Selasa, 26 Oktober 2010

Aku Menggugat Akhwat dan Ikhwan Jilid 7 dan 8

JILID 7
Sejenak aku merebahkan diri. Mengentaskan semua asa yang tertanam dalam diri.  Tubuhku  terasa  nyaman,  berada  dalam  naungan  kasur  busa.  Sesekali  aku menghela nafas  panjang. Menerawang dalam tatapan yang penuh dengan keletihan. Letih menjalani hari yang  panjang. Hari yang melelahkan dalam satu hari penuh dengan perjuangan. Beberapa persoalan,  datang silih berganti dalam hidup. Gejolak jiwa  dalam  aral  yang  membelenggu.  Mengganggu  tanpa  permisi  terlebih  dahulu. Semuanya  datang.  Semuanya  terasa  keras  dalam  balutan  masalah  yang  tak  akan tuntas. Tetapi aku yakin. Tidak ada masalah yang tidak bisa dituntaskan. Karena Allah,   telah   memberikan   cobaan   dengan   beserta   kemudahannya.   Aku   yakin, semuanya  bisa  terselesaikan.  Selesai  tanpa  harus  membekas  dalam  diri  dengan setumpuk masalah yang sama bertubi-tubi.

“Tluut…Tliit….” Suara sms Hp mengagetkanku.

Febrianti. Tertulis dalam layar LCD. “Mbak, anti dmn? Nggak ngechat! Tmn2 lg nungguin. Pngen tausyiah dari Mbak Farah. Cepat ya Mbak!” Pesan SMSnya.

Masya Allah, aku lupa. Hari ini kan ada liqo’ di teman-teman chatting! Segera mungkin aku langsung menghidupkan komputer. Tak perlu beranjak dari tempat tidur. Karena dengan hanya menekan remote. Maka komputer dengan sendirinya langsung merestart. Segera aku mengambil jilbabku, untuk aku kenakan. Sejenak windows xp mengeluarkan wajah cantikku. “Afwan, sudahkah  anda membaca basmalah? Kalau sudah, tolong diisi password untuk menuju tampilan XPnya.  Syukron. Wassalam!” Bunyi tampilan otomatis dalam komputer.

Segera mungkin  aku  connect  keinternet.  Memasang  camera  dengan  bagus.  Dan langsung  menuju ke chatcam. Tak lama aku sudah menuju keteman-teman cyber liqo’.  Unik  sebenarnya,  saat  kami  bertemu  dalam  dunia  cyber.  Beberapa  akhwat adalah adik kelasku, teman-temannya Dewi. Dan yang lainnya, adalah teman-teman cyber chatku. Karena kebanyakan mereka kuliah diluar negeri. Hingga akhirnya, kami memutuskan  untuk  selalu  berhubungan  dengan  cara  seperti  ini.  Beberapa  teman- teman chattingku. Malahan dulu adalah seorang non muslim. Yang begitu  tertarik dengan Islam. Hanya saja, mereka tidak dapat belajar tentang Islam lebih dalam. Karena  mereka diwilayah negeri orang-orang kafir. Sehingga alternatifnya adalah, dengan chatting. Ada dua versi chatting yang dikembangkan dalam liqo’anku. Yaitu, chatcam dan chatvoice. Dua-duanya langsung terhubung dalam satu channel chatting. Sehingga dengan mudah, jika seorang yang tidak  mempunyai camera. Tetap bisa mendengarkan suara para chatter.

“Assalamualaikum!” beruntun, suara-suara para chatter. Terlihat Febri, tetap dengan wajah imutnya dan jilbab besarnya. Lalu ada Ine dengan jilbab trendynya. Ada Ratna, Asih, Fenti, Maya, Desti, dan banyak lagi. Juga beberapa teman-teman chatvoice yang hanya menunjukkan inisial atau nama-namanya saja.

“Walaikumlalam.”

“Mbak Farah, kok telat ada apa?” Tanya Desti.


“Ana lagi kecapean! Satu hari yang melelahkan plus menegangkan serta menguras pikiran!” Ucapku senyum.

“Emang, lagi ada kegiatan yah Mbak?” Tanya Febri.

“Iyah, bisa dibilang begitu!” Ucapku. Kegiatan yang telah membuat jantung begitu keras dalam detakannya. Gumamku.

“Enak yah, Mbak! Kalau di Indonesia. Masih bisa melakukan dakwah sesukanya!” Ucap Febri dengan senyum simpulnya.

“Iya! Kalau  kita  disini  nggak  bisa  seenaknya,  melakukan  kegiatan-kegiatan  yang berbau    religius    ditempat    umum!    Bisa-bisa    ditangkap    karena    mengganggu masyarakat!” Sahut Ratna.

“Apalagi disini! Bisa-bisa langsung dikira teroris.” Sela Asih, sengit.

“Memang, banyak negera-negara yang katanya menjunjung hak asasi. Tetapi seorang yang  melakukan  hak asasinya malah dilarang. Banyak para akhwat Perancis yang telah keluar dari universitas terkenal. Hanya karena mereka berjilbab! Padahal, untuk masuknya sangat sulit.” Ucap Fenti.

“Woi, kasih hak bicara dong! Jangan hanya yang punya webcam aja, yang bicara!”
sela Anggi yang berada di chatvoice.

“Ih, siapa yang memotong hak bicara! Anti saja, yang tidak mau bicara.” Seru Ine. Yang membuat teman-teman akhirnya tertawa.

“Iya, kalau disini juga susah untuk kegiatan yang berbau religius! Di Ausy, malah ada salah satu akhwat yang diludahin saat mau berangkat kuliah.” Ucap Anggi semangat.

“Siapa yang nanya!” sela Ine. “Yee….” Ucap Anggi, bersungut.
“Hehehe…. Sudah-sudah! Anti berdua ini kok kaya’ apaan.” Selaku. Mendamaikan.

“Biasa, Mbak! Anggi dan Ine itukan kucing dan tikus. Ngeong…… Citcit…..!” ledek
Asih.

“Iya, ana kucingnya. Ukhti Ine tikusnya! Hehe…” ucap Anggi. “Yee.. ana yang kucingnya. Anti tikusnya!” Seru Ine.
“Hehe… kok  rebutan  jadi  binatang  sih!  Emang  nggak  enak  yah  jadi  manusia?”
ucapku bercanda.

“Iya, nih. Ukhti Asih ituloh yang mulai, Mbak!” Jawab Anggi.

“Iya, ini gara-gara Ukhti Asih!”  Sahut Ine.

“Loh-loh… kok malah ana sih yang disalahin!” ucap Asih. Tidak terima.

Seluruh chatter pun tertawa. Sungguh keterikatan ukhuwah yang telah menjadikan kami bisa begitu dekat. Entah darimana asal mereka. Apa warna kulit mereka, bahasa apa yang mereka pakai. Selama dalam naungan Islam. Mereka adalah saudara. Hingga sampai-sampai,  para  room  dichatting.   Merasakan  kenikmatan  persaudaraan  itu. Perkara kecil bisa dibesar-besarkan, tetapi tidak menjadi  besar. Perkara besar tidak dibesar-besarkan  malah  kalau  bisa  dipermudah  dan  diperkecil.   Karena   ikatan ukhuwah kita yang kuat. Sampai-sampai bagaikan seorang adik kakak. Pertikaian kecil, merupakan bumbu-bumbu yang akan mempererat persaudaraan.

“Hehe…. Ya sudah! Gimana kita mulai sekarang?” selaku.

Sejenak mereka pun sedikit demi sedikit bisa mengatur dirinya. Suara riuh canda tawa mulai    sedikit    demi    sedikit    mereda.    Mereka    memulai    memfokuskan    dalam bermuhasabah pada setiap dirinya.
“Tafadhol, Mbak!” Ucap Febri, mempersilahkan aku memberikan materi. “Alhamdulillah. Insya Allah, untuk hari ini kita membahas materi akhlak dan ikhlas!”
sejenak aku mengela nafas. “Akhlak. Bisa dikatakan sebagai adab. Atau perilaku tentang  budi  pekerti.  Dalam  kamus  bahasa.  Beberapa  orang  mengatakan,  bahwa akhlak adalah sebuah perilaku  budi pekerti yang diambil dari sebuah kebudayaan. Tetapi,  Akhlak  dalam  Islam.  Bukan  dari  kebudayaan  orang  Arab.  Tetapi,  lebih dicenderungkan dalam kebudayaan manusia. Budi pekerti  manusia yang universal. Dan akhlak dalam Islam, adalah karakter dominan Rasulullah! Yaitu,  seorang yang ramah, adil, baik. Intinya, kesempurnaan manusia yang ada dunia. Hanyalah pada Rasulullah!”  dalam layer  monitor.  Teman-temanku  mendengar  secara  pasti  taujih yang aku  sampaikan. Rasa ketidaktahuan, atau rasa ingin memperkuat keimanan. Terlihat dari setiap wajah-wajah dalam monitor. Tidak terkecuali, teman-teman yang hanya bisa mendengar melalui chatvoice.

