipis. Tipis  sekali.  Aku  mengira,  bahwa  perjuanganku  adalah  bukti  dari  keimananku! Ternyata  aku  salah.  Aku  sudah  merasa  takut   dengan  penjahat-penjahat  itu. Bagaimana jika aku berhadapan dengan para serdadu syetan yang  bernama Israel itu?  Apakah  aku  akan  lebih  takut  lagi?  Ya  Allah,  kuatkan  imanku.  Sekuat  para mujahidah-mujahidahmu.  Sekuat  para  ummahat  palestina  yang  berjuang  digaris depan. Sekuat  para martir-Mu. Sekuat para syuhada-syuhada yang sudah berada disurgamu. Ya Allah, kuatkan aku.  Tak terasa, tetesan air mataku pun mengalir.

“Mbak... Mbak menangis?” Tanya Dewi. Merasa bersalah. “Afwan, Mbak. Ana telah melibatkan Mbak Farah dalam masalah ana!”

“Ukhti.  Ana  bukan  menangis  karena  sudah  terlibat  dengan  masalah  anti!  Ana menangis. Karena ternyata keimanan ana sangat tipis dan rapuh. Hanya ditodongkan pistol dikepala. Ana sudah  sangat takut! Ana, hanya berfikir. Bagaimana saudara- saudara  kita  yang  berada  di  Palestina.  Ana  rasa,  bukan  todongan  yang  mereka dapatkan. Tetapi, peluru adalah bagian dari makanan mereka sehari-hari. Bom adalah penyedap bagi bumbu-bumbu para martir Allah. Iman ana sangat lemah!”

“Mbak... Mbak Farah sangat berani! Disaat Ana ketakutan. Mbak Farah, malah datang dengan  keberanian  menghadapi  mereka!  Ana  malu,  ana  malu  dengan  keberanian

Mbak Farah!  Mbak,  ajarkan  keberanian  itu  kepana  ana.”  Isak  tangis  Dewi  pun kembali.

Mobil pun  melaju  dalam  setiap  aspal  yang  tertanam  dijalanan.  Tubuhku,  masih merasakan  gemetar yang tidak bisa ditahan. Tanganku serasa sangat lemas untuk digerak-gerakkan. Dan  tubuhku pun terasa sangat lemah. Serasa, tenagaku terkuras habis. Mataku, menatap kedepan. Menatap, dengan tatapan yang kosong tapi terarah. Tatapan seorang yang penuh dengan fikir tiada henti.

***

“Ukh, mendingan kita makan dulu yah!” Usulku. Karena aku benar-benar lemas. Dewi hanya mengangguk. Terlihat mengerti.
Dengan cepat  aku  langsung  memenggokkan  marcedesku  disebuah  rumah  makan. Rumah makan  yang asri. Pohon mangga yang menjuntai rimbun. Membuat terlihat samakin nyaman. Dan tepat  didepan, terdapat tulisan “SEDIA SATE KAMBING” Rumah makan ini tidak terlalu ramai, tapi juga tidak terlalu sepi.

Hem, ini yang akan memberikan staminaku kembali. Aku masih teringat, saat Ummi setiap kali jika  aku sedang kecapean. Langsung saja, sate kambing sudah berada di meja  makan.  Kata  Ummi,  daging  kambing  lebih  bagus  dalam pemulihan  tenaga. Mungkin karena Ummi keturunan Arab, jadi lebih senang makan daging kambing.

“Anti pesan apa, Ukh?” Tanyaku.

Dewi tersenyum. Wajah cantiknya, kini bisa tersenyum kembali. “Mbak, ana terserah anti!”

“Ok. Kita pesan sate kambing saja! Tidak pake nasi.” Tawarku. “Tafadhol. Ana angka ikut aja deh!” Ucap Dewi sambil tersenyum.
Tak lama datang seorang wanita separuh baya. “Mau makan apa, Mbak?” Tanyanya ramah.

“Sate kambing, dua Bu! Tidak nggak pake nasi. Minumnya es jeruk aja Bu! Dua.” Ucapku.

