Rabu, 27 Oktober 2010

Aku Menggugat Akhwat dan Ikhwan JILID 9 - JILID 12

Jilid 9

Aku sudah mengambil sebuah keputusan yang sangat penting bagi diriku. Sebuah keputusan yang akan membuat perubahan dalam hidupku. Semoga saja, apa yang aku lakukan mendapatkan sebuah keberhasilan. Keberhasilan karena keridhoan Allah kepada diriku. Insya Allah,  aku akan siap dengan apapun hasilnya. Karena niatku hanya untuk-Nya. Maka setiap yang aku  lakukan bukan berdasarkan pada nafsuku. Insya Allah.

Dalam kamar. Aku terus membayangkan apa yang telah aku lakukan. Sebuah langkah  besar  dalam  diriku.  Langkah  yang  belum  dan  tidak  pernah  terpikirkan sebelumnya. Seorang ikhwan, yang dengan dakwahnya dia hidup. Dia lebih terlihat seperti mentari yang ingin menyinari setiap detik kehidupan. Dia lebih seperti langit, yang  ingin  menaungi  orang  yang  membutuhkan.   Aku  sangat  salut  dengannya. Tidaklah sebuah kesalahan besar, jika aku menginginkannya. Aku  hanya berusaha untuk mendapatkannya. Berusaha dalam ikhtiar yang pasti dalam ketentuan syar’i.

Sejenak,  aku  mengambil  buku  harianku.  Buku  yang  setiap  kali  selalu menemaniku  dalam  keriangan  serta  kedukaan.  Sebuah  sahabat  yang  selalu  rela menjadi tempat curahan hati. Tiada hal yang dia keluhkan. Meskipun tinta yang aku torehkan kedalam tubuhnya, mungkin  menyakitkannya. Tetapi dia diam. Dia tetap tenang.  Dia  tidak  pernah  berkeluh  dalam  setiap  tinta  yang  terlekat  erat  dalam tubuhnya. Benar-benar sahabat yang setia. Tetapi, dia hanya  sebagai pelipur lara, bukan sebagai penyembuh jiwa yang sedang dalam kegundahan.

Sejenak penaku mengalir dalam kekaguman yang tersarang dalam otakku. Menuliskan apa yang telah aku lakukan hari ini.

12 Mei

Hari ini,  aku  mengambil  sebuah  langkah  besar  dalam  hidupku.  Mungkin inilah sebuah langkah awal yang besar dari sebuah pengambilan keputusan. Tetapi aku  tidak  yakin.  Seorang  ikhwan  yang  tangguh  dalam  dakwahnya,  harus  rela menemaniku menggapai kehidupan yang  aku impikan. Jantungku sempat berdetak keras, saat-saat mengutarakan maksudku kepada bibiku.  Bibiku hanya tersenyum, senang kelihatannya. Entahlah, kenapa beliau seperti itu. Apakah karena aku sudah besar dan bisa mengambil keputusan sendiri? Atau karena aku memilih seorang ikhwan yang memang tepat menjadi pilihan! Entahlah. Tetapi aku sangat ingin sekali mendapatkannya.  Mendapatkan seorang ikhwan yang begitu senang dalam setiap dakwahnya.

Sampai sekarang jantungku masih berdesir tak menentu. Aku masih tidak percaya  dengan  apa  yang  aku  lakukan.  Hampir-hampir  rasa  malu  mengalahkan semua  yang  telah  aku  rencanakan.  Padahal  aku  sudah  diharuskan  mengetahui penempatan rasa malu itu sendiri. Hem, mungkin manajemen maluku masih sangat kurang. Atau mungkin, aku tidak bisa memanajemen  rasa  maluku. Hem, entahlah! Pokoknya  semua  ini  sudah  terjadi.  Malu!  Kata  itulah  yang   masih  tertanam dibenakku. Tertanam dalam ketidak pastian tempat rasa malu. Malu, adalah sebagian

dari keimanan. Tetapi apakah yang dimaksud rasa malu itu? Apakah rasa malu itu bisa  dikategorikan kepada seorang yang ingin berinfaq atau beramal. Sedang dia malu untuk dilihat  orang, hingga dia mengurungkan menginfaqkan hartanya? Atau rasa  malu  adalah,  saat  seorang  wanita  yang  enggan  berjilbab  karena  dia  malu dikatakan sok alim? Apakah rasa malu juga bisa  diibaratkan seorang yang akan menolong orang lain yang sedang tersesat. Tetapi dia tidak menjelaskan tempat yang sebenarnya? Karena rasa malu itu sendiri! Hem, entahlah. Mana yang disebut rasa malu!

Padahal, aku yakin. Rasa malu merupakan sebuah penempatan dari sebuah kebenaran  itu  sendiri.  Bukan  rasa  yang  tertanam  dalam  hati  untuk  mengatakan, malunya sendiri. Malu seharusnya dapat diterapkan dalam sebuah hal yang bersifat kesalahan. Bukannya malah, malu ditempatkan dalam hakekat kebenaran itu sendiri! Hem, nikmatnya rasa malu. Saat malu sudah ditempatkan dalam tataran tempat rasa malu itu sendiri.

“Zah.. anti sudah tidur apa belum?”

Suara Ummi  mengaggetkanku.  Aku  menutup  lembaran  buku  harian  yang  selalu menemaniku.

“Belum, Mi! Ummi, masuk aja.” Ucapku.

Setelah membuka  pintu  kamarku.  Ummmi  tersenyum  saat  melihatku.  Setelah  itu menghampiriku.

Aku pun tersenyum. “Ada apa, Mi?”

“Nggak. Ummi hanya pengen ngobrol sama Zah! Ada waktu kan?” Ucap Ummi dengan  senyumnya yang lembut serta membelai lembut rambutku dengan tangan beliau.

Aku hanya mengangguk.

“Zah, nggak sibukkan?” Tanya Ummi lagi.

“Insya Allah, Nggak kok Mi! Emangnya ada apa sih Mi?” Tanyaku penasaran.

“Nggak sih. Ummi hanya pengen memberitahukan sebuah kabar. Entahlah, apakah ini merupakan kabar gembira bagi Zah!”