Setiap hal, yang mendetail masalah akhlak dan ikhlas. Aku sampaikan dengan jelas. Aku  ingin tidak ada yang tersisa lagi dalam setiap penyampaian materiku. Hingga menimbulkan rasa  penasaran yang tinggi. Atau ilmu yang hanya setengah- setengah saja. Dengan pasti, aku memberikan materi-materi itu. “Alhamdulillah. Baik, ada yang perlu ditanyakan” ucapku diakhir penjelasan.

Sejenak para chatter diam. Berfikir dan merasapi taujih yang aku sampaikan. Wajah mereka  tertunduk, mengharap keikhlasan dengan perbuatan yang mereka lakukan. Perbuatan yang entah mereka lakukan. Aku tidak tahu.

“Mbak, ana mau tanya!” ucap Desti. Membuyarkan lamunan para chatter. “Iya, tafadhol Ukh!” jawabku.

“Mbak, ana mau tanya tentang keIkhlasan. Apakah seorang yang melakukan sebuah pekerjaan. Tetapi dia melakukan itu dengan senang hati, tetapi karena menginginkan sesuatu selain Allah! Apakah itu juga dinamakan Ikhlas?”

“Seorang yang  melakukan  perbuatan,  tetapi  didasari  untuk  mendapatkan  sesuatu. Sesuatu yang bukan berdasarkan pada Allah. Juga termasuk Ikhlas! Tetapi, keikhlasan itu hanya pada sesuatu yang diinginkannya saja. Dan dia tidak mendapatkan pahala ikhlas yang diberikan oleh Allah. Dalam sebuah hadits disebutkan, diriwayatkan oleh Ahmad.  “Sebaik-baik  usaha  adalah  usaha  tangan   seorang  pekerja  apabila  ia mengerjakannya dengan tulus.” Jadi semua itu, mempunyai nilai keikhlasan sendiri- sendiri. Jika seseorang meniatkan dirinya untuk Allah, maka Allah lah yang  akan menjadi tujuannya. Dan pahala yang akan didapatkannya. Sedangkan, jika seorang meniatkan untuk hal-hal yang lain. Selain Allah. Maka, hanya hal itu saja yang akan didapatkannya!”  jelasku.

“Lalu, cara  untuk  ikhlas  atau  menjaga  ikhlas  dalam  dakwah  bagaimana  Mbak? Kadang, ana sangat ikhlas sekali untuk mengadakan kegiatan. Tetapi, saat kegiatan itu tidak sesuai dengan harapan. Keihlasan ana menjadi pupus!” tanya Maya.

“Iya, kadang kita benar-benar sangat bersemangat dalam beradakwah. Dan kadang kala kita menjadi luntur atau futur. Saat-saat apa yang kita harapkan tidak tercapai. Atau kita bosan dengan kegiatan tersebut! Mungkin, kita perlu merefiu kembali jalan dakwah yang kita lakukan. Saat kita  melakukan sebuah kegiatan. Dengan harapan, bahwa  kegiatan  itu  akan  mencapai  target  yang  ingin  kita  capai.  Tetapi  sayang, beberapa  teman-teman  kita  banyak  yang  tidak  datang  dalam  kegiatan  tersebut. Biasanya membuat kita menjadi pesimis dengan berlangsungnya kegiatan  dengan bagus! Atau panitia kegiatan banyak yang datang terlambat. Itu juga, salah satu yang membuat keikhlasan menjadi luntur!

Pernah ada seorang akhwat, melakukan kegiatan yang sudah sangat dirancang dengan matang. Lalu, pada saat pelaksanaan kegiatan. Banyak akhwat-akhwat panitia yang terlambat hadir  atau bahkan tidak hadir. Akhwat ini bingung. Peserta sudah sanagt membludak. Tetapi, panitia  banyak yang tidak hadir. Akhirnya akhwat ini menelephon  seorang akhwat yang belum hadir. Sebuah percakapan terjadi,

Akhwat A :    Ukhti, anti dimana? Peserta sudah banyak. Anti tolong kemari dong!
Akhwat B :    Afwan  ana  tidak  bisa  hadir.  Ana  ada  keperluaan!
Semoga anti dan teman-teman bisa mengatasi sendiri. (Ucapnya  dengan  enteng,  tidak  ada  penyesalan  sama sekali)
Akhwat A :    Anti kok nggak bilang saat syuro’. Kalau seperti ini kan kasihan   Al   Ukh  yang  lain.  (Ucapnya,  sedikit  agak emosi)
Akhwat B :    Iya,  Afwan.  Ana  hari  ini  ada  teman  yang  lagi  main kerumah.  Jadi nggak bisa ninggal! Semoga anti tetap niat ikhlas anti tidak ternodai dengan nafsu amarah anti. (Ucapnya, tanpa ada perasaan yang bersalah)

Akhwat A :    Masya Allah, Ukh! Anti kan bisa ajak teman anti disini! (Ucapnya   agak  tegas,  dengan  nada  yang  meninggi. Sedikit terlihat emosi)
Akhwat B :    Afwan,  nggak  enak.  Nanti  ganggu  anti  dan  teman- teman.        Lebih    baik,     anti    dan    teman-teman     tetap istiqomah dijalan  dakwah. Dan tetap, semoga niat anti nggak  ternodai  dengan  nafsu  amarah  anti.  (Ucapnya, tanpa    ada    perasaan    yang     bersalah.    Seperti    ingin menasehati)
Akhwat A :    TAHU  APA  ANTI  TENTANG  ISTIQOMAH  DAN IKHLAS. (Ucapnya dengan keras. Setelah itu menutup telephon)



Baik. Sekarang  siapa  yang  salah”  ucapku.  Sambil  melihat  satu  persatu  Al  Ukh, Halaqoh Cyber Liqo’.

Mereka terlihat bingung. Sesekali ada yang mengatakan salah satu yang salah. Tetapi ada  juga, yang menyalahkan kedua akhwat itu. Dengan alasan, akhwat satu yang  menelphon  tidak   mempunyai  kesabaran  untuk  menghadapi  Akhwat  yang ditelephon. Lalu akhwat yang ditelephon,  tidak mempunyai rasa persaudaraan yang kuat   kepada   akhwat   yang   lainnya.   Tetapi,   lebih   banyak   yang   diam.   Tidak berkomentar, atau menungguku untuk lebih dalam menjelaskan persoalan ini.

“Iya!  Dalam  kasus  tadi.  Kita  dapat  mengambil  sebuah  ibroh  atau  hikmahnya. Memang, niat  ikhlas itu sangat diharapkan untuk tidak keluar dari dalam niat kita. Tetapi, ada penyebab yang  membuat niat ikhlas itu keluar. Yaitu, dengan cobaan seperti apa yang terjadi dalam kasus tadi! Seorang, yang sudah ikhlas dalam hatinya. Akhirnya ternodai oleh saudaranya sendiri! Ikhlas, bukan berarti tidak butuh bantuan. Ikhlas, bukan berarti bertindak sendirian. Dan seharusnya, untuk menjaga keikhlasan sesama saudara. Maka saudara yang lainnya, pun harus ikut menjaga niat keikhlasan dalam   perjuangan  saudaranya.  Bukan  malah,  membiarkan  saudaranya  berjuang sendiri. Lalu dengan seenaknya, saudara yang lainnya mengatakan tentang keikhlasan. Keikhlasan tentang saudara yang lainnya. Ini berarti, menjadikan tumbal saudara kita sendiri!” Aku sedikit menarik nafas, lalu  menghembuskannya pelan. “Maka, untuk menjaga niat ikhlas kita. Seharusnya, sikap kita adalah tidak mementingkan hasil dari apa yang kita kerjakan. Cukuplah usaha yang kita jalankan, sesuai dengan apa yang memang seharusnya. Tidak usah begitu mengharapkan hasil yang sempurna. Tetapi, tetap ada hasilnya! Dan cukuplah Allah, yang memberikan hasil dari kita. Cukuplah kita, berikhtiar dengan usaha yang kita lakukan.”

“Iya, ana juga setuju kalau seperti itu Mbak!” Ucap Desti. “Ana jadi lebih mengerti sekarang!” Sahut Anggi.
“Sama, ana juga!” Ucap Febri.

“Syukron  Mbak!  Ana  jadi  lebih  tenang,  dengan  penjelasan  yang  Mbak  Farah sampaikan!”  Ucap Ine.

