Senin, 25 Oktober 2010

Aku Menggugat Akhwat dan Ikhwan Jilid 6

JILID 6
Suasana cafe begitu ramai. Meja-meja sudah banyak yang terisi. Memang cafe ini paling  ramai ketimbang cafe-cefe yang lain. Untung saja, meja yang kutempati sudah dipesan sebelumnya.  Nova, si penelephone itu yang sudah memesan meja. Sehingga, aku hanya tinggal menempati saja. Entah kenapa, aku merasa asing disini. Suasana  hedon  begitu  terasa.  Beberapa  wanita  duduk  berduaan  dengan  laki-laki. Kebanyakan  meja-meja  terisi  dengan  kaum  muda-mudi  yang  sedang   dilandang asmara. Sayang sekali. Cinta akhirnya terpolarisasi dengan cinta yang semu dan palsu. Mereka terbuai dengan kekuatan cinta. Tetapi mereka tidak memahami cinta. Karena cinta mereka buat.
“Mbak, mau pesan apa?” ucap seorang pramusaji. Sambil menyodorkan daftar menu. Aku tidak  berniat makan. “Saya pesan jus alpukat dan kentang goreng aja Mbak!”
Kataku sambil menutup daftar menu. Setelah mencatat, pramusaji itu pergi.
Tetap, aku masih merasa asing. Tetapi, bukan berarti dakwah akan terhambat disini. Dakwah harus tetap berjalan. Bahkan ditempat pengasingan sekalipun.

Beberapa pasang  mata.  Selalu  melihatku.  Entah,  mungkin  mereka  merasa asing  juga  dengan  kehadiranku.  Atau  mungkin,  memang  cafe  ini  tidak  pernah didatangi wanita-wanita yang berjilbab sepertiku. Ya. Mana ada, akhwat yang mau ke cafe ini! Suasana hedonis yang terasa  sekali, membuat para akhwat-akhwat tidak akan bentah berada disini! Tetapi, apakah kita harus membiarkan terus begini. Cafe ini bukan Pub atau pun diskotik. Masih bisa untuk dijadikan tempat  mangkal para kader dakwah! Karena dakwah pun ada dimana-mana. Seperti halnya seorang Imam besar. Hasan Al Banna. Yang selalu berdakwah diwarung-warung kopi. Dan cafe adalah warung kopi modern! Jadi, cara berdakwah pun harus dimodernisasi. Tetapi tetap dalam koridor-koridor  yang syar’i. Terlihat seorang wanita berjalan menuju kearahku.  Yang  akhirnya  membangunkanku  dari  lamunan.  Kayaknya,  aku  kenal dengan wanita itu. Gumamku dalam hati.

Wanita itu  tersenyum.  “Maria  Nova!”  Ucapnya,  sambil  menyodorkan  tangannya untuk berjabat tangan.

“Oh, jadi kamu Nova!” Ucapku tersenyum. Nova hanya mengangguk.
“Kayaknya, aku kenal kamu?” Ucapku penuh tanya. “Iya, mungkin. Kamu memang kenal aku!” Jawabnya.
“Hem,  aku  ingat.  Kamu  ketua  UK3  (Unit  Kerohanian  Kristen  Katholik)  kan!” Tebakku.

Nova tersenyum, lalu mengangguk pelan. “Farah, maaf yah. Kita ketemunya ditempat yang seperti ini. Pasti kamu merasa asing!”

Aku tersenyum.  “Nggak  apa-apa  sih!  Tapi,  memang  aku  agak  terasing  disini.” Ucapku sambil tersenyum.

“Kalau gitu, kita keruangan khusus saja! Disana, tidak akan ada yang menganggu kita.” Ajak Nova.

“Ok.” Ucapku. Setelah itu, aku mengikuti Nova.

***



“Farah, aku tertarik dengan tulisan kamu! Ulasan dalam artikel kamu gamblang, jelas dan cukup meyakinkan. Hanya saja, aku perlu lebih intens berdiskusi dengan kamu. Tentang, tulisan-tulisan  yang kamu buat!” Nova seraya mengeluarkan kertas koran. Menunjukkan kepadaku.

“Oh, itu yah!”

“Aku  benar-benar  penasaran,  dengan  tulisan  kamu!  ‘Poligami  harkat  martabat tertinggi para wanita.’ Aku sangat tak percaya, saat membaca tulisan ini. Si penulis adalah seorang wanita. Penulis laki-laki bicara tentang poligami, itu biasa! Tetapi jika seorang wanita, bicara tentang poligami dan setuju dengan poligami. Itu luar biasa!” Ucap Nova, terlihat antusias.