“Emangnya, kabar gembiranya apa Mi? Apa Abi akan pulang diwaktu dekat? Atau apa Mi?” Tanyaku. Penasaran.

Ummi menggelengkan kepala. “Bukan. Bukan itu kabarnya!” “Lalu, apa Mi!” Tanyaku, antusias.
“Anti, pasti kaget! Tadi siang, ada seorang ikhwan datang kerumah ini.” Ucap Ummi. Seraya tersenyum senang.


Ha! Ikhwan? Apakah benar, dia secepat itu? Benar-benar ini sebuah kabar gembira. Gumamku  dalam hati.  Senang.  “Memangnya, yang  datang  siang  tadi siapa Mi?” Tanyaku penasaran. Bercampur dengan kegembiraan.

“Akhi Lutfi. Teman anti saat masih SMP dahulu! Sekarangkan, dia sudah lulus dari Al-Azhar Kairo, Mesir! Anti ingat? Dia datang kesini untuk berta’aruf sama anti lebih dalam lagi!” Ucap Ummi. Terlihat senang.

Seketika itupun, tubuhku sangat lemas. Sendi-sendi dalam tulang yang ada dalam tubuhku  serasa  lumpuh.  Semuanya  ngilu.  Bercampur  dengan  deru  jantung  yang memburu  tanpa  asa  yang  tak  menentu.  Entah  bagaimana  aku  harus  menjelaskan kepada Ummiku. Menjelaskan tentang seorang Ikhwan. Seorang jundi Allah, dalam dakwah yang memberikan keindahan.

Aku hanya diam. Mematung. Dengan masih dibelai oleh tangan lembut Ummi. “Bagaimana, anti menerima?” Tanya Ummi.
Sontak, mengagetkan lamunanku.
“Entahlah, Mi! Ana butuh waktu untuk berfikir.” Ucapku dengan lidah yang keluh. “Hem. Ummi  mengerti! Sekarang Ummi tinggal dulu yah.” Ucap Ummi. Terlihat
mengerti tentang kondisiku. Aku hanya mengangguk.
Perasaanku pun berkecambuk. Entahlah, rasa apa yang sedang aku alami sekarang. Semuanya begitu cepat. Perasaan dalam hati begitu menyayat. Kepalaku terasa benar- benar pening sekali.

“Tluuut.... Tluuuut...” Bunyi Hpku. Sekilas aku melihat layar LCD. Nomor yang tidak aku kenal.

Dengan malas aku mengangkatnya. “Halloo...” “Halo, Assalamualaikum!”
“Walaikumsalam, ini siapa yah?” Tanyaku. Dengan rasa malas yang teramat sangat. “Ini Farah, yah?” Ucapnya. Balik nanya.
“Iya, ini Farah! Ini siapa yah?”

“Ukhti, apa kabarnya? Ini ana, Lutfi!”

Ha! Sekilas aku terkaget. “Oh, iya! Gimana kabarnya Akhi? Katanya sudah lulus yah!” Tanyaku. Basa basi.

“Alhamdulillah! Baru lulus.” “Wah, pasti sudah Hafidz nih!”
“Ah, anti jangan melebih-lebihkan! Afwan ana mau tanya. Boleh?” Ucapnya dengan sopan.

“Iya, silakan!” Ucapku.

“Anti sudah  diberitahu  oleh  Ummi,  tentang  rencana  kedatangan ana  tadi  siang?” Tanyanya to the point.

“Iya, sudah!” Jawabku singkat. Sedikit malas. “Lalu, bagaimana?”
“Hem. Sebentar ana masih harus mikir-mikir dulu!”

“Apa yang harus dipikirkan, Ukhti! Apa anti sudah punya calon lain?” Ucapnya penasaran.

“Hem.  Sebenarnya  sih  iya!  Hanya  saja  ana  belum  bicara  dengan  Ummi  tentang
Ikhwan ini.” Jawabku polos.

“Hem. Ukhti, pilihlah dengan ikhwan yang memang disenangi Ummi anti!”

Hem, ikhwan ini gimana sih! Ya pasti, antum yang dipilih Ummi. Ummi aja belum kenal dengan  Akhi Khalid! Gumamku dalam hati. “Ya, tidak bisa seperti itu dong Akh! Ana hanya perlu berpikir saja.”

“Apa dia hafidz? Dia lulusan mana?” Ucapnya penasaran, terlihat mendiskriditkan. “Dia belum hafidz. Dan belum lulus kuliah!”
“Hem.  Anti  seharusnya  sudah  bisa  memilih  langsung!  Tidak  ada  yang  perlu dipikirkan!” Ucapnya.

“Ana perlu berfikir dulu Akh. Afwan yah! Insya Allah secepatnya, ana akan kasih jawaban.” Ucapku.

“Ya, baiklah!”

“Udah  dulu  yah,  Akh!  Udah  malam,  ana  mau  tidur.”  Selaku,  mencoba  untuk mengakhiri pembicaraan.

“Oh iya, baiklah! Syukron. Assalamualaikum” “Walaikumsalam” Ucapku. Sambil menekan tuts Hp off.

Aku benar-benar bingung saat ini. Semua kebingungan yang aku rasakan menjadi bercampur aduk  dalam rongga fikir yang tak menentu. Kepalaku jadi benar-benar pusing untuk bisa memikirkan semua ini. Aku rebahkan tubuhku, dalam kasur yang selalu menaungi tubuhku untuk beristirahat. Sejenak aku pejamkan mata ini.

***

“Tluuut....Tluuut” dering Hp mengagetkanku saat melakukan tilawah harian. “Assalamualaikum, Bunda!” Ucapku.
“Walaikumsalam. Anti lagi ngapain sekarang?” Tanya bibiku

“Ana lagi tilawah sekarang! Ada apa Bunda?” “Nanti pagi, anti bisa kerumah kan?”
“Jam berapa?” Tanyaku. “Jam 8 pagi! Bisa nggak?”
“Iya, Insya Allah ana bisa! Emang ada apa Bun?” Tanyaku panasaran.

“Anti bisa berta’aruf lebih dalam lagi dengan Akhi Khalid, nanti pagi!” Ucap Bibiku. “Baik, Bunda!” Ucapku. Sedikit agak bingung.
“Baik, kelau  gitu  anti  ana  tunggu  dirumah  jam  delapan  pagi!  Ya  sudah,  terusin tilawahnya.” Ucap Bibiku. Menyemangati.