“Sama, ana juga!” Ucap beberapa teman-teman yang lain.

“Alhamdulillah. Kalau seperti ini kan, ana jadi nggak lebih mudah menjelaskannya!”
ucapku. Sambil bercanda.

“Mbak, ana mau tanya!” Ucap Anggi. “Tafadhol!” Jawabku.
“Mbak, ana di sini sering bertemu dengan saudara kita yang lainnya. Di Australia, ada beberapa  harokah-harokah Islam yang banyak. Termasuk ada juga, beberapa yang menyebutkan diri dari golongan pengikut ulama salaf. Anehnya, kadang kami saling berdebat.   Untuk        mempertahankan   harakah   kita   masing-masing!   Mengunggul- unggulkan apa yang kita kerjakan. Dan tak jarang, kata hujatan pun meluncur untuk salah satu harakah. Suasana ini baru ana alami disini, Mbak! Saat di Indonesia, ana tidak  begitu  sering  melihat  harakah-harakah  lain.  Dan  tidak  pernah  mendengar hujatan-hujatan    yang    menyakitkan!    Tapi    disini,    semuanya    bisa    dilakukan. Mengunggul-unggulkan golongan mereka, merupakan hal  biasa disini. Pantas saja, banyak para jamaah yang terlihat tidak begitu menyatu. Membaur dalam  kerangka ukhuwah  yang  erat!  Mereka  lebih  memilih,  bergabung  dengan  orang-orang  yang sealiran dengan mereka!” Ungkap Anggi.

“Hem. Iya, memang. Inilah yang menjadi persoalan serius dalam umat Islam! Banyak para harakah,  organisasi, aliran dalam Islam. Yang menyerukan tentang persatuan. Hanya  saja,  persatuan  yang   mereka  inginkan  lebih  bersifat  penyatuan.  Bukan persatuan yang menginginkan kesatuan. Di  Indonesia pun, sering terjadi. Mereka lebih  menonjolkan  harakah  atau  organisasi  mereka.  Persatuan,  sering  digembar- gemborkan dalam setiap harakah atau organisasi. Tetapi sayangnya. Persatuan yang mereka inginkan, lebih bersifat menyatukan harakah atau organisasi lain kedalam harakah atau organisasinya sendiri. Ini yang membuat menjadikan persatuan tidak terjaga dengan baik. Beberapa cemoohan, hujatan dan celaan harakah atau organisasi satu dengan yang lainnya! Sepertinya, kita terhambat dengan pola perjuangan harakah dan organisasi yang mementingkan diri mereka sendiri.

Ana pernah berdialog dengan satu aktivis harakah selain kita. Mereka dengan mudah  mengatakan sesuatu yang menyakitkan hati. Akhlak mereka menjadi bias, dengan  ashabiyah  yang  mereka  punyai!  Beberapa  kali,  ana  mengelus  dada.  Saat berbicara  dengan  mereka.  Ana   mencoba  sabar  dengan  kata-kata  yang  begitu menyakitkan.  Bahkan,  ada  sebuah  harakah  yang  menghina  seorang  ulama  besar. Hasan Al Banna. Seorang ulama yang begitu masyhur dalam dakwahnya, harus dihina dan  fitnah.  Kasihan.  Bahkan,  isu  yang  digemborkan  adalah.  Hasan  Al   Banna merupakan seorang yang membela orang-orang Israel. Membela kaum-kaum Yahudi! Padahal, semua tahu. Bahwa banyak kader-kader Hasan Al Banna yang diterjunkan untuk turut berperang  saat  Israel menyerang Palestina. Dan bahkan, hampir-hampir saja. Kader-kader Hasan Al Banna  dapat mengalahkan pasukan Israel. Kalau pada saat itu, Anwar Saddat seorang presiden Mesir  yang  zhalim itu tidak menangkapi kader-kader Hasan Al Banna!

Ironis, seorang kader yang menunjukkan eksistensinya dalam dunia Islam. Harus dipenjarakan dan dibunuh oleh orang-orang munafik. Tetapi hebatnya, kader-

kader Hasan  Al  Banna  tidak  pernah  mengeluh  dalam  setiap  perjuangannya.  Dan bahkan, mereka  tidak melakukan sebuah kemakaran terhadap negaranya. Meskipun saat itu mereka sudah sangat di  zhalimi! Sangat hebat. Bahkan, saat kader-kader Hasan Al Banna di penjara. Mereka berfikir,  penjara itu adalah bagian dari rihlah mereka! Saat mereka berada diruang penjara bawah tanah, hingga mereka tidak bisa melihat tangannya sendiri karena gelap. Tapi, sungguh sangat mengesankan. Mereka dengan  bergantian  meramaikan  penjara  bawah  tanah  itu,  dengan  muraja’ah    Al Qur’an. Subhanallah! Dan Hasan Al Banna adalah seorang pembesar, yang mengakui. Bahwa Indonesia, adalah negara yang berdaulat! Yang pada saat itu, tidak ada negara yang berani mengakui kemerdekaan Indonesia.

Ana sangat salut dengan perjuangan yang dilakukan oleh Hasan Al Banna. Meskipun, ana pun tidak menafikkan ada ulama-ulama lain. Selain Hasan Al Banna. Tetapi,  ana  lebih  menyukai   dan  mengagumi  para  ulama-ulama  besar.  Dengan penghormatan  dan  bukan  penghinaan.  Ulama  manapun!  Selama  ulama  itu  dalam koridor syariat yang benar, maka ana akan mengagumi  mereka. Karena, ana tidak ingin bertaklid dengan salah satu ulama. Karena ulama adalah manusia, mempunyai kesalahan dan dosa! Tetapi, kebenaran itulah yang seharusnya  kita ambil dari setiap para ulama-ulama! Kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh para ulama. Seharusnya kita pun memahami, bahwa ulama juga manusia. Bukan lantas menyalahkan seluruh ajarannya, hingga menafikkan ajaran keberanan-Nya!

Adapun saat  kita  dihina.  Maka  jangan  sekali-kali,  kita  membalas  hinaan mereka  dengan balik menghina! Karena sesungguhnya, kehinaan itu akan kembali kepada seorang penghina. Dan sekarang, sudah bukan jamannya lagi untuk berdebat dengan  sesama  muslim!   Selama  muslim  itu  benar  dalam  pandangan  syariat, melakukan perbuatan yang pernah  dilakukan  oleh Rasulullah, melakukan perbuatan yang tidak dilarang oleh Rasulullah. Maka kita, tidak usah saling membenarkan atau menyalahkan! Kita ingat, musuh bersama kita sekarang bersatupadu memerangi kita. Mereka  sedang  menyiapkan  senjata-senjata  mereka.  Sejata  materil,  Pun  senjata propaganda  perpecahan  umat.  Maka  kita  jangan  sampai  tertipu  daya  dengan propaganda  itu.    Adakalanya,  saat  kita  berdebat.  Janganlah  mencari  pembenaran, tetapi carilah  kebenaran untuk kemaslahatan. Bukan kebanaran abstrak yang kolot harus dilakukan. Karena, kita harus ingat. Bahwa jaman terus berubah, banyak aturan- aturan Rasulullah yang tidak mengatur dalam aturan jaman yang akan datang. Dalam konteksnya, ijtihad-ijtihad yang dilakukan ulama satu  dengan  ulama yang lainnya. Tidaklah boleh saling membuat perpecahan diantara umat Islam!

Kita ingat bahwa sesungguhnya, sebuah persatuan dalam Islam akan terjadi. Manakala semua umat Islam mengerti apa yang dilakukannya masing-masing. Usaha- usaha  untuk  saling  mengingatkan  antara  sesama  Islam.  Harus  dilakukan.  Tetapi dengan cara bahasa yang santun, tidak menyakitkan hati seorang yang akan kita beri pengingatan kembali. Banyak cara agar persatuan Islam dapat kembali, salah satunya seperti yang ana sebutkan tadi. Karena jika kita terlena dengan  perang kita sendiri, sedangkan ada musuh bersama yang sedang mengintai kita. Yang sekarang  sedang melakukan persiapan untuk menghancurkan umat Islam. Sekarang, sudah saatnya kita harus  bangun dari tidur kita dengan mimpi-mimpi buruk perpecahan umat Islam. Akan menjadi sebuah kehancuran, saat-saat kita masih terbuai dengan mimpi-mimpi berdebat dengan sesama Islam.  Jangan-jangan, saat kita terbangun dari tidur. Para musuh  Islam,  sudah  menodongkan  senjata   dihadapan  kita!  Apalagi,  saat  kita

terbangun. Ternyata kita sudah berada dipenjara-penjara musuh Islam. Atau, jangan- jangan. Malah  saat kita terbangun, kita sudah berada diakhirat. Dibangunkan oleh malaikat dengan pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang kita lakukan untuk Dien kita ini! Dibangunkan oleh malaikat,  saat kita diakhirat. Karena pada saat kita sedang tertidur, musuh-musuh Islam telah menjatuhkan  bom-bom mereka. Sehingga, kita tidak sadar bahwa kita telah meninggal. Kita telah berad diakhirat, karena kebodohan kita memerangi umat Islam sendiri!