“Jangan terlalu melebih-lebihkan! Lalu, apa yang ingin kamu tanyakan?”

“Farah, untuk saat ini. Aku ingin bertanya tentang hakekat wanita muslim dengan jilbab dan poligaminya.”

Hem, pertanyaan seperti ini selalu diulang-ulang! Nggak orang muslim, munafik, atau bahkan  kafir. Bosan sih untuk menjawab, tapi jika tidak dijawab akan malah menjadi benalu. Insya Allah, aku akan jawab. Bismillah.

“Baik. Sebelumnya aku akan menjawab masalah jilbab secara singkat. Jilbab dalam Islam,  diperintahkan  untuk  dipakai  oleh  wanita.  Hukumnya  wajib.  Seperti  dalam Qur’an surat Al-Ahzab 33. yang berbunyi ‘Hai nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak    perempuanmu    dan    istri    orang-orang    mukmin,    hendaklah    mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak  diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ Dalam hal ini, jilbab adalah pakaian yang memang harus dikenakan oleh wanita muslim. Untuk lebih mudah dikenal sebagai seorang muslimah! Dan merupakan pakaian pembeda antara wanita kafir dan wanita muslim.

Jilbab adalah pakaian merdeka kaum wanita muslim, untuk lebih menjadikan wanita muslim terhormat. Dengan menggunakan jilbab, seorang wanita lebih terbebas dari  pandangan-pandangan atau perilaku-perilaku pelecehan. Seperti dalam Qur’an

surat  An-Nur  30-31.  yang  berbunyi  ‘Katakanlah  kepada  orang  laki-laki  yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya yang  demikian  itu   adalah   lebih  suci  bagi  mereka,  sesungguhnya  Allah  Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada perempuan yang beriman hendaklah  mereka  menahan  pandangannya   dan  memelihara  kemaluannya  dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa tampak darinya. Dan  hendaklah  mereka  menutupkan  kain  kerudung  (Jilbab)  ke  dadanya,   dan janganlah  menampakkan  perhiasannya  kecuali  kepada  suami  mereka  atau  ayah mereka  ata  ayah suami mereka atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau saudara  laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau  putra-putra  saudara  perempuan  mereka,  atau  perempuan-perempuan  Islam, atau  budak-budak  yang  mereka  miliki,  atau  pelayan-pelayan  laki-laki  yang  tidak mempunyai  keinginan  terhadap  perempuan  atau  anak-anak  yang  belum  mengerti tentang  aurat  perempuan.  Dan  janganlah  mereka  memukulkan  kakinya   agar diketahui  perhiasan  yang  mereka  sembunyikan.  Dan  bertobatlah  kamu  sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.’

Sudah jelas, bahwa wanita muslim dan laki-laki muslim. Diperintahkan untuk menundukkan  pandangannya.  Upaya  dalam  penundukkan  pandangan,  tidak  akan terlaksana. Manakalah, perempuan-perempuan muslim tidak memakai jilbab. Dengan adanya jilbab, perempuan muslim lebih  mudah untuk menundukkan pandangannya. Begitu pula sebaliknya, laki-laki muslim yang beriman  akan mudah menundukkan pandangannya  jika  melihat  wanita-wanita  mulia.  Maksudnya,  wanita-wanita  yang berjilbab. Laki-laki muslim, akan selalu memuja Tuhannya. Jika dia melihat seorang perempuan  mulia.  Tetapi,  laki-laki  akan  selau  meminta  ampun  kepada  Allah, manakalah melihat wanita yang tidak berjilbab.

Jadi, sudah  sangat  jelas.  Bahwa  wanita  muslim  yang  telah  terbebas  dari belenggu-belenggu apapun. Pasti akan berjilbab.” Jelasku, panjang lebar.

“Hem. Tetapi, apakah wanita muslim bukan malah sebaliknya? Dengan berjilbab mereka  akhirnya  terbelenggu  dengan  jilbabnya,  dan  geraknya  pun,  tidak  bebas!” Sangkal Nova.