“Assalamualaikum.” Salam Bibiku. “Walaikumsalam.”
Sejenak aku  tutup  Al  Qur’an  yang  berada  didepanku.  Asa  yang  menghampiriku, membuat   semangat  bertilawah  pun  luntur.  Pudar  dari  semangat  yang  begitu menggebu. Pilihan yang sangat berat yang harus aku lakukan. Lutfi, seorang hafidz qur’an dengan Khalid, seorang aktifis dakwah. Pilihan yang membuat aku tercengang dengan dua kelebihannya masing-masing. Yaa Allah, pilihkan yang terbaik untukku. Pilihkan yang membuat hatiku tentram karenanya. Pilihkan satu dari kedua dengan akhidah dan akhlak yang menyatu. Yang menjadikanku akan selalu senang dalam berjuang  dalam  Dien-Mu.  Pilihkan  Yaa  Allah.  pilihkan  diantaranya.  Aku  sangat bingung wahai Rabb. Sang pembuat keputusan. Lindungi aku dari pilihan nafsuku!

***

Aku ambil  kunci  mobilku.  Setelah  itu  bergegas  menuju  garasi.  Saat  akan memasuki  pintu garasi. Sejenak, aku memberhentikan langkahku. Setelah itu aku mengambil Hpku. Tak lama setelah itu aku menekan tombol Hp.

“Hallo” Ucapnya seorang yang menjawab telphone diujung sana. “Hallo… Asssalamualaikum!” Salamku.
“Walaikumsalam!” Jawabnya. “Akhi Khalidnya ada?” Tanyaku.
“Iya saya sendiri, ini siapa yach?” Jawabnya.

Jantungku sedikit berdesir. Seorang ikhwan pujaan yang sedang aku ajak bicara. “Ini
Farah, Akh!” Jawabku.

“Iya, ada apa Ukh?” Tanya Khalid.

“Gini Akh, ana butuh bantuan antum! Ana kan lagi ada acara ditempat kajian. Nah ana butuh  seorang ikhwan untuk mengisi kajian ditempat ikhwannya. Antum bisa nggak Akh? Ana benar-benar meminta tolong sama antum akh? Soalnya ana nggak begitu kenal banyak para ikhwan, selain antum!”

“Kapan, Ukh?” Tanya Khalid. Terdengar semangat. “Nanti, jam delapan!” Kataku.
“Afwan, Ukh. Ana tidak bisa membantu rencana anti! Ana ada janji Ukh” Jawabnya singkat. Terlihat melemah.

“Oh..  kalau  gitu  afwan  yach  Akh!  Syukron  atas  waktunya.  Assalamualaikum!” Ucapku, bernada seperti sangat kecewa.

“Walaikumsalam” Jawabnya. Terdengar sangat sedih.

Hem, hebat juga nih Ikhwan! Dia benar-benar menepati janjinya. Entah apakah aku harus mengecewakannya! Terlihat begitu besar tanggung jawabnya.

Sebenarnya aku hanya ingin mengetest Khalid. Apakah dia benar-benar akan mendatangi rencana ta’aruf yang memang semula direncanakan. Ini merupakan salah satu pembuktian keseriusan seorang ikhwan untuk mau menjadi seorang suami yang bertanggung jawab. Serta menjadikan sebuah contoh yang baik bagi keluarga. Semoga saja!

Dalam perjalanan. Rongga-rongga fikirku, masih sangat gamang dalam asa yang hilir mudik tak menentu. Entahlah, aku menjadi sangat tidak bersemangat sekali dalam setiap  perjalanan  yang  seharusnya  bisa  aku  nikmati.  Kemacetan  yang  aku hadapi, tidak membuatku sadar akan  kebiasan yang harus aku lakukan. Arus yang begitu padat, menyesakkan mata dalam setiap pandangan. Mobil masih terus berjalan, dalam arus yang tak menentu disetiap kemacetan yang terjadi.

Tidak seberapa jauh lagi jaraknya. Rumah paman dan bibiku akan terlihat. Mobilku kini  melaju dalam jalan perumahan yang lengang. Dan akan cepat sampai

dalam hitungan menit. Kini tepat, marcedesku sudah sampai didepan rumah. Aku langkahkan  kaki  ini. Menuju pintu pagar rumah. Semilir angin menerpa pepohonan pekarangan rumah. Sejuk sekali. Suasana yang rindang hadir dalam suasa panas yang menyengat.

“Tok.... tok” Ketukanku dipintu rumah.

Pintu pun  terbuka.  Bibiku  menyambut  dengan  senyumnya.  Pelukan  erat  seorang saudara muslim pun tidak lupa kami lakukan.

“Kaifa, Ukhti?” Tanya Bibiku.

“Khoir, Alhamdulillah!” Jawabku, singkat.

“Baik, mari kita menuju ruang liqo’! Ustad Fadlan masih sedang berada diruang sebelah. Masih ada pertemuan pengurus masjid perumahan!”

Aku hanya mengekori, bibiku.

“Anti duduk. Disitu dulu yah! Ana mau buat minuman untuk pertemuan pengurus masjid dulu!”

“Iya Bunda. Tafadhol!”

Dalam ruang yang terbelah oleh kain panjang. Yang biasanya disebut sebagai hijab atau  tabir. Aku termenung dalam kesendirian. Termenung dalam pilihan yang akan menentukan  kehidupanku. Menikah. Sebuah pilihan yang memang harus aku lakukan.  Tetapi  memilih  dua  ikhwan  yang  memiliki  karakter  berbeda.  Bukanlah angan-anganku.  Entahlah,  apakah  aku  harus   mengingkari  perkataan  yang  aku ucapkan.  Atau  aku  harus  menepatinya.  Lutfi,  merupakan   ikhwan  yang  sangat sempurna dibanding Khalid. Lutfi merupakan seorang ikhwan yang sudah memiliki kemampuan yang sangat berlebih. Disamping dia hafidz dan lulusan Al Azhar Kairo, Mesir. Dia juga sudah mengelola perusahaan milik orangtuanya. Sedangkan Khalid. Mahasiswa yang kalau  keman-mana jalan kaki. Dia pun tidak hafidz Al Qur’an. Belum  bekerja,  bahkan  bisa  dikatakan  mahasiswa  kontrakan  yang  selalu  berbagi dengan yang lainnya. Dia terlihat selalu serba kekurangan. Hem. Sangat sulit dalam memilih!