Apakah kita  rela  memerangi  saudara  kita  sendiri?  Apakah  kita  memang menginginkan  kehancuran  umat  Islam?  Ataukah,  karena  kita  ingin  menunjukkan kebenaran yang pada dasarnya hanya ingin memenangkan sebuah perdebatan? Masya Allah. Kita sekarang sedang dilanda dengan berbagai hinaan, cercaan dari umat yang lain. Apakah kita harus saling menghina  umat Islam sendiri! Inilah yang memang seharusnya  koreksi  bagi  kita.  Meskipun,  saudara-saudara  kita  menghina  dengan perkataan  yang  menyakitkan  hati.  Cukuplah  Allah,   mengetahui  apa  yang  kita inginkan. Hanyalah Allah, yang biar membuktikan niat dan cara kita  tidak seperti yang mereka duga. Dan biarkanlah hujatan-hujatan itu, Allah yang menjawabnya!

Maka seharusnya  kita,  berlapang  dada  dalam menerima  pengingatan  yang menyakitkan.   Berusaha  berlapang  dada  dengan  hinaan  yang  mereka  ucapkan. Berusaha untuk istiqomah  dalam kekuatan yang kita bangun dan kita satukan. Kita tidak usaha memaksa mereka untuk  mengikuti cara-cara kita. Kita tidak memaksa mereka mengikuti pola perjuangan yang sedang kita jalankan. Tidaklah sakit hati, jika saat kita dihina oleh mereka. Sehingga kita menjadi terhina.  Semua  itu harus kita pupuk dalam diri kita. Sehingga kita tidak merasa rendah dibanding mereka!  Kita harus ingat. Bahwa saat dijaman Rasulullah. Perjuangan-perjuangan yang dilakukan bersifat  mengikuti apa yang diperintahkan oleh Beliau (Rasulullah). Tetapi disaat jaman setelah  Rasululllah. Kita menjadi ingat, bahwa banyak perbedaan pendapat yang terjadi pada beberapa sahabat Rasulullah.

Namun,  perbedaan  itu  tidak  menjadikan  sebuah  perpecahan  umat.  Malah menambah   semangat  untuk  memperjuangkan  Dien  kita  ini.  Sehingga  kita  bisa melihat,  bagamaina  Abu  Bakar  dengan  Umar  saat  berbeda  pendapat.  Kita  ingat tentang Utsman dan Ali yang berbeda pendapat. Mereka tetap menyatukan diri dalam satu naungan. Meskipun mereka mempunyai perbedaan yang mencolok. Bahkan kita lihat Khalid bin Walid saat berbeda pendapat dengan Umar  bin Khattab. Tidaklah menjadikan  perbedaan  itu  meretakkan  hubungan  ukhuwah  mereka.  Mereka  tetap dalam koridor-koridor  perjuangan  yang  pasti.  Dan  tidak saling menyalahkan atas perbuatan yang dilakukan setiap sahabat. Dan tidaklah terdapat hujatan, hinaan, atau bahkan  cemoohan  dan   celaan  kepada  mereka.  Bahkan  mereka  dengan  sangat berlapang dada, saling memuliakan  saudaranya saat terjadi perbedaan pendapat. Ini merupakan sebuah contoh yang bagus. Ini merupakan sebuah kekuatan ukhuwah yang harus kita jalankan. Bukan malah menjadikan sebuah perbedaan  sebagai hal yang menakutkan.  Bahkan  menjadikan  rival  saudara  kita  sendiri,  saat  mereka  berbeda pendapat dengan kita.

Ini merupakan perkara yang besar yang harus kita hadapi. Yang harus kita pahami. Yang  harus kita mengerti. Bukan hanya sekedar memaksakan diri untuk mengatakan kepada saudara kita. Bahwa kitalah yang paling besar dan berjasa dalam memperjuangkan  agama  kita  ini.  Bahkan  mengatakan,  kitalah  yang  paling  benar

dalam setiap cara perjuangan yang kita lakukan. Jangan! Cara-cara yang kita gunakan harus tetap sesuai dengan koridor-koridor yang sudah ditetapkan dan diajarkan oleh Rasulullah. Dan bila terjadi sebuah cara yang lain, selama cara itu tidak merugikan atau bahkan menyimpang dari ajaran. Maka seharusnya kita tidak ada sebuah celaan terhadap sesuatu cara baru tersebut. Atau dengan kata lain, kita mudah mengatakan sebuah kebid’ahan kepada saudara kita.

Pemahaman dan pengertian sesama saudara Islam. Sangat wajib dilakukan. Bukan celaan  dan pembenaran yang menjadikan umat Islam berjaya. Tetapi lebih didasari dengan kerendahan hati, kelembutan bertutur kata, kemulian akhlak kepada setiap saudara umat Islam yang seharusrnya  ditunjukkan. Insya Allah, seperti    itu. Wallahu’alam.” Jelaku penjang lebar.

“Mbak, lalu cara-cara untuk tidak terprovokasi untuk saling menghujat bagaimana?” Tanya Febri.

“Insya    Allah.    Hujatan,    celaan,    cemoohan    dan    perbuatan    yang    lain.    Yang menimbulkan  rasa  sakit  hati  seorang  yang  mendengarkan.  Timbul  karena  adanya sebab-sebab  yang  ditumbulkan  dari  beberapa  faktor,  yaitu  internal  dan  eksternal. Faktor  Internal  lebih  dipengaruhi  oleh  hati  kita  sendiri.  Faktor  eksternal,  lebih dipengaruhi oleh sebuah stimulan atau  pembangkit dari perkatan tersebut. Seperti halnya, berdebat dengan argumentasi atau hujjah yang  menginginkan orang harus mengerti  dengan  apa  kita  maksud.  Memaksakan  kehendak  seseorang   saat  kita berdiskusi  untuk  mengikuti  cara  yang  kita  lakukan.  Tidak  mau  mengerti  dengan hujjah  atau argumentasi orang lain. Dengan contoh sebab-sebab seperti itulah yang akan membuat kita menjadi melakukan hujatan, celaan, cemoohan dan perbuatan lain yang tidak enak untuk didengar.  Yang paling terpenting, kita tidak usah berdebat dengan  orang-orang  muslim.  Karena  pada  dasarnya,  perdebatan  itu  dilarang  oleh Allah. Selain berdebat dengan cara yang baik dan  dilakukan kepada orang-orang kafir.  Allah  tahu,  bahwa  perdebatan  itu  adalah  bumbu  perpecahan.  Maka  Allah melarang kita berdebat. Seperti dalam Qur’an Surat Al Ankabut 46. ‘Dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.’ Sehingga Allah memberitahukan sebuah perdebatan hanya untuk para Ahli Kitab dan orang-orang zalim. Bukan untuk sesama orang-orang Islam!” jelasku.

“Lalu, bagaimana cara yang terbaik dalam berdakwah tanpa harus berdebat Mbak?” Tanya Ine.

“Ana belum tahu cara yang terbaik. Karena masing-masing mempunyai versi cara terbaik bagi dirinya sendiri!” Ucapku senyum. Setelah menghela nafas, aku lanjutkan penjelasanku  “kalau  menurut  ana  sih,  cara  yang  terbaik  dalam  berdakwah  agar terhindar dari perdebatan yang  membuat hati kita menjadi panas dingin, keringat dingin    mengalir,  detak  jantung  yang  tidak  beraturan,  nafas  yang  tersengal,  dan membuat sorot mata kita tajam bagaikan akan menerkam  sebuah mangsa didepan. Adalah, dengan cara tidak melakukan sebuah perdebatan. Atau menghindari hal-hal yang berbau perdebatan. Karena, kita harus yakin. Masih banyak cara yang lain dari pada harus berdebat dengan egoisme setiap masing-masing pembicaranya! Dengan

tidak menuruti hawa nafsu untuk berdebat, maka kita sudah menghindari perpecahan umat  Islam.   Dan  dengan  begitu  dakwah  kita,  Insya  Allah  akan  lebih  mudah. Seseorang  diingatkan,  tidak  harus  didebat  dengan  kebenaran  yang  benar.  Tetapi cukuplah  diri  seseorang  yang  mengingatkan  itu  melakukan  apa  yang  diucapkan. Sehingga  itu  yang  menjadi  contoh  bagi  orang  yang  akan  diingatkan!  Dan  ada beberapa hal yang harus kita pahami. Bahwa dakwah, bukan berarti tugas  seorang saja.  Tetapi  setiap  umat  muslim,  berhak  dan  wajib  untuk  berdakwah.  Dengan mendakwahkan  ajaran-ajaran  yang  memang  tidak  diragukan  lagi  kebenarannya! Bagaimana?” Ucapku

Mereka mengangguk setuju.