Aku tersenyum. “Kalaulah yang kita cari, hanya gerak batas untuk kegiatan. Maka jilbab  bukan  pakaian  yang  patut  untuk  ditentang!  Karena, jilbab  dapat  dirancang dengan kondisional. Bisa dirancang sesuai mobilitas para wanita. Tetapi dalam hal ini, tetap dalam naunangan koridor yang  syar’i! Aku rasa, malah dengan menggunakan Jilbab   maka   belenggu-belenggu   yang   membatasi   wanita   akan   hilang   dengan sendirinya! Seperti halnya, kita banyak mengetahui kasus-kasus  pelecehan. Selalu yang menjadi korban adalah wanita. Iklan-iklan, yang selalu menayangkan aurat-aurat wanita. Dengan begitu, sudah jelas. Bahwa, memang wanita adalah objek yang pas untuk  dijadikan bahan pelecahan. Tetapi sayang, banyak wanita yang belum sadar dengan pelecehan itu.  Tetapi, malah mereka senang dan terbuai dengan pelecehan- pelecehan    itu.    Sepertinya,    wanita-wanita    itu    memang    membutuhkan    untuk dilecehkan!

Tetapi, saat  wanita  berjilbab.  Maka  seorang  laki-laki,  akan  enggan  untuk melihat  dengan  tatapan  penuh  nafsu.  Pernah  ada,  seorang  laki-laki  yang  sedeng duduk-duduk mengatakan dengan jelas disampingku. Saat aku sedang berjalan kaki.

Laki-laki itu mengatakan kepada temannya, ‘cantik sih, tapi kayak ninja, jadi nggak nafsu! Coba dibuka jilbabnya, pasti banyak cowok-cowok yang ngantri naksir dia!” Sebuah  ucapan,  yang   sudah   ada  didalam  Al  Qur’an.  Bahwa  laki-laki  melihat perempuan, lebih banyak didasarkan pada nafsu semata. Jadi, perempuan merupakan objek pelampiasan nafsu para lelaki. Tetapi saat  seorang wanita berjilbab. Dengan otomatis, para lelaki itu mengatakan ‘tidak bernafsu!’ Jadi jelas,  jika seorang yang berjilbab. Lebih terbebas dari belenggu-belenggu apapun. Dan secara nyata,  bahwa wanita yang berjilbab. Adalah seorang wanita yang tidak pernah lepas dari kegiatan apapun.  Mobilitas  kegiatan  wanita-wanita  berjilbab.  Tidak  pernah  kalah  dengan wanita  yang  tidak  berjilbab.  Dan  seandainya,  ada  seorang  wanita  yang  berjilbab bekerja disebuah perusahaan. Maka, aku yakin. Bahwa sesungguhnya, perusahaan itu lebih menghargai seorang wanita dengan kepintarannya. Dari pada objek tubuh yang seksi, untuk selalu dilihat sang bos!

Dan wanita yang berjilbab pun, akan terlepas dari belenggu mode. Yang setiap tahun, harus  berganti trend pakaiannya. Dan membuat wanita berjilbab itu, tidak repot-repot atau bahkan  kebingungan saat tidak mengikuti trend. Karena, yang ada dalam  pikiran  wanita-wanita  berjilbab  itu  adalah  ‘bagaimana  menciptakan  mode- mode  skill  atau  keahliannya  masing-masing,  bukan   mode  pakaian  yang  selalu mengumbar auratnya’ jadi lebih jelasnya lagi. Bahwa wanita yang  berjilbab, lebih memikirkan kemajuan berfikirnya ketimbang wanita yang tidak berjilbab.”

Nova terlihat merenungi penjelasan yang aku utarakan. “Iya, aku mengerti! Untuk yang poligami?”

“Poligami. Sesungguhnya poligami tidak hanya dilakukan oleh kalangan muslim saja! Bahkan sejak  Islam belum ada pun, poligami itu sudah dilakukan. Pada dasarnya poligami yang dipraktikkan,  lebih banyak terjadi akibat pengaruh perbudakan yang sempat mewarnai epos perjalanan hidup manusia! Seorang laki-laki, yang mempunyai harta yang melimpah, dengan mudah membeli seorang wanita untuk dijadikan istri- istrinya.  Karena memang sifat nafsu seksualnya yang sangat tinggi! Pada saat Nazi berkuasa di Jerman. Poligami pun, telah dilakukan disana! Bahkan dijaman kaisar Prancis Charlemagne, sejumlah pastur membolehkan untuk berpoligami kepada para raja. Padahal itu, sesudah Islam datang!