Tak lama aku mendengar ada seorang Ikhwan yang datang. Mengobrol dengan Ammiku. Ustad Fadlan. Setelah itu Ustad Fadlan mempersilahkan untuk duduk dulu di ruang yang lain. Yaitu dibalik tabir yang lain.

“Alhamdulillah, ternyata pikiranku salah! Aku benar-benar mengira kalau itu keluarga si Akhwat. Hem.. pasti aku akan benar-benar kikuk kalau bertemu dengan si Akhwat Sekarang” Ucapnya lirih. Terdengar seperti berbicara sendiri.

Aku msih berdiam diri. Aku tidak berani untuk bersuara apapun. Bahkan untuk  menggerakkan badan yang akan menimbulkan suara pun. Aku minimalisir. Agar Khalid tidak  tahu kalau aku juga sudah berada didalam ruangan ini. Tidak seberapa lama, aku melihat Bibiku membuka tirai hijab atau tabir.


“Gimana,   ustad?   Apa   sudah   selesai!”   Ucapnya.   Terdengar   seperti   membuka percakapan.

“Alhamdulillah. Semuanya lancar!” Jawab ustad Fadlan dengan senyum. “Untuk ta’arufnya, jadi nggak ustad?” Tanya Khalid. Sepertinya tidak sabar. Aku hanya tersenyum. Saat Bibiku melihatku dengan senyuman.
“Ya pasti jadi, Akh! Nah akhwatnya kan sudah dari tadi diruang tabir kedua” Jawab
Ustad Fadlan.

Entahlah. Spontan rasanya Khalid langsung terdiam. Aku juga diam saja, aku malu. Aku malu  karena sejak dari tadi aku sudah berada disini. Dan mendengar ucapan Khalid.

“Assalamualaikum” Salam Bibiku. “Walaikumsalam” Serempak terdengar jawaban.
“Gimana Bi, apa sudah bisa dimulai proses ta’arufnya” Tanya tanya Bibi, pada ustad
Fadlan.

“Iya,  bisa  langsung  dimulai!”  Scap  ustad  Fadlan.  “Silakan  Akh  Khalid,  untuk menanyakan  sesuatu  hal  yang  ingin  antum  tanyakan”  Ucap  lanjut  ustad  Fadlan, mempersilahkan.

Khalid menanyaiku dengan beberapa . Mulai dari Nama, kuliah, aktivitas dan lain sebagainya. Alhamdulillah, pertanyaan-pertanyaan yang masih bisa aku jawab dengan mudah.

Sebuah pertanyaan yang membuat mentalku sedikit drop dikatakan Khalid.

“Ana  cuma  mau  mengingatkan  anti.  Kalau  ana,  belum  kerja!  Masih  berstatus mahasiswa.  Dan  keluarga ana tidak begitu kaya. Bisa digolongkan, dari golongan menengah kebawah” Katanya, seperti menaku-nakuti.

Iya, aku tahu. Apakah aku benar-benar harus menerimanya! Entahlah. Aku yang memulai, berarti aku harus teguh dalam berprinsip. Tetap istiqomah! Pikirku. “Akhi, ana pengen menikah dengan antum bukan karena harta antum. Atau bahkan jaminan antum! Kalaulah antum belum  bekerja. Asal antum mau, pasti ada pekerjaan buat antum!  Ana  cuma  mengingatkan  antum  saja.   Bahwa  antum,  tidak  akan  bisa memberikan  ana  jaminan  kepastian  untuk  bisa  menghidupi   ana!   Kalaulah  ana menikah  dengan  antum,  antum  bukanlah  penjamin  hidup  ana.  Atau  bahkan  bisa memberikan nafkah kepada ana! Allahlah yang menjamin rezeki tiap-tiap umatnya. Lalu kenapa kita harus takut untuk melangkah dalam pernikahan, karena alasan soal rezeki atau nafkah. Semua  serahkan ke Allah. Kalau ana jadi istri antum, ana siap hidup menderita karena harta. Tetapi  berlimpah-limpah keimanan! Dan ingat akh,

menikah juga termasuk salah satu pintu rezeki!” Ucapku dengan pasti. Alhamdulillah, aku bisa!

Sebuah permintaan  yang  membuatku  agak  menjadi  begitu  kikuk.  Dikatakan  oleh Khalid.  Padahal  aku ingin sekali tidak memperlihatkan wajahku. Karena aku ingin tidak terlalu mengharapkan ikhwan ini. Tetapi apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Kalau aku sudah memulai, berarti aku harus konsisten dengan apa yang aku ucapkan.

Bunda hanya melihat. Sepertinya bingung, harus berbuat apa.

Aku mendekat pada Bibiku. “Bunda, boleh!” Bisikku. Agak lama memang. Sehingga terasa suasa agak begitu hening.

Bibiku membuka tabirku, dan memanggil Ustad Fadlan. Tidak seberapa lama, Ustad Fadlan  memanggil  Khalid.  Setelah  itu  mempersilahkan  Khalid  untuk  melihatku. Melihat calon istrinya.  Sejenak saat Khalid melihatku. Aku tertunduk. Malu. Entah seperti apa ekspresi wajahku. Yang ada  hanya rasa serba salah saat dipandanginya. Aku sebenarnya juga ingin memandang wajah Khalid. Tetapi entah, kepala ini terasa sangat  berat  dan  mata  juga  terasa  sangat  kasat.  Hanya  tertunduklah  aku  untuk beberapa saat.

Begitu cepat.  Semuanya  terasa  sudah  direncanakan  dengan  matang.  Aku sendiri hanya bisa merasakan kemudahan yang diberikan oleh-Nya. Sesaat setelah itu aku langsung mengucap  syukur. Ketenangan jiwa yang aku rasakan begitu nikmat. Tetapi, dilema dua pilihan masih tetap melandaku. Aku tetap harus memilih satu dari dua ikhwan. Mereka mempunyai kelebihan dan  kekurangan masing-masing. Tetapi salah satu dari mereka pun bukan seorang yang memang aku  kenal dalam kiprah dakwahnya. Tetap, aku harus memilih. Entahlah, rasa bingungku kian memuncak.