“Lalu, Mbak. Cara dakwah seperti apa yang menurut Mbak Farah bagus?” Tanya
Ratna.

“Cara dakwah yang bagus? Hem, ana pernah dengar dari salah satu ikhwan. Akhi Khalid  namanya,  ikhwan ini mengatakan saat dia ditanya seperti itu. Dengan satu kalimat.  Cara  dakwah   yang  bagus  adalah  bersyi’ar  seperti  Jamaah  Tagbliq, berakhidah seperti para Salafi, dan berakhlaq dan ikhlas seperti Ikhwanul Muslimin. Tetapi,   bukan   berarti   satu   dengan   yang   lainnya   bertentangan   atau   memiliki kekurangan.  Tidak.  Kita  hanya  mengambil  cara-cara  yang  terbaik,  yang  pernah dilakukan oleh mereka. Dan tidak mengkotak-kotakan satu dengan yang lainnya. Jadi itulah cara dakwah yang menurut ana bagus!” sedikit, aku menghela nafas. Setelah itu mengatakan. “Baik, sudah malam nih! Bagaimana kalau liqo’ kali ini kita akhiri saja?” Tawarku.

“Hem, disini masih jam sepuluh pagi Mbak!” Ucap Ratna.

“Yee... anti di Amrik. Kalau disini mah, sudah jam 10 malam!” Sergahku sambil tersenyum.

Beberapa para chatter pun tersenyum. Entah termasuk para chatvoice juga. Aku tak tahu, karena aku tidak melihat mereka tersenyum.

“Iya, kalau Mbak Farah ingin off dulu silakan! Terima kasih banyak atas taujihnya. Insya Allah, kami mendapatkan ilmu yang belum kami dapat.” Ucap Febri.

“Ok, ana Off dulu yah. Ana udah capek banget nih! Sebelumnya, ana minta maaf jika taujih  ana  ada   yang  tidak  berkenan  dihati  anti  semua.  Baik,  ana  off  dulu. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

“Walaikumsalam  warahmatullahi  wabarakatuh.”  Serempak  jawaban  para  chatter tanpa dikomando.

Setelah itu aku langsung menshoutdown komputer.
 

JILID 8
“Insya Allah, ana siap menikah dengan anti!”

Aku  terbangun   dari   tidurku.   Jantungku   berdetak   cepat   tidak   karuhan. Keringatku  mengucur deras. Sejenak aku mengingat mimpi yang menghampiriku. Tidak  mungkin!  Gumamku  lirih.  Sejenak  air  mataku  mengalir.  Entah  mimpi  tadi adalah sebuah kebahagiaan, atau sebaliknya. Aku tidak tahu!

Suara  adzan  shubuh  menggema  dalam  keheningan  pagi.  Masya  Allah, malamku terlewat lagi. Tahajjudku, tertinggal kembali. Begini, kalau tidak ada suami yang membangunkan! Ucapku dalam hati. Seraya tersenyum. Segera aku bangun dari peraduan kasur busa yang empuk. Bergerak menuju kamar mandi. Setelah berwudhu, aku langsung mengambil jilbab dan mukenaku.  Sesegara mungkin aku keluar dari kamar,  mengajak  ummi  untuk  langsung  kemasjid.  Ternyata  Ummi  sudah  berada menungguku.   Untuk   berangkat   bersama-sama   kemasjid.   Tentunya,   tidak   lupa mengajak bi Iyem untuk sholat berjamaah ke masjid.

Memang dahulu ada ketentuan, seorang wanita dilarang untuk pergi kemasjid. Tapi bukan  berarti tidak boleh. Hanya saja, mungkin saat dijaman itu jalan-jalan masih  gelap.  Dan  ditakutkan  terjadi  sesuatu  hal  kepada  para  wanita.  Karena  itu, sekarang banyak ahli fikih yang menyatakan boleh seorang wanita sholat berjamaah dimasjid. Setiap berjalan dalam langkah menuju Baitullah. Aku teringat dengan Abi. Kangen. Sudah enam bulan, Abi berada di Mesir. Mengurusi perusahaan yang baru dibelinya  disana.  Hem.  Rasanya  aku  ingin  bercerita  banyak  kepada  Abi.  Tetang mimpiku tadi malam!

Seperti  biasanya,  setelah  sholat  shubuh.  Amalan  pertama,  membaca  al ma’tsurat  yang  kedua tilawah dan menghapal hadits serta Al Qur’an. Lalu berolah raga.  Sedikit  meregangkan  otot-otot  yang  kaku.  Gerakan-gerakan  beladiri  yang pernah aku pelajari. Aku ulang kembali, hitung-hitung menghapalnya lagi. Memang seharusnya para akhwat juga harus  belajar beladiri. Kalau teringat peristiwa lalu. Seharusnya  aku  sudah  dapat  membekuk  para   penjahat  itu.  Meskipun  mereka membawa  pistol,  seharusnya  aku  lebih  berani  dengan  merebut   pistolnya.  Jika seandainya aku sudah bisa dan terlatih dalam berbeladiri. Pastilah dengan mudah aku merebut pistol itu. Tapi sayang, rasa takut teramat dalam yang sudah melandaku. Ya Allah, azamkan pada diriku untuk lebih berani!

Aku teringat saat masih belajar beladiri. Para Al Ukh, sering aku ajak untuk ikut latihan.  Tetapi sayang, banyak para Al Ukh yang menolak berlatih beladiri. Dengan alasan yang  bermacam-macam. Seperti halnya, bahwa Akhwat sudah tidak jamannya   lagi   berlatih   beladirilah,   sekarang   jamannya   sudah   tidak   memakai beladirilah, sekarang perangnya memakai otaklah.  Entah seribu satu macam alasan yang digunakan oleh para Al Ukh, untuk tidak mengikuti latihan  beladiri. Padahal, Rasulullah sudah mengingatkan kita, bahwa mukmin yang kuat lebih dicintai Allah ketimbang mukmin yang lemah. Kuat dalam artian, adalah kuat dalam segala hal. Kuat hartanya, kuat  fisiknya, kuat akal fikirannya. Dan kuat dalam hal yang lainnya. Ini yang seharusnya menjadi  pengingat kita. Bahwa Rasulullah senang dalam bergulat (beladiri) untuk melatih ketangkasan geraknya, Rasulullah menganjurkan kita untuk

bisa berenang atau sering berenang, dalam artian.  Bahwa Rasulullah menginginkan keseimbangan  dalam  kehidupan  kita.  Lalu  Rasulullah  menyerukan  untuk  berlatih memanah. Rasulullah  menyerukan itu, agar kita lebih bisa memfokus dalam satu target yang tepat dalam berdakwah. Sambil mengukur dan mengetahui jarak sasaran yang tepat dalam berdakwah. Semua itu punya alasan. Bukan seperti kita yang selalu beralasan. Jika seorang akhwat bisa beladiri, maka akhwat itu Insya Allah akan lebih terjaga dalam geraknya. Bukan hanya pintar beladiri, tapi akhwat pun tidak  harus gaptek. Semua hal seharusnya diimbangi. Bukan hanya salah satu saja.

***

Sejenak saat aku membaca surat Faathir 11. “Dan Allah menciptakan kamu dari tanah  kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan  umur  seorang  yang  berumur  panjang   dan  tidak  pula  dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.” Aku jadi teringat mimpiku. Yaa Allah, seandainya engkau memang benar-benar menjodohkannya kepadaku. Maka aku akan senang sekali, tetapi aku juga tahu. Bahwa keinginan dan kesenangan-Mu jauh lebih aku senangi!

Aku bingung. Bingung dalam rasa ketertarikan kepada seorang ikhwan. Aku tidak melihat wajahnya, yang aku lihat geliat dakwahnya. Sungguh sangat memukau. Dia begitu bersemangat dalam berdakwah. Ketegasan dalam memimpinnya pun sudah aku rasakan. Seorang leadership yang begitu  hebat. Sangat hebat menurutku. Entah aku  melihat  dengan  nafsuku  atau  karena  dia  bisa   memperlihatkan  kemuliaan akhlaknya.    Aku    sangat    bingung.    Apakah    aku    harus    mendahuluinya    untuk memberitahukan maksudku ini? Tapi aku malu! Tidak, aku  tidak boleh malu. Ini bukan sebuah rasa malu. Walaupun aku nanti ditolak, biarkan. Tapi, ini  bukanlah rasa malu. Aku harus seperti shahabiah yang lainnya. Meskipun ditolak, tapi ini bukanlah hal yang memalukan. Yang memalukan adalah, seorang akhwat yang hanya memendam rasa cintanya dan hanya bisa berharap tanpa ada usaha yang pasti untuk menggapainya! Aku harus bisa menggapainya.