Memang,  bentuk-bentuk  poligami  disetiap  wilayah.  Sangat  berbeda-beda. Tidak ada  yang keberatan dengan keberadaan poligami, kecuali para orang-orang Eropa  modern.  Mereka   menggantinya  dengan  pola  yang  lain.  Seperti  halnya pelacuran, perselingkuhan dll. Ini sangat kontras dengan memuliakan seorang wanita di Islam. Dan bahkan, pada abad ke-11 kaum gereja memberlakukan undang-undang yang isinya membolehkan suami meminjamkan istri dalam jangka  waktu tertentu. Sesuai dengan, kesepakatan pihak yang meminjam! Dan yang lebih seram lagi, adalah orang yang punya kedudukanmn terhormat. Baik seorang pemuka agama atau pun pejabat publik. Boleh menikmati perempuan yang dinikahi seorang petani selama 24 jam setelah akad nikah selesai  diucapkan! Bahkan di Skotlandia, pada tahun 1567 mengeluarkan undang-undang yang menyatakan bahwa perempuan tidak mempunyai hak kepemilikan barang. Bahkan, yang lebih mengherankan  lagi. Adalah undang- undang yang dikeluarkan Parlemen Inggris di masa Raja Henri VII. Yang berisikan, pelarangan perempuan untuk membaca Kitab Injil!

Ini semua  terjadi.  Bukan  didunia  Islam.  Tetapi  terjadi  pada  orang-orang Nasrani sendiri! Jadi pada dasarnya, poligami adalah sunatullah. Atau bisa dikatakan, adalah sebuah hal yang  memang pasti terjadi. Meskipun, kepastian itu tidak harus pasti!

Dalam Islam. Poligami sangat diatur. Dan sangat ketat sekali! Seseorang laki- laki muslim, tidak dengan mudah bisa berpoligami. Laki-laki itu harus bisa berlaku adil, dalam tataran keadilan  hubungan manusia. Meskipun, keadilan hubungan hati tidak dapat dilakukan! Dalam Al Qur’an Surat An-Nisa’ 3 disebutkan ‘Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budan yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.’ Pada dasarnya, keadilan adalah kata abstrak. Tidak dapat diketahui bentuknya, tetapi bisa diketahui dengan perbuatannya.

Indah sekali jika poligami diterapkan, tentunya diterapkan dengan hukum- hukum Islam.  Seorang wanita sangat dimuliakan sekali, jika dia dinikahi. Dinikahi dengan janji suci atas nama Ilahi! Hanya saja, stigma orang-orang yang berpoligami. Tidaklah sebagus cara-cara yang sudah  diajarkan oleh Rasulullah dengan sahabat- sahabatnya.  Stigma  dengan  keburukan  poligami,  lebih  unggul.  Ketimbang  stigma poligami yang sudah diterapkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya!

Sungguh  dalam  Islam,  aturan-aturan  yang  sudah  diterapkan.  Jika  kita mengikutinya,  maka  kita  akan  mudah  untuk  menjalankan  hidup  ini!  Kemuliaan seorang wanita sudah sangat terkondisikan dalam Islam. Mulai dari pergaulan, jilbab dan poligami! Hanya saja, kita  sering tidak pernah mau atau bahkan tidak sempat untuk memahami apa yang ada dalam Al Qur’an! Tidaklah seorang umat Islam, yang sedang  melakukan  praktik  poligami.  Lalu  dia,menjadikan  istri-istrinya  yang  lain terlantar.  Terlantar  dalam  setiap  pembagian  kunjungan,  terlantar  dalam   setiap pembagian harta, terlantar dalam setiap kebutuhan bioligis. Coba bedakan dengan seorang  sahabat Rasulullah yang mengatakan. Jika seorang menelantarkan jumlah ciuman, terhadap seorang istri-istrinya. Maka kesemuanya itu akan dituntut oleh Allah kelak dihari pembalasan!

Jadi, praktik poligami dalam Islam. Tidaklah mudah, tetapi juga tidaklah sulit. Karena kesulitan seorang yang mempraktikkan poligami, adalah jika dia tidak selalu mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah. Dalam segala hal. Namun, sebaliknya. Aturan-aturan itu bisa  menjadi sangat mudah dijalankan oleh seorang Muslim. Manakalah seorang muslim itu, selalu mengerjakan aturan-aturan yang sudah diperintahkan oleh Allah! Tidaklah poligami itu sulit bagi seorang muslim yang sudah taat dalam mengerjakan amal ibadahnya! Hanya saja, kesempatan  seorang muslim untuk berpoligami pun tidak harus seenaknya! Karena poligami adalah merupakan bagian  solusi  dari  Islam.  Untuk  membebaskan  para  wanita-wanita  muslim,  dari jeratan dunia yang akan membelenggunya!