Setelah  taaruf.   Aku   langsung   mengarahkan   mobilku   kedaerah   kumuh. Mobilku bergerak dalam lalu lintas yang tidak begitu padat. Tetapi panas yang begitu menyengat  dalam  terik   matahari  yang  garang  dalam  sinarnya.  Terlihat  begitu membara. Pasti neraka ribuan kali panasnya daripada ini! Gumamku. Mobilku terus melaju dalam kenyamanan berada didalamnya.  Memang, dalam beberapa hari ini. Aku sering menggunakan mobil. Mobilitas dalam kegiatanku  akhir-akhir ini sangat tinggi. Jadi terasa efektif bila memang aku memakai kendaraan. Bukan  bermaksud hanya untuk kesenangan pribadi.

Sosok seorang berjalan dalam terik panas matahari. Langkah tegap dalam lajunya. Terasa begitu bersemangat. Khalid. Sosok itu masih bersamangat sekali, saat dia  harus  menghadapi  bara  panas  matahari.  Sungguh  memang  tidaklah  sebuah kesalahan  jika  aku  memilihnya.  Tetapi  sayang,  hafalan  Al  Qu’an  dan  haditsnya sedikit. Saat aku berdialog dengannya, waktu di LDK dulu. Dia mengatakan “hafal Al Qur’an dan hadits itu memang harus. Tetapi hafal Al Qur’an dan hadits itu lebih wajib untuk diamalkannya! Makanya jika kita sudah hafal salah ayat atau hadits, maka wajib kita untuk melaksanakannya.” Itulah kata-katanya dahulu.

Memang  harus  disadari.  Beberapa  aktivis  dakwah  memang  sangat  banyak mobilitas  kegiatannya.  Hingga  sangat  sedikit  waktu  yang  didapatkannya  dalam menghafal Al Qur’an dan Hadits. Ini merupakan sebuah tantangan besar bagi Aktivis

dakwah yang berada dimedan dakwah. Sesuatu yang memang seharusnya dilakukan dalam berdakwah adalah mempunyai kemampuan hafalan yang sangat banyak. Tetapi mengingat  keterbatasan  waktu yang didapatkan. Maka harus ada salah satu waktu yang  dikorbankan.  Tidaklah  adil,  jika  seseorang  menyatakan  tentang  para  aktivis dakwah. Bahwa mereka tidak mempunyai hafalan yang tinggi. Tetapi, mereka tidak melihat mobilitas kegiatan yang tinggi dari para aktivis dakwah. Para aktivis dakwah lebih mengutamakan ilmu dan amal yang seimbang. Dari pada ilmu yang tinggi tetapi jarang  diamalkannya,  atau  amal  yang  tinggi  tetapi  tidak  ada  ilmunya.  Sungguh diantara kedua-duanya, diwajibkan untuk mempunyai keseimbangan.

Mobilku  sudah  melaju  didaerah  perkampungan  kumuh.  Saat  aku  akan memarkir mobilku. Tak disangka, seorang melihatku dengan sangat tajam. Aku pun melihatnya dengan  seksama. Memastikan bahwa apa benar aku mengenalnya. Tak disangka akupun akhirnya  mengenalinya, dia adalah para penjahat yang waktu lalu hampir menembakku. Segera mungkin aku  langsung menstarter mobilku lagi. Dan langsung  melesat  jauh,  lari  dari  mereka.  Suasana  hati  yang  semula  tenang.  Kini menjadi sangat risau. Detak jantungku pun kembali tidak beraturan. Disertai istighfar yang entah berapa kali terucap dalam bibirku. Secepat mungkin aku pacu mobilku, meninggalkan daerah itu.
 
Jilid 10
Setelah memarkirkan mobil digarasi. Aku langsung memasuki kamarku. Detak jantungku masih tetap tidak beraturan. Bertautan antara keringat dingin yang keluar. Aku  benar-benar  takut   sekali.  Sejenak,  aku  mengambil  air  minum  yang  akan membasahi kerongkongan. Seteguk air putih, sedikit menetralkan jantungku. Didalam kamar  aku  pun  terpaku.  Takut  dalam  asa  yang  tak  menentu.  Bingung  dan  takut menyatu,  membaur  dalam  diri  yang  merasa  sangat  lemah  sekali.   Penat  yang menggapai diri sudah sangat tinggi. Entah kenapa. Aku langsung memencet tombol ON pada Tape.

Tegapkan langkah-langkahmu Lantangkan gema suaramu Dunia Islam memanggilmu Sambutlah dengan semangatmu

Jangan pernah berkeluh kesah Meski bersimbah peluh dan darah Kuatkan kesabaranmu
Jangan pernah kau menyerah

Makar-makar musuh makin bergemuruh
Seruan suci telah memanggilmu
Galang persatuan dengan kekuatan iman
Harta dan jiwa kita serahkan Meraih surgah yang dijanjikan Lebih baik dari dunia seisinya.

IZIS Mengumandang dalam kamarku. Jiwa-jiwa pencari syahid pun timbul kembali. Keberanian   yang   semula   luntur.   Bangkit   dalam   keberanian   mencari   sebuah kemuliaan. Rindu dengan keberanian para mujahidah yang selalu berkorban. Kini aku harus kembali. Menguatkan ruh jihad nan suci. Meskipun aku seorang akhwat. Tapi bukan berarti aku seorang yang lemah. Aku bisa menjadi  seorang Ummu kultsum. Yang  kuat  dalam  mempertahankan  agama  dan  teretorialnya.  Aku  bisa  menjadi Fatimah, yang kuat dalam kehidupan kezuhudannya. Aku pun harus bisa menjadi seorang Aisyah, yang bisa memimpin pasukan-pasukannya. Aku harus bisa menjadi seorang mujahidah. Harus.

“Tluuut...Tluut..” Sejenak bunyi Hpku, mengagetkanku. Terlihat nomor yang tidak dikenal. Hem. Pasti Lutfi!