Aku langsung menyambar HP dan kunci mobilku. Dengan cepat aku bergegas langsung menuju mobil. Didalam mobil aku langsung menelephon bibiku. Ustadzah Heni.

“Hallo!” Ucap Bibiku.

“Hallo, Assalamualaikum. Bunda!” Salamku. Panggilan Bunda merupakan panggilan kesayangku  kepada  Bibiku.  Karena  sejak  masih  kecil  aku  sudah  disuruh  untuk memanggil  Bunda.  Tetapi,  kalau  ditempat  kajian  aku  tidak  mau  memperlihatkan kedekatanku dengan Bibiku. Biar kesannya  nanti, bukan hanya aku yang memiliki beliau.

“Walaikumsalam, Zah! Ada apa nih?” Tanyanya.

“Ana pengen ketemu, Bunda! Sekarang, Bunda ada dimana?” Tanyaku balik.


“Ana masih ngajar, setengah jam lagi ana sudah selesai! Anti datang disekolahan aja yah!” Jawabnya.

“Ok, Bunda. Ana sekarang meluncur kesana!” Ucapku sedikit manja. “Iya, ana tunggu!”
“Assalamualaikum!” Ucapku. “Walaikumsalam!”
Dengan segera aku langsung bergegas di SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) Insan
Mulia.

***

“Wah, ini ada apa? kok kelihatannya ada masalah yang besar!” Ucap Bibiku.

“Nggak juga, sih Bunda! Ana mau silahturahmi ke Bunda aja.” Jawabku enteng. Tetapi menyiratkan sesuatu yang terpendam.

Bibiku tersenyum. “Hem, mana mungkin hanya silahturahmi. Pasti ada yang lainnya.” Goda bibiku.

“Hehe... Bunda tahu aja!”

“Anti sudah  ana  asuh  sejak  masih  bayi!  Jadi  ana  tahu  sifat  anak  sendiri  dong!” Ucapnya menghibur. Seraya membelai kepalaku.

“Ana mau tanya, Bunda! Tentang Ukhti Reni!” “Ada apa, dengan Ukhti Reni?”
“Ana pernah ngobrol dengan Ukhti Reni, kalau dia ingin menembak duluan. Sudah belum Bunda?” Tanyaku.

“Oh, itu. Alhamdulillah, sudah! Tetapi, jangan memberitahu teman-teman anti dahulu. Ini masih dalam proses. Ana bersyukur, ada akhwat yang seberani itu!”

“Hem, lalu si Ikhwan menerima nggak Bunda?”

“Insya Allah, dari taarufnya. Si Ikhwan menerima! Memangnya kenapa?” “Oh... nggak apa-apa kok Bunda!” Jawabku, sedikit tergagap.
“Nggak apa. Apa, nggak apa-apa?” Goda Bibiku.

“Hehe... nggap apa-apa kok Bunda! Ana hanya pengen meniru Ukhti Reni.” Jawabku. Sedikit tersenyum malu.


“HA..! Alhamdulillah, sekarang Farah Zahrani sudah besar! Sudah dapat menentukan pilihannya sendiri.” Ucap Bibiku. Terlihat kaget tetapi tersenyum senang.

“Boleh, nggak Bunda?”

“Ya, tentu boleh dong. Tetapi, tetap harus diseleksi dulu akhidahnya. Meskipun anti yang memilih. Ana nggak mau anti menikah dengan seorang ikhwan yang akhidahnya tidak lebih baik  dari anti!”

“Insya Allah. Pilihan ana ini cocok kok buat keluarga kita!”

“Hem. Tetapi anti juga harus ingat. Jika dia tidak menerima anti, anti tidak boleh merasa sangat malu. Malu boleh tetapi harus tetap dikontrol. Agar tidak menjadikan rasa malu itu menjadi futur dalam berdakwah!”
“Iya, Bunda!” Jawabku singkat. Sambil masih memperlihatkan sedikit rasa malu. “Lalu, Ikhwan mana yang terpilih untuk menjadi pendamping sang Bidadari?” Goda
Bibiku lagi.

Aku masih senyum dengan memendam rasa malu yang teramat sangat. “Akhi Khalid. Akhi Khalid Hendriansyah.” Jawabku singkat.

“Alhamdulillah. Anti memilih seorang Akhi yang memang tidak salah untuk dipilih! Tetapi anti sudah bilang ke Ummi belum?”

“Belum, Bunda. Insya Allah nanti, setelah ini!”

“Hem. Ya sudah, biar ana yang nanti bicara dengan Ummi! Anti persiapkan mental saja dulu.”

“Iya, Bunda!”

“Nanti, ana akan bilang ke ustad Fadlan. Ammi  anti! Biar diurus semuanya.”

“Ana tunggu ya, Bunda. Bunda masih ada acara lagi nggak? Kalau nggak, ana antar
Bunda pulang!”

“Hem, syukron. Ana nanti masih ada syuro’ dewan guru. Ana nggak enak ninggal. Masa kepala sekolahnya nggak hadir disyuro’!” Ucap Bibiku. Dengan tersenyum.

“Ya, kalau gitu ana pamit dulu. Bunda! Assalamualaikum” Ucapku sambil mencium tangan bibiku.

“Iya. Walaikumsalam. Hati-hati!”

***

Dalam perjalanan pulang. Degup jantungku tak beraturan. Seorang Ikhwan yang sejak dahulu mencuri hatiku. Harus aku raih dengan keberanianku. Keberanian untuk  menembaknya   duluan.  Aku  takut,  kalau  sebenarnya.  Akhi  Khalid  juga berpikiran demikan. Berpikiran, bahwa  dia tidak cocok untukku. Hingga dia tidak berani menembakku duluan. Dari pada harus menunggu dengan ketidakpastian. Aku harus lebih berani menerima sebuah kepastian. Meskipun nantinya, jika  aku harus ditolak oleh Akhi Khalid. Pedih dalam hati, pasti. Tapi, aku akhinya bisa mengetahui kepastian itu.

***

“Tluuut.... tluuutt..” bunyi Hpku. “Vita!” Tampilan nama di LCD Hpku. “Assalamualaikum!” Ucapku. Setelah menekan tombol Call. “Walaikumsalam.” Jawabnya.
“Wah, apa kabar Mbak?” Tanyaku. Basa-basi.

“Baik! Kalau kamu, gimana Far?” Ucapnya. Balik bertanya. “Alhamdulillah, baik juga! Ada apa Mbak?”
“Oh, nggak ada apa-apa! Hanya pengen nelphon aja. Kamu sekarang ada acara nggak, Far?”

“Nggak ada. Kenapa Mbak?”

“Aku pengen ngobrol. Bisa nggak?”

“Insya Allah, bisa! Pengen ngobrol dimana Mbak?” “Kamu bisa ke Asia Resto nggak, sekarang?”
“Bisa. Ok, aku sekarang kesana ya Mbak!” “Iya, aku tunggu!”
“Assalamualaikum!” Salamku. “Walaikumsalam!”
Asia Resto. Hem, berkelas juga nih! Marcedesku melaju dalam aspal yang terpanggang dengan panas yang terlihat membara oleh fatamorgana.

***

Setelah aku parkir mobilku. Bergegas aku langsung masuk ke Restourant itu. Asia Resto,  salah satu pijakan para eksekutif dan pembisnis untuk melepas penat kesehariannya. Makanannya halal, tetapi mahal-mahal. Abi pernah mengadakan rapat

direktur disini. Yang akhirnya, aku kritik habis-habisan. Karena kehidupan hedonis sudah masuk  diperusahaan yang mereka nyatakan perusahaan Islami. Seketika itu pun, Abi sudah tidak pernah lagi menyewa restourant itu.

Vita terlihat duduk sendirian. Wajahnya seperti menyimpan gundah dalam hati yang   mendalam.  Dia  terlihat  melamun,  sambil  memain-mainkan  sedotan  soft drinknya. Aku langsung berjalan kearahnya.

“Assalamualaikum!” Ucapku. “Wa..laikumsalam!” Jawabnya, tergagap.
“Kok melamun, Mbak?” Tanyaku sambil senyum.