Adanya  kasus-kasus  seorang  wanita  menjadi  janda.  Kasus-kasus  jumlah wanita terlalu  banyak, kasus-kasus seorang istri tidak bisa mempunyai keturunan, kasus-kasus   seorang   Istri   sedang   sakit,   kasus-kasus   menjaga   kesucian   dalam beragama saat harus sering bepergian jauh.  Dan kasus-kasus yang lain. Ini adalah

solusi  bagi  seorang  muslim  terhadap  kasus-kasus  itu  semua.  Tidaklah  Allah, memberikan  sebuah masalah, tetapi tidak ada titik temunya! Karena pastilah, Allah membuat  masalah  dan  Allah  memberikan  jalan  keluarnya.  Karena  sesungguhnya dalam Qur’an Surat Al Baqarah 185 ‘Allah  Swt. Menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu’ maka, poligami  adalah merupakan cara solusi  dalam  Islam,  yang  tidak  harus  dipakai.  Namun  tidak  diperbolehkan  untuk ditentang! Karena solusi adalah, sebuah bagian dari pemecahan masalah. Namun jika tidak ada masalah, maka solusi itu harus ditangguhkan terlebih dahulu.” Aku ambil segelas jus alpukat. Dan aku minum untuk membasahi kerongkongan yang sedari tadi memberikan penjelasan yang panjang lebar. “Bagaimana?” Ucapku lanjut.

Nova  tersenyum.  “Terima  kasih!  Aku  tidak  salah  untuk  meminta  penjelasan kepadamu,   Farah.  Penjelasan  yang  gamblang  dan  memang  sangat  jelas  sekali! Mungkin diriku masih tidak  setuju dengan penjelasan yang kamu utarakan! Tetapi, nuraniku tidak dapat menolak dengan penjelasanmu!” Ucapnya, terlihat sendu.

“Nova, Rasulullah Muhammad Saw. Pernah bersabda, yang pada intinya Insya Allah adalah ‘jika kamu bingung menentukan pilihan, mintalah fatwa kepada hatimu’  Jadi, hati adalah tempat sebuah  kebanaran itu tertanam. Jika kita melakukan kesalahan, beribu-ribu  alasan  untuk   membenarkannya.   Tetap  hati  tidak  akan  pernah  mau berbohong!”

“Iya memang benar apa yang kamu katakan!”

“Nah lalu, apalagi? Apa yang ingin kamu ketahui lagi!” Ucapku. Sambil tak lupa senyum simpatik.

“Hem, kamu tadi mengatakan tentang poligami. Sekarang aku ingin tahu, apakah kamu siap  dipoligami?” Tanyanya dengan senyum yang terlihat mengejek. Tetapi, terlihat ada naluri yang kuat untuk mencari sebuah kebanaran.

“Ehm. Sebuah pertanyaan yang langsung to the point!” Aku tersenyum. “Sangatlah sulit menerima  seorang suami berpoligami! Bahkan sekelas Ibunda Aisyah. Tetapi, hal-hal  yang  sulit.  Bukan  berarti  tidak  bisa  atau  tidak  mau  menerima!  Dijaman sekarang,  wanita  sering  merasa  rendah  dengan  statusnya  yang  mempunyai  suami berpoligami. Ini merupakan fenomena besar, dari masyarakat. Tetapi, pada dasarnya. Hakikat dari poligami itu sendiri yang harus di telaah lagi.  Apakah benar, seorang suami saat melakukan poligami tujuannya memang untuk berdakwah! Atau ada tujuan lain? Inilah yang harus kita lihat dulu.”

“Nah, berarti kamu juga nggak setuju kan!” Sela Nova.

“Hem.  Sebentar,  biar  aku  menjelaskan  seluruhnya!  Seorang  suami  saat berpoligami, memang dalam Islam. Tidak dianjurkan untuk memberitahukan maksud tujuan  melakukan  poligami.  Dengan  artian,  seorang  suami  tetap  sah  hukumnya berpoligami. Meskipun tidak ada persetujuan dari istrinya! Tetapi, pada dasarnya laki- laki  pun  tidak  boleh  sembarangan  berpoligami.  Atau  dengan  seenaknya  sendiri melakukan praktek poligami! Tetapi, sesungguhnya seorang suami yang berpoligami. Lebih  mulia,  ketimbang  suami  yang  melakukan  perselingkuhan!  Lebih  baik,  aku

memilih  seorang  suami  yang  berpoligami  dari  pada  dengan  seorang  suami  yang melakukan perzinahan!