“Hallo, Assalamualaikum!” Ucapku.

“Walaikumsalam. Ini Mbak Farah yah?” Jawab si penelepon. Seorang laki-laki. “Iya, Ini siapa yah?” Tanyaku penasaran.
“Mbak, masih ingat dengan saya nggak? Saya Rendra, anak Ibu Inah!” Ucap orang itu.


Rendra, anak Ibu Inah! Pemuda yang sopan itu? HA! Aku teringat. Wajah Rendra persis dengan seorang penjahat yang berada di mobil Jeep itu. Iya, pasti dia!

“Ada apa! Kamu yang waktu itu akan membunuhku kan?” Ucapku ketus.

“Tenang Mbak, tenang! Saya tidak bermaksud membunuh Mbak. Kami saat itu hanya menakut-nakuti  Mbak  saja.  Dan  sasaran  kami  sebenarnya  teman  Mbak  Farah!” Jelasnya.

“Lalu, apa maumu sekarang?” Ucapku keras.

“Mbak tenang. Saya tidak mau apa-apa dari Mbak dan teman Mbak! Saya hanya ingin mengatakan.  Bahwa Mbak dan teman Mbak, harus berhati-hati! Si penyewa kami, menyewa seorang preman  yang lainnya. Untuk membunuh Mbak Farah dan teman Mbak. Mbak harus berhati-hati!” Ucapnya serius.

“Aku tidak percaya dengan kamu!”

“Mbak harus percaya, dengan apa saya katakan!” Ucapnya, mencoba meyakinkanku. “Apa jaminanku, untuk mempercayaimu?”
“Mbak. Jaminan Mbak Farah mempercayai apa yang saya katakan. Adalah, karena Mbak Farah merupakan guru ngaji Ibu saya! Dan saya tidak akan menyakiti seorang yang berhubungan dengan  Ibu saya. Mbak bisa pegang kata-kata saya! Dan saya termasuk orang-orang pengajiannya Bang Jamal. Yang seorang Ustadnya, adalah dari teman kuliah Mbak Farah juga. Khalid nama Ustadnya.  Dan saya adalah seorang Muslim” Jelasnya, serius.

“Apa benar?”

“Mbak, saya tidak akan mengatakan ini jika Mbak Farah tidak ada hubungan apa-apa dengan Ibu saya!”

“Baik, Insya Allah aku percaya! Tetapi aku ingin tahu banyak tetang masalah ini. Bisa?”

“Iya, silakan!”

“Siapa yang menyuruh kamu untuk menakut-nakuti kami? Dan apa yang kalian cari sebenarnya?” Tanyaku serius.

“Sebenarnya ini  etika  pekerjaan  Mbak!  Kita  tidak  boleh  mengatakan  klien  yang menyewa kita. Tetapi saya akan mengatakan. Kalau sebenarnya yang menyuruh kami adalah orang-orang dari perusahaan Bapak teman Mbak Farah sendiri. Mereka ingin mencari data-data perusahaan yang membahayakan posisi mereka diperusahaan. Jadi Mbak  Farah  dan  teman  Mbak  Farah,  harus  sangat  berhati-hati.  Karena  mereka menyewa, orang-orang yang lebih kejam daripada kami!  Mereka  tidak segan-segan

membunuh  dengan  sadis.  Saya  sarankan,  Mbak  Farah  menyewa  bodyguard  yang profesional untuk menjaga diri!” Rendra terdengar sangat serius.

“Hem. Insya Allah, sudah ada bodyguard yang akan menjagaku.” Ucapku enteng. “Bagus Mbak. Bodyguard itu darimana Mbak?”
“Bodyguardku adalah seorang pencipta bodyguard. Yang sangat lebih profesional dari ciptaannya! Bodyguardku adalah Allah. Sang pemilik dan pencipta semua yang ada! Aku tidak butuh bodyguard manusia, karena sebenarnya tentara Allah lebih tersebar disetiap tempat!” Kataku tegas.

‘Mbak, saya yakin. Mbak Farah bisa menghadapi mereka! Insya Allah, jika saya melihat mereka menyakiti Mbak Farah. Maka saya akan membantu Mbak Farah!”

“Hem. Terima kasih!”

“Baik. Hanya itu yang ingin saya bicarakan. Maaf telah menganggu waktu Mbak
Farah!”

“Oh, tidak apa-apa. Terima kasih atas informasinya. Ini merupakan sebuah informasi yang sangat berharga!” Ucapku.

“Baik. Kalau gitu, Assalamualaikum” Ucap Rendra, mengakhiri pembicaraan. “Iya, Walaikumsalam.”
Pertempuran akan dimulai. Mereka sedang mencariku. Mereka mencari Dewi dan mencariku. Mereka telah menantang jundi-jundi Allah yang selalu bersiap siaga. Aku harus menelephon Abi sekarang. Secepatnya, aku langsung menekan nomor Hp Abiku.

“Assalamualaikum!” Salamku. “Walaikumsalam. Putriku!” Jawab Abi lembut. “Bi. Kabarnya gimana? Zah kangen!”
“Alhamdulillah,  Abi  baik-baik  aja.  Insya  Allah  dalam beberapa  hari,  urusan  Abi sudah selesai!”

“Bi. Cepat pulang!” Ucapku. Manja.

“Iya. Insya Allah Abi akan pulang cepat! Ada apa Zah? Ummi baik-baik saja kan?” Tanya Abi. Terlihat cemas.

“Alhamdulillah Ummi baik-baik aja! Zah ada masalah Bi!” “Masalah! Apa masalahnya?”

“Bi. Ceritanya panjang. Pokoknya, ada yang ngincer Zah dan teman Zah. Mereka ingin membunuh kami berdua!”

“HA! SIAPA MEREKA?” Abi terlihat sangat kaget.

“Mereka orang-orang suruhan. Mereka ingin mengambil sebuah bukti berupa data. Tentang kasus korupsi disebuah perusahaan! Bi, Zah harus gimana?”

“Anti, tidak  boleh  takut!  Zah,  adalah  mujahidah  yang  tidak  boleh  takut  dengan ancaman siapa pun!” Ucap Abi, tegas.