“Ah, nggak kok! Silakan duduk. Eh, kamu kok cepat sekali datangnya?” Ucapnya. Sepertinya, mengalihkan pembicaraan.

“Iya. Sebenarnya sih, aku tadi dalam perjalanan yang sejalur dengan restourant ini. Jadi lebih cepat sampainya!” Jawabku. Tak lupa dengan senyum ramah.

“Mau pesan apa, Far?” Vita menyerahkan daftar menu, kepadaku.

Aku buka  daftar  menu  air  minum.  “Jus  Alpukat  aja  deh!” Ucapku,  saat  melihat minuman kesukaanku.

“Kalau makannya?” Tanya Vita.

“Hem. Nggak deh, aku masih kenyang! Jus Alpukat aja, udah mengenyangkan kok” Jawabku sambil tersenyum.

Vita tersenyum. Setelah itu memanggil waiters dan memesankan pesananku. “Farah, kamu nggak apa-apa kan. Aku undang kesini!” Tanyanya.
“Hem. Nggak kok Mbak. Hanya saja, aku kikuk aja ditempat seperti ini. Kesannya elit banget!  Kalau aku, makan di Ayam Bakar Wong Solo aja sudah kemahalan.” Ucapku. Sambil bercanda. Untuk ukuran eksekutif, seperti Vita. Memang style yang diutamakan. Walaupun, pulang pergi naik angkot! Tentunya, jika aku disuruh untuk memilih antara Asia Resto dan Ayam Bakar Wong Solo. Mending di ABWS aja deh!

Vita hanya tersenyum. Sejenak, wajah yang cerianya berubah kembali murung. Kesan raut wajah menyiratkan gundah yang mendalam.
“Mbak, kok kelihatannya sedih! Ada apa, cerita-cerita dong? Kali aja aku bisa bantu!” “Ya,  karena  itulah  aku  memanggil  kamu!  Entah  kenapa,  aku  ingin  sekali  curhat
dengan kamu! Entahlah.” Vita sedikit menundukkan wajahnya. Sejenak menahan rasa deru.  Matanya  berkaca-kaca.  “Farah.  Aku  memang  sukses  dalam  karier!  Tetapi, kehidupan rumah tanggaku sangat berantakan.”

Aku hanya  mengangguk.  Ikut  mencoba  merasakan  kesedihannya.  Walaupun,  aku tahu. Itu hanya cerita klasik seorang wanita karier.

Tetesan air  matanya  berjatuhan.  Sedikit  Vita  mulai  mengatur  nafasnya,  mencoba mengatur lagi kondisi tubuhnya.

Vita menceritakan, kehidupan rumah tangganya tidak seindah kariernya yang terus  melonjak.  Suaminya  menjadi  tidak  betah  dirumah.  Hingga  akhirnya  Vita menjadi  sering  bertengkar  dengan  suaminya,  hanya  karena  masalah  sepeleh  saja. Mengatur rumah, memasak,  mengurusi anak, dan lain sebagainya. Tidak dapat dia kerjakan.  Karena  kesibukan  pekerjaannya.  Sampai  pada  suatu  malam,  saat  Vita pulang dari kantor. Dia melihat suaminya sangat khawatir  dengan kondisi anaknya. Badannya  demam  tinggi.  Beberapa  kali,  anaknya  meracau  tidak  karuan.  Segera langsung  Vita  dan  suaminya  pergi  kerumah  sakit.  Hingga  akhirnya  anaknya diopname. Saat dirumah sakit, suaminya terlihat sangat sabar. Tidak seperti biasanya. Tidak  seperti  hari-hari  yang  dialami  dengan  pertengkarannya.  Suaminya  kembali menunjukkan sifat kesabarannya, yang pernah diadapatkan saat masih berpacaran dan hari-hari setelah menikah serta hari-hari saat baru mempunyai anak. Saat Vita belum bekerja.

Dengan arah pembicaraan yang terlihat sangat gundah dan gelisah. Tetapi tetap menunjukkan kesabarannya. Suami Vita, memberikan pilihan kepada Vita. Dia berhenti bekerja  dikantor, atau silakan melanjutkan pekerjaannya tetapi dia harus bercerai. Sebuah pilihan yang sangat berat baginya. Karena dia bekerja itupun, untuk mencukupi  kekurangan  gaji  suaminya.   Apalagi    disaat-saat  kariernya  hampir mencapai puncak. Vita menjadi sangat bingung. Hingga akhirnya dia, mengundangku kerestourant  yang  mahal. Hanya untuk mendengarkan keluhannya. Dan kalau bisa, memberikan wejangan untuknya. Karena, menurutnya. Orang-orang yang mempunyai kekuatan iman. Adalah orang-orang yang bisa memberikan solusi yang bagus untuk setiap orang. Bagus memang, hanya saja aku  menjadi tersanjung dengan ungkapan itu. Yaa Allah, lindungi aku dari sifat riya, ujub dan takabur.

“Mbak, Vita! Sebenarnya, nggak usah repot-repot ditempat seperti ini kalau mau curhat. Kemahalan, lagi Mbak! Dicafe-cafe yang murah aja aku siap kok. Atau rumah, dirumah Mbak Vita atau bisa juga dirumahku!” Ucapku.

“Aku,  sangat  menghargai  orang  yang  mau  membantuku.  Bahkan  hanya  untuk mendengarkan curhatku saja. Aku sangat harus menghargainya!” Ucap Vita. Terlihat berharap dia mendapatkan solusi.

“Mbak. Kalau aku sih, jika Mbak mengundang dirumah Mbak Vita. Itu lebih terlihat menghargaiku,  daripada  harus bermahal-mahalan  dirumah  orang”  Ucapku.  sambil dengan senyum.

“Hem. Kalau gitu, Insya Allah kamu aku undang kapan-kapan dirumahku! Kalau menurut kamu, masalahku ini bagaimana?” Ucapnya, sambil terlihat bingung.

“Mbak, sebenarnya persoalan Mbak Vita ini klasik! Sering terjadi pada para wanita karier. Yang berkarier dalam pekerjaan diluar rumah! Kesibukan dia menjadi sangat menyita waktu para wanita karier ini!” Sedikit aku menghela nafas panjang. “Mbak,

kalau kita telaah lagi. Antara wanita dan pria yang melakukan sebuah pekerjaan. Saat para  lelaki   melakukan  pekerjaannya,  atau  bekerja.  Mereka  mempunyai  tujuan. Pertama,  yang  biasanya  belum  menikah.  Maka  tujuannya  adalah  untuk  menikah. Yang kedua, jika lelaki ini sudah  menikah. Maka tujuannya adalah, memberikan nafkah kepada keluarga. Seburuk-buruk suami,  tetap  suami itu ingin memberikan nafkahnya kepada keluarganya! Tetapi, jika wanita bekerja.  Biasanya yang terjadi. Pertama, untuk wanita yang belum menikah, tujuannya adalah dua. Menabung untuk pernikahan, atau menabung untuk urusannya sendiri. Kedua, tujuan wanita bekerja yang  mempunyai suami. Biasanya untuk membantu pemasukan keungan keluarga. Tetapi, itupun tidak mutlak biasanya juga untuk kebutuhannya sendiri!

Tetapi, jika seorang wanita yang bekerja dengan tujuan mulia. Yaitu untuk membantu  pemasukan keuangan keluarga. Maka tujuannya jelas, bahwa keuangan keluarga yang menjadi  prioritasnya. Sehingga, keluargalah yang menjadi prioritas pertama! Dan niat itupun tidak boleh  berubah, meskipun seiring dengan apa yang telah Mbak Vita dapatkan. Seperti halnya, karier yang terus melonjak. Tujuan awal yang  Mbak  Vita  inginkan,  adalah  sebuah  kemuliaan.  Seorang  istri,  tidak  boleh berdiam diri manakalah dia melihat keluarganya kekurangan dengan sesuatu halnya. Seorang  istri,  diwajibkan  untuk  peka  dalam  urusan-urusan  keluarga.  Termasuk dengan kondisi materi keluarga! Dan tujuan seorang istri dalam pekerjaannya, harus diniatkan untuk keberhasilan dalam berkeluarga. Hingga, seharusnya. Seorang wanita itu  konsisten,  atau  dalam  bahasa  agamanya  adalah  Istiqomah.  Terhadap  niatnya. Tidak  boleh  seorang  istri  yang  bekerja  dengan  niat  untuk   keberhasilan  dalam berkeluarga. Harus menyimpang, karena keberhasilan dalam berkariernya dikantor!