Tetapi, pada dasarnya. Seharusnya wanita muslim dapat mengubah karakter kemanusiaannya untuk mampu melesatkan diri mereka ke tingkat yang lebih tinggi dan mampu membeningkan jiwa mereka dari noda dan nista. Sesungguhnya, wanita- wanita mulia itu, saat mereka harus memilih antara dunia dan perhiasanya atau Allah beserta Rasul-Nya juga negeri akhirat. Maka mereka dengan tegas akan mengatakan, sudah pasti kami akan lebih meilih Allah dan Rasul-Nya juga kebahagiaan akhirat! Karena,  poligami  adalah  pilihan  yang  telah  diberikan  oleh   Allah.  Dan  pernah dilakukan oleh Rasul-Nya, maka tiada alasan kami akan menolak.”

“Tetapi, apakah kamu dengan mudah menerima suami yang berpoligami?” Tanyanya sengit.

“Gini, Nov.  Aku  siap  menerima,  jika  suatu  saat  nanti  suamiku  ingin  melakukan poligami!   Tetapi,   ada   beberapa   yang   harus   dibicarakan   dahulu.   Sebab-sebab keinginan suamiku yang ingin melakukan poligami. Itulah yang harus aku tanyakan! Apa yang melatar belakangi, suamiku ingin berpoligami. Apakah karena pelayananku kurang? Ataukah bosan denganku? Kalau itu  jawabannya. Maka, aku akan dengan tegas mengatakan. Menolak suamiku berpoligami! Tetapi,  jika  alasan-alasan yang dikemukakan oleh suamiku bersifat syar’i.   dalam hukum-hukum Islam.  Maka, aku akan dengan mudah mengatakan ‘saya siap untuk menerima suamiku berpoligami!’

Layaknya  sebuah  contoh,  saat  suamiku  menginginkan  istri  lagi.  Yaitu, keberadaannya dari ujung tombak dakwah itu sendiri! Jika, dengan mempunyai istri lebih dari satu. Suamiku dengan mudah berdakwah, maka aku akan lebih menghargai itu! Karena, masih banyak  seorang wanita muslim yang tidak sependapat dengan praktek  poligami.  Bahkan  mereka  menentang  praktek  poligami!  Dengan  suamiku berpoligami.  Maka  aku secara  tidak  langsung,  telah  membela  agama  Allah!  Dan memberikan contoh yang terbaik bagi wanita-wanita muslim  yang  menolak sunnah Rasulullah yang satu ini.

Poligami bukan praktek yang merendahkan wanita. Tetapi, poligami adalah solusi  untuk  memuliakan  wanita.  Juga  harus  diingat,  jika  suamiku  kelak  ingin berpoligami.  Maka  dia  harus  berdialok  dulu  denganku!  Karena,  jika  aku  yakin suamiku seorang yang adil. Dengan mudah  aku  akan mengijinkan suamiku untuk berpoligami! Bahkan, jika dia belum meminta untuk berpoligami. Tetapi, aku sudah yakin akan kemampuan keadilannya. Dengan berbangga, aku akan meminta suamiku untuk berpoligami!” Ucapku.

Nova terlihat sangat terkejut. Dia sedikit memelototkan matanya. Ekspresi wajahnya seakan tidak percaya. “A…pa benar itu?” Ucapnya, terbata.

“Yup!” Ucapku, sambil tersenyum tegas.
“Kamu nggak merasa terhina, atau dihinakan oleh suamimu?” Ucapnya bingung. “Justru, jika suamiku  seorang yang adil. Maka aku akan sangat berbangga sekali
memilikinya! Bukanlah seorang muslim yang berbahagia, dan dia tidak membagi

kebahagiaannya! Dengan keadilan yang diberikan oleh suamiku, maka aku tidak akan merasa berat  untuk membaginya dengan wanita lain. Karena, aku yakin. Hak atas diriku, pastilah tidak akan terkurangi sama sekali. Meskipun suamiku berpoligami!”

“Tapi. Apakah cinta bisa dibagi?” Tanyanya.

“Nova, aku sudah menjelaskan kepadamu bukan! Bahwa cinta atau masalah hati tidak bisa dibagi-bagi!”

“Nah, kan! Berarti seorang laki-laki itu tidak bisa berbuat adil!” Selanya sengit.