Ibu itu mengangguk sambil tersenyum. Setelah itu, kebelakang. Tak lama, Ibu itu sudah membawa  beberapa sate kambing. Dan menaruh, sate kambing dimeja kami berdua. Sambil mempersilahkan makan, dengan ramah.

Hem, ini yang aku tunggu. Sate kambing. Insya Allah, pasti enak. Gumamku dalam hati. “Ayo, Ukh! Sate ini, akan menambah energi kita lagi. Biar kuat, biar bisa hadapi para penjahat itu” ucapku dengan senyum.

“Mbak. Entah, apa jadinya jika Mbak Farah tidak ada disini. Pasti ana sangat shock sekali. Mbak, ana sangat beruntung. Mempunyai saudara seperti Mbak Farah!”


“Ah, anti jangan melebih-lebihkan! Biasanya, kalau Ali ra. Dipuji, maka beliau akan meleparkan terompanya!” Gurauku.

“Iya! Kalau Mbak Farah. Melemparkan satenya! Hihihi...” “Yee... kalau ana sih. Melemparkan tusuk sate! Hehehe...” “Mbak. Terima kasih, untuk semuanya yah!”
Aku  hanya  tersenyum.  Setelah  itu,  kami  memakan  sate  dengan  sangat  lahap.
Bismillah.

***

Rumah   yang   ditanami   beberapa   pohon   buah-buahan.   Jambu,   mangga, rambutan. Sangat rimbun, dan terlihat sangat sejuk. Ya, itu adalah rumah neneknya Dewi.

“Kita, sudah sampai!” Ucapku. Saat mobil memasuki depan rumah.

Dewi memelukku.  “Mbak,  Syukron.  Ana  sudah  sangat  berhutang  banyak  kepada
Mbak Farah!”

“Ukhti. Sesungguhnya, apa yang ana lakukan. Hanya semata-mata untuk ridha Allah! Apalagi, anti adalah saudara ana. Jadi, tidak mungkin ana meninggalkan anti!”

“Syukron, Mbak Farah!”

“Afwan. Udah, anti turun. Kan udah sampai!” Ucapku, dengan senyum. “Iya, Mbak. Mbak Farah, nggak ikut turun?”
“Kayaknya ana punya janji dengan seseorang, deh Ukh!”

“Kalau gitu, ana duluan Mbak! Assalamualaikum.” Ucap Dewi, sambil membuka pintu mobil.

“Walaikumsalam” Jawabku, sambil melambaikan tangan. Dewi tersenyum sambil juga melambaikan tangannya.
Aku, punya janji dengan siapa yah? Kayaknya, aku memang punya janji dengan seseorang deh.  Siapa, yah? Hem. Aku lupa. Aku benar-benar lupa. Yang teringat hanya kejadian yang ada dijalan, sangat mendebarkan jantung. Debar jantung masih sangat terasa. Hingga akhirnya mematikan  sendi-sendi fikirku. Melupakan apapun yang telah aku rencanakan. Hanya mengalami peristiwa seperti itu. Aku sudah sangat kebingungan, hingga alam fikirku pun tidak dapat mengingat sesuatu yang sudah aku rencanakan. Lalu, apakah aku sanggup bertemu Rabb. Saat-saat sacratul maut, saat- saat para malaikat bertanya didalam alam kubur, saat-saat tiada lagi pengampunan.

Yang ada hanya, hari-hari pembalasan didunia. Yang baik, dibalas baik. Yang buruk dibalas buruk. Apakah aku akan ingat dengan semua yang akan aku rencanakan?

Mobil tetap berjalan dalam jalur aspal yang panjang. Hingga akhirnya Aku ingat, aku mempunyai janji untuk bertemu seseorang di Aneka Cafe!


Pesan: =========================================================== Hanya itu yang dapat kami tulis untuk potingan artikel ini, bila pengujung semua menyukai ini silahkan tinggalkan komentar anda.... Salam Hangat By Iwan Kurniawan ===========================================================


0 komentar

Posting Komentar

Cancel Reply