Manakala keluarga lebih membutuhkan Mbak Vita. Maka tidaklah Mbak Vita harus bingung dalam memilih. Karena tujuan Mbak Vita dalam bekerja, adalah untuk keluarga Mbak Vita sendiri. Tidaklah lucu, saat Mbak Vita bekerja untuk keluarga. Tetapi, keluarga yang Mbak Vita  perjuangkan. Ternyata akan roboh karena tidak adanya andil yang besar dari Mbak Vita. Nah  sebuah pertanyaan, bagi Mbak Vita kalau ingin tetap mempertahankan pekerjaan  atau karier Mbak  Vita. Sebenarnya, untuk  siapa  Mbak  Vita  bekerja?  Dan  apa  yang  Mbak  Vita  harapkan  dari  hasil pekerjaan  Mbak  Vita?  Apakah  rasa  puas  karena  bisa  mendapatkan  jabatan  atau kedudukan   diperusahan   yang   tinggi?   Lalu,   setelah   Mbak   Vita   mendapatkan kedudukan yang tinggi. Untuk apa, jika Mbak Vita sudah tidak mempunyai keluarga lagi! Karena semua itu akan sia-sia belaka.

Dalam Islam, wanita dibolehkan bekerja. Dan tidak dikekang. Makna gender dalam Islam pun tidak bias. Tidak seperti apa yang diperjuang oleh para feminimisme. Karena, setiap perjuangan atau pekerjaan yang dilakukan oleh wanita-wanita muslim. Sudah sangat jelas. Ada tujuannya.  Tujuannya tetap untuk keberhasilan keluarga. Tetapi, jika perjuangan para feminimisme yang bias  gender itu. Tidak mempunyai tujuan yang jelas, kecuali hanya egoisme dengan hawa nafsunya sendiri!

Dalam Islam, sudah jelas. Bahwa tujuan yang diharapkan oleh para wanita muslim.  Adalah untuk keluarga. Jadi keluargalah yang nomer satu. Sebuah puncak karier yang tinggi, bagi seorang wanita. Adalah, saat mereka bisa mendidik anak-anak mereka dengan kemuliaan akhlak  bagus, akhidah yang kuat, dan kepintaran yang membuat mereka dapat bertahan dalam  kehidupannya. Sehingga tercipta keluarga yang  sangat  harmonis  dalam  kehidupannya.  Dengan  kata  lain,  wanita  itu  telah

mendapatkan kesakinahan keluarga yang selalu diharap-harapkannya. Islam, tidak memandang  wanita kaya raya, tetapi keluarganya hancur berantakan. Tetapi, Islam akan memandang seorang  istri  yang bisa menciptakan suasana yang hangat dalam keluarganya.  Mendidik  anak-anaknya  dengan  perbuatan  kebaikan  seorang  ibunya. Itulah  puncak  karier  yang  paling  tinggi.  Karena  sangat  sulit  untuk  membentuk keluarga seperti itu! Harus dengan intensif, seorang ibu menjaga anak-anaknya untuk mencapai keluarga yang seperti kita harapkan!” Aku sedikit menarik nafas panjang. “Bagaimana, Mbak?” Kataku.

“Farah. Aku sangat terkesan dengan penjelasan yang kamu utarakan! Sepertinya, kamu  lebih  memahami  sebuah  arti  keluarga  daripada  yang  sudah  berkeluarga.” Ucapnya. Sambil tersenyum.

“Hehee... Mbak Vita ada-ada saja. Yah, tidak harus berkeluarga dulu untuk mengerti arti keluarga! Dengan mempelajari sebuah hal yang berarti dalam keluarga kita. Maka kita  akan  dengan  mudah  memberikan  pengertian  tentang  arti  keluarga.  Karena keluarga kitalah yang menjadi sebuah contoh bagi kita!” Jelasku lagi.

“Iya, Insya Allah. Aku lebih tenang. Dan aku tahu, harus memilih yang mana! Tetapi Farah. Lalu bagaimana aku dapat membantu suamiku dalam memberikan pemasukan keuangan dikeluarga?” Ucap Vita. Terlihat bingung.

“Mbak Vita, bisa berdagang dirumah! Dengan berdagang apa saja. Bisa membuat toko, wartel, apa saja yang bisa menghasilkan. Dananya, bisa diambil dari pesangon yang Mbak Vita dapatkan setelah keluar dari perusahaan. Dengan seperti itu, Mbak Vita  akan  lebih  fokus  dalam  mengasuh  anak  Mbak  Vita!  Dan,  Mbak  Vita  bisa menyambut suami saat pulang dari pekerjaannya. Dengan senyum yang ramah, penuh cinta! Itu yang akan membuat suami akan terus betah dirumah.”

“Hem.  Yups,  ide  briliant!  Sebentar  yah  Farah.”  Ucap  Vita,  sambil  mengambil handphonenya.  Setelah  itu  menekan  beberapa  nomor.  “Mas,  saya  akan  berhenti bekerja. Sekarang juga, saya  akan membuat pengunduran diri! Iya. Ya sudah. Da.. Mas!” Ucapnya mengakhiri pembicarannya.

Aduh, jangan  bermanja-manjaan  didepanku  dong.  Buat  iri  aja  nich!  Gumamku. Sejenak  aku  tersenyum.  Bahagia  atas  kebahagian  yang  aku  rasakan  dari  seorang wanita yang berbahagia. “Gimana Mbak?” Tanyaku.

“Alhamdulillah. Aku udah menetapkan pilihan, semoga ini yang terbaik! Suamiku terlihat senang sekali, saat aku mengabarkan pilihanku ini!” Ucapnya riang.
“Alhamdulillah. Langkah awal yang Mbak Vita kerjakan, sekarang apa?” Tanyaku. “Untuk sekarang, aku akan mengajukan pengunduran diri! Setelah itu, aku akan buka
rumah makan. Atau entah apalah namanya, dari hasil pesangonku itu. Aku yakin pesangonku juga cukup untuk membuat rumah makan dan memperkerjakan beberapa orang dalam beberapa bulan!” Ucapnya antusias.

“Alhamdulillah.  Wah  enak  nih,  aku  pasti  akan  datang  kesana  terus  menurus!” Godaku.


“Silakan. Kalau kamu yang datang kesana pasti gratis deh! Untuk seorang sahabat, aku tidak akan menarik bayaran.” Ucapnya, dengan senangnya.

“Bukan sahabat, Mbak! Tapi saudara. Kita umat Islam, adalah bersaudara. Karena sesungguhnya semua umat Islam itu adalah bersaudara!” Ucapku.

“Terima  kasih,  Farah!”  sebuah  butiran  intan  berkilau,  berjatuhan  dari  derai  air matanya. Dia  langsung memelukku. Erat, bagaikan saudara yang telah lama tidak berjumpa.
“Mbak, sudah sore nih! Mbak mau pulang apa mau kekantor dulu?” Tanyaku. “Kayaknya,  aku  harus  kekantor  dulu.  Aku  ingin  mengajukan  pengunduran  diri
secepatnya!”

“Ok. Kalau gitu, kita bareng aja yah! Kan, jalannya searah!” Tawarku

“Ok. Tapi, sebentar yah!” Vita menuju kasir. Membayar pesanan apa yang sudah kami pesan.

Setelah itu kami pun bergegas untuk meninggalkan restourant mahal itu. Aku mengatakan kepada Vita untuk menunggu didepan restourant. Setelah itu aku menuju area parkir untuk mengambil mobil. Secepatnya, aku pun langsung menuju kedepan area restourant tempat Vita menunggu. Saat aku berada didepannya. Vita hanya diam saja, dia tidak terlihat memperdulikan aku. Setelah aku  membuka kaca mobil. Vita tergaget  sekali.  Seorang  wanita  berjilbab,  yang  berada  didalamnya.  Aku.  Sedang mengendarai mobil marecedes.

“Far, tidak salah?” Ucap Vita, heran.

Aku hanya tersenyum, sambil menggelengkan kepala.

“Kamu Farahkan? Yang naik angkot, waktu dulu itu kan?” Ucapnya, masih tidak percaya.

“Iya, Mbak! Ayo masuk.” Ajakku.

Setelah itu  Vita  masuk  kedalam  mobil.  Masih  terlihat  rasa  ketidakpercayaannya. “Farah, aku tidak menyangka. Kalau kamu orang kaya!” Ucapnya.

“Bukan, Mbak! Yang kaya orang tuaku. Dan itu hanya harta titipan Allah! Bisa habis kapan saja.” Jawabku.

“Farah,  aku  sangat  takjub  melihatmu!  Kamu  memang  benar-benar  wanita  yang sempurna!” Ucap Vita.

Pesan: =========================================================== Hanya itu yang dapat kami tulis untuk potingan artikel ini, bila pengujung semua menyukai ini silahkan tinggalkan komentar anda.... Salam Hangat By Iwan Kurniawan ===========================================================


0 komentar

Posting Komentar

Cancel Reply