Aku menghela nafas panjang. “Nova, aku akan memberitahukan kepadamu tentang masalah keadilan dalam Islam. Dalam Qur’an Surat An-Nisaa’ 129 Allah berfirman
‘Dan  kamu  sekali-kali  tidak  akan  dapat  berlaku  adil  di  antara  isteri-isterimu, walupun kamu  sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlahh kamu terlalu cenderung  (kepada  isteri  yang  kamu  cintai),  sehingga  kamu  biarkan  yang  lain terkatung-katung…’   dan ini adalah doa  Rasulullah ‘Ya Allah, inilah pembagianku pada apa yang aku miliki. Maka janganlah Engkau mencelaku pada apa yang Engkau miliki, sedangkan aku tidak memiliki.’ Yang dimaksud dalam keadilan dalam Islam. Adalah keadilan yang bersifat nyata, bukan keadilan bersifat abstrak. Yaitu keadilan dalam cinta. Karena, sesungguhnya. Manusia tidak akan pernah bisa berlaku adil dalam  masalah  cinta.  Tetapi,  manusia  haruslah  adil  dalam  masalah  pembagian- pembagian  yang  memang  sudah  seharusnya menjadi  sebuah  hak  seseorang!  Jadi, syarat untuk berpoligami adalah keadilan bersifat nyata. Bukan keadilan yang terdapat dalam hati. Karena itu Allah berfirman ‘Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada  isteri  yang  kamu  cintai).    Dan  Allah  tidak  memerintahkan  kepada  kita, supaya tidak berpoligami. Karena, sesungguhnya apa yang terdapat dalam hati adalah kepunyaan Allah! Maka dari itu Allah Swt. Menghendaki kemudahan bagimu  dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”

“Lalu, apakah salah jika seorang lelaki muslim tidak berpoligami?” Tanya Nova.

“Oh  tidak!   Seorang   lelaki   jika   menikahi   satu   wanita,   tidak   salah!   Karena bagaimanapun, Allah pun menyarankan jika seorang laki-laki tidak bisa berlaku adil. Maka cukup menikah dengan  satu perempuan saja! Dan, seandainya suamiku tidak dapat berlaku adil. Aku pun tidak akan rela, membaginya dengan wanita lain. Karena, jika  aku  menyetujuinya.  Sama  saja,  aku  menyetujui  perbuatan  yang  bathil.  Dan kebathilan adalah neraka tempatnya!”

“Jadi, dalam Islam. Semuanya itu benar-benar diatur yah!” Ucap Nova. Wajahnya terlihat bercahaya saat mengatakan. Seperti ada sebuah kekaguman yang besar, atau sudah  menemukan   titik  terang  yang  teramat  sangat  menyilaukan.  Tetapi  tidak menyakitkan. Malah cahaya silau itu menyejukkan.

“Iya, Insya Allah! Semua dalam kehidupan, sudah diatur dalam Islam!” Jawabku tegas.

“Satu pertanyaan lagi.” Ucap Nova, setelah itu dia menghela nafas. “Kenapa, seorang laki-laki dan  seorang wanita dalam Islam. Terlihat sangat dibedakan sekali dalam pergaulan. Aku melihat, bahwa jarang sekali kalian berkumpul dengan teman-teman

laki-laki yang ada diLDK. Apakah memang ada aturan di LDK seperti itu, atau bagaimana? Karena kalau melihat, kalian sepertinya tidak kompak. Berjalan sendiri- sendiri!”

“Hem. Itu pertanyaan terakhir?” Tanyaku balik. Dengan senyum. “Iya. Mungkin?” Jawab Nova. Dengan senyum juga.
“Baik. Dalam LDK, kami tidak mempunyai peraturan yang seperti itu! Bahkan, kami mempunyai  peraturan untuk saling bekerja sama dalam berdakwah! Tetapi, dalam agama  Islam,  sudah  diatur   tentang  tatacara  pergaulan.  Antara  laki-laki  dengan perempuan! Tatacara pergaulan laki-laki dan  perempuan, tidak seharusnya sebebas- bebasnya.  Karena,  kecenderungan  seorang  laki-laki  dan  perempuan.  Jika  mereka sudah bergaul, maka tidak lain adalah pergaulan yang diluar batas!  Dalam Islam diatur masalah Ikhtilath. Atau bercampur baur. Dalam hal ini, bercampur baurnya bergaulan. Antara wanita dan pria.

Karena  sesungguhnya  Rasulullah  pernah  bersabda  ‘Aku  melihat  seorang pemuda dan  seorang pemudi dan setan belum mengamankan dari keduanya.’ Atau dalam  riwayat  lain  ‘Keduanya  belum  aman  dari  fitnah.’  Sesungguhnya,  tidaklah seorang muslim yang melakukan ikhtilath, kecuali setan yang akan mengganggunya. Dalam Islam, kekompakan bukan berarti harus  bercampur baur antara laki-laki dan perempuan.  Tetapi,  kekompakan  adalah  manakalah  mereka  memegang  teguh  dan melaksanakan   ajaran-ajaran   yang   sudah   ditetapkan   oleh   Allah   Swt!   Banyak kemudharatan, atau kerugian yang akan ditimbulkan saat seseorang wanita dan laki- laki bercampur baur.