“Tapi, Bi. Apakah Zah sanggup menghadapi mereka?” Ucapku. Sangsi.

“Anti, pasti bisa! Insya Allah, Abi akan telphone para mujahid-mujahid. Insya Allah, mereka  yang   akan  melindungi  Zah  dan  teman  Zah!  Zah,  nggak  boleh  takut. Mujahidah   tidak   boleh   takut   menghadapi   kezhaliman.   Ini   jihad!   Katakanlah kebenaran, meskipun anti harus melawan mereka sendirian. Pokoknya anti tidak boleh takut!” Jelas Abi tegas.

“Iya, Bi!”

“Ummi, sudah tahu masalah Zah?” “Belum, Bi!” Ucapku.
“Jangan, memberitahu Ummi! Nanti Ummi jadi khawatir!” “Iya, Bi! Makanya Zah, bilang ke Abi aja” Ucapku. Manja.
“Iya,  bagus!  Kalau  meereka  mencoba  menantang  tentara-tentara  Allah!  Dengan mengincar para  mujahidah-mujahidah. Kita umat Islam, tidak boleh sekalipun takut dengan ancaman mereka. Kebathilan harus kita lawan, sampai syahid yang akan kita dapatkan! Zah, Abi, akan sangat bangga  sekali jika Zah dapat mengungkap semua ini.”

“Insya Allah, Bi! Zah akan berusaha”

“Alhamdulillah. Itu baru putri Abi!” Kata Abi. Terdengar bangga. “Abi, bisa aja!” Ujarku.
“Eh. Zah! Gimana, sudah ada calon pengganti Abi belum?” Goda Abi. “Abi!” Ucapku manja.
“Hem. Soalnya, ada yang beritahu Abi! Putri Abi lagi taaruf dengan ikhwan! Berani juga Zah. Mendahului taaruf! Abi dukung aja, kalau memang Ikhwan itu benar-benar baik. Dan bisa menggantikan Abi kelak!” Ucap Abi. Terlihat menyemangati.

“Ya. Ana minta doanya aja Bi! Bisa memilih yang terbaik.”


“Insya Allah, pasti Abi doa’in!” Ucap Abi bijak.

“Ya. Sudah Bi! Nanti kalau ada apa-apa, Zah akan telphon Abi!”

“Iya. Nanti kalau ada apa-apa, Zah telphone Abi aja! Jangan sampai masalah ini diketahui Ummi.”

“Ya, Udah Bi! Assalamualaikum” Ucapku, mengakhiri pembicaraa. “Walaikumsalam.”
Jiwa  yang  semula  luluh.  Kini  bangkit  kembali.  Sorak  sorai  kesyahidan mengalun  indah  dalam angan-angan. Nikmat. Jalan juang kembali tertanam. Satu dalam tujuan kini telah  kembali. Rasa takut pun kian lama kian lari. Bergantikan dengan    semangat    perjuangan    yang    sangat    tinggi.    IZIS    pun    mengalunkan semangatnya.

Sabarlah wahai saudaraku tuk menggapai cita
Jalan yang engkau tempuh sangat panjang Tak sekedar bongkah batu karang Yakinlah wahai saudaraku
Kemenangan kan menjelang Walau tak kita hadapi masanya Tetaplah Al Haq pasti menang

Tanam dihati benih iman sejati Berpadu dengan jiwa Rabbani Tempatnya satu jadi pahlawan sejati Tuk tegakkan kalimat ilahi
Pancang tekadmu jangan mudah mengeluh Pastikan asamu semakin meninggi Kejayaan Islam bukanlah sekedar mimpi Namun janji Allah yang akan pasti

*** “Tluut...Tluut..” Dering Hpku membangunkanku dari tidur. “Hallo!” Ucapku setelah mengangkat Hp.
“Hallo, Assalamualaikum Ukhti!” “Ini, siapa yah?” Tanyaku.
“Ukhti. Anti tidak menyimpan no Hp ana yah! Ini Lutfi.” “Oh. Iya, Afwan. Ada apa Akh?”
“Bagaimana, keputusannya?”


“Ha? Keputusan apa?” Tanyaku bingung.

“Hem. Anti kok lupa. Itu loh, keputusan untuk menerima ana!” Ucapnya. Terdengar sebal.

“Oh. Iya Afwan! Ana belum memikirkannya Akh! Afwan. Insya Allah, nanti malam antum telphon lagi. Semoga keputusannya sudah ana dapatkan nanti malam!”

“Kenapa anti  tidak  memutuskannya  sekarang  saja  Ukh!”  Ucap  Lutfi.  Terdengar seperti protes.

“Insya Allah nanti malam, Akh!” Tegasku. “Ya sudah, nanti malam ana telphon anti!” “Iya. Afwan ya Akh! Assalamualaikum”
“Walaikumsalam.” Jawabnya. Terdengar seperti memendam rasa sebal.

Keputusan yang harus aku ambil kini benar-benar sangat sulit. Aku kini harus benar-benar  mengambil sebuah keputusan. Aku tidak ingin Ummi tersakiti dengan keputusannku. Tetapi aku juga tidak ingin dipaksa dalam menentukan sebuah pilihan. Rasa penat menghampiriku. Bingung  berkecambuk dalam diri. Tak menentu dalam sebuah pilihan yang sama-sama memiliki kelebihan. Sejenak aku bangkit dari kasur. Aku harus membicarakan dengan Ummi! Gumamku dalam hati.

Aku langkahkan kakiku. Menuju kamar Ummi. Dengan degup jantung yang tak  beraturan.  Aku  benar-benar  takut  mengecewakan  Ummi.  Pintu  kamar  sudah berada dihadapan. Sedikit aku mengatur nafas untuk menetralkan degup jantung terus berdegup tak beraturan.

“Ummi...” Panggilku. Sambil mengetuk pintu kamar. “Iya, Zah. Masuk aja!” Jawab Ummi didalam kamar.
Aku buka pintu kamar. Ummi terlihat asyik menyulam diteras kamar.

“Ada, apa  putriku?”  Tanya  Ummi.  Sambil  melihatku,  sembari  tetap  merajutkan benang-benang dan kain sulaman itu.

“Mi. Zah ingin bicara! Bisa?”

“Tafadhol. Tapi afwan, Ummi sambil menyulam yah!” Kata Ummi, dengan senyum lembutnya.

“Iya. Nggak apa-apa Mi! Mi. Ini masalah Lutfi.” “Kenapa?” Tanya Ummi heran.

“Mi. Zah sudah punya calon!” Ucapku pelan.

Ummi menghentikan sulamannya. Setelah itu melihatku. Entah apa yang tercermin dalam tatapan Ummiku. Sepertinya terlihat kekecewaan yang sangat dalam.
“Zah. Sudah bertaaruf dengan salah satu Ikhwan lebih dahulu!” Ucapku hati-hati. Ummi sedikit mendesah. Setelah itu kembali memfokuskan menyulam. Terlihat raut
muka yang sangat kecewa. “Zah. Kok nggak bilang Ummi dulu sih!” Ucap Ummi. Terlihat protes.

“Afwan Mi.” Sesalku.

“Zah. Ummi menyerahkan semua keputusan kepada Zah! Yang menjalani kehidupan adalah Zah sendiri. Tetapi Ummi ingatkan, bahwa apa yang Zah pilih harus mantap dalam hati Zah. Ummi  sebenarnya sudah tahu, saat Zah bertaaruf dengan ikhwan! Tapi, tolong. Beritahu Ummi dulu lain  kali! Minimal Ummi lebih dulu tahu.” Kata Ummi. Sambil melihatku dan tersenyum. Tangan  lembut  Ummi membelai pipiku. “Sudah. Sekarang Zah pikiran siapa yang harus Zah pilih. Kalau belum bisa, sholat istikharah saja!” Ucap lanjut Ummi.

Hatiku yang semula jatuh. Takut Ummi tidak setuju dengan pilihanku. Atau bahkan sakit hati karena aku memilih seorang ikhwan yang bukan dari pilihan Ummi. Kini sudah sirna. Sungguh  nikmat mempunyai keluarga yang benar-benar menerapkan aturan-aturan  Islam.  Bukan  ego  yang   dipakai.  Tetapi  syariat  yang  diterapkan, menjadikan kesahajaan dalam semua urusan rumah. Termasuk dalam urusan memilih pasangan hidup.

“Iya. Mi!  Terima  kasih”  Ucapku.  Sambil  mencium tangan  Ummi.  Dan  langsung memeluk Ummi. Entah apa, kata terima kasih yang pantas untuk diucapkan kepada Ummi.  Seorang  wanita   yang  benar-benar  mengerti  tentang  apa  yang  memang diinginkan oleh putrinya.

“Iya. Sudah, sekarang Zah renungi. Pilih yang menurut Zah paling terbaik menjadi pasangan Zah!”

“Baik. Mi!” Ucapku.

Setelah itu aku langsung masuk kedalam kamarku. Dan duduk dalam kursi malasku. Biasanya aku selalu melakukan itu jika sedang pusing memikirkan sesuatu. Sejenak  aku  merenung  dengan  pikiran  yang  tak  kunjung  dapat  menemukan  titik jawaban yang benar. Sejenak aku  mengambil mushaf kecil yang berada disamping meja dekat kursi. Aku membuka dan membacanya. Untuk lebih menentramkan diri, dan menjadikan obat dalam penentuan sebuah keputusan. Tak lama.  Pikiranku pun kembali  mengingat  sesuatu.  Aku  hentikan,  tilawahku.  Sejenak  aku  menerawang tentang sebuah keputusan.

Akh  Lutfi,  merupakan  temanku  sejak  kecil.  Keluarganya  kaya.  Dan  dia  sudah mendapatkan   pekerjaan  yang  layak  dan  sangat  bagus.  Pasti  aku  tidak  akan kekurangan dalam materi jika  aku menikahinya kelak. Bacaan Al Qur’annya pun

bagus. Dan dia merupakan hafidz. Sungguh hebat wanita yang akan menikahinya! Kalau Akh  Khalid. Merupakan seorang ikhwan yang baru aku kenal   dari bangku kuliah.  Sepak  terjang  dakwahnya  tidak  diragukan  lagi.  Gaya  kepemimpinannya sangat elegan. Kharismatik, meskipun  dalam harta dia sangat terlihat kekurangan. Hapalan Al Qur’annya memang tidak banyak. Tetapi, terlihat dia lebih mengamalkan Al Qur’an yang dia sudah tahu dan hafal. Kalau untuk membaca dengan tartil, Akh Khalid lumayan bagus. Meskipun tidak bagus-bagus amat sih! PUSING!

Sejenak penat kembali melanda relung jiwaku yang bingung. Entah sepertinya memang aku  harus shalat istikharah. Tapi, tunggu dulu! Sebuah ingatan melintas dalam pikirku. Affan. Satu nama mengingatkanku. Iya Affan benar. Affan. Saudaraku. Dia pernah mengalami hal seperti ini. Oh  iya,    dan dia pernah cerita kepadaku. Sebuah  ilmu telah aku dapatkan. Saudaraku Affan. Pernah mengalami hal kejadian seperti ini.  Tetapi  dia lebih seperti Akhi Khalid. Aku ingat. Bahwa Affan pernah mengenal seorang Akhwat. Dan mereka pernah saling mengikat tali khitbah. Tetapi sayang, orang tua si Akhwat tidak merestui Affan menjadi menantunya. Tetapi, Affan dan si Akhwat istiqomah dalam meyakinkn orang tua si  Akhwat. Hanya sayang, seorang ikhwan lain datang di kehidupan si Akhawat. Si Akhwat melihat ikhwan yang lebih baik dari Affan. Sangat jauh lebih baik.

Si Akhwat akhirnya ragu berhubungan dengan Affan. Si Ikhwan yang terbaik ini  sudah  mendapatkan  restu  dari  orang  tua  Si  Akhwat.  Dengan  cara-cara  yang seharusnya tidak dipakai oleh seorang muslim. Si Ikhwan akhirnya dapat meluluhkan hati orang tua Si Akhwat. Dan Si Akhwat jadi pindah kelain hati. Berpindah kepada yang lebih baik lagi. Tapi sayang, itu adalah sebuah cara yang