Sebuah contoh, saat kita melakukan rapat. Yang pada saat itu , bercambur baur antara  laki-laki dan perempuan. Yang akhirnya membuat seorang perempuan atau laki-laki sulit untuk menundukkan pandangannya. Padahal, menundukkan pandangan sangat diwajibkan dalam Islam. Baik untuk laki-laki dan perempuan!” Aku menarik nafas dalam-dalam. “Aku kira, eksistensi dari kerjasama itu sendiri. Meskipun tidak berkumpul secara nyata. Tetap, tidak menghilangkan kredibiltas dari kerjasama para teman-teman  LDK!  Bahkan,  kami.  Para  perempuan,  merasa  sangat  nyaman.  Jika rapat, tidak terlihat atau dilihat oleh laki-laki. Dan itu membuat kita lebih bebas. Bebas  dalam  menyatakan  pendapat,  baik  bebas  dalam  menentukan  sikap.  Bukan berarti, saat  kami  tidak berkumpul dengan para leki-leki itu. Kami menjadi tidak kompak. Bahkan, dengan  cara  seperti itulah. Kami menjadi benar-benar termotivasi untuk memberikan kontribusi yang besar bagi dakwah kita masing-masing.

Adanya kegiatan-kegiatan yang tidak dilakukan bersama-sama. Itu merupakan agenda  yang  telah  dimiliki  oleh  divisi  masing-masing.  Terutama  divisi  wanita, mempunyai agenda tersendiri. Jadi divisi wanita lebih cenderung berisikan kegiatan- kegiatan  yang  bersifat  kewanitaan.  Dalam  hal  ini,  bersifat  mengembangkan  atau memberikan motifasi diri para setiap wanita. Untuk lebih memahami agama Islam ini. Jadi, semua itu sudah tertata rapi. Bukan karena, kita memiliki  kegiatan sendiri- sendiri. Lalu terlihat kami tidak mempunyai jiwa kekompakan dalam berorganisasi! Malahan,   dengan   seperti   itu.   Para   wanita   tidak   canggung   lagi,   untuk   lebih mengekspresikan apa yang ingin dilakukannya!

Jadi, meskipun terlihat. Bahwa para perempuan dan laki-laki di teman-teman LDK. Saat mengadakan kegiatan tidak berbarengan. Bukan berarti, kekompakan itu tidak  terjadi.  Namun,  karena  memang  kami  menjaga  diri  dari  hal-hal  yang  telah dilarang oleh Allah. Yaitu berikhtilath.

Kamu bisa melihat, sekarang. Secara kasat mata maupun secara riil kinerja dari  teman-teman LDK dan dari UKM-UKM lainnya. Termasuk UK3. Mana yang lebih  baik.  Dan  predikat  yang  telah  dijalankan  teman-teman  LDK,  lebih  bagus ketimbang  UKM  yang  lain!  Ini  bukan  masalah  mudah,  tetapi  karena  memang kekompakan yang telah terjalin. Bukan hanya kekompakan semu. Tetapi kekompakan yang memang benar-benar terjalin erat karena adanya persamaan ideology yang kuat, persamaan iman kuat, persamaan tujuan yang kuat, persamaan cara  dakwah yang kuat. Sehingga ini yang akhirnya mempererat jalinan ukhuwah atau persaudaraan kami! Jadi kekuatan kompakan kami, terletak pada semua itu!”

“Iya. Aku memang mengakui, bahwa kegiatan dan kredibilitas teman-teman LDK. Lebih bagus! Hem. Terima kasih atas kesedian kamu menjawab semua pertanyaanku. Mungkin untuk saat ini, hanya itu pertanyaanku. Terima kasih atas waktu luangnya!” Nova mengakhiri pembicaraan.

“Iya. Insya Allah, jika pembicaraan kita bermanfaat. Pasti aku akan dengan senang hati  mendatanginya! Dan semoga, Allah memberikan rahmat dan hidayah disetiap pembicaraan kita ini!” Ucapku dengan menjabat tangan Nova.

Nova tersenyum. Senyuman penuh rasa kepuasan dalam hatinya.

Pesan: =========================================================== Hanya itu yang dapat kami tulis untuk potingan artikel ini, bila pengujung semua menyukai ini silahkan tinggalkan komentar anda.... Salam Hangat By Iwan Kurniawan ===========================================================


0 komentar

Posting Komentar

Cancel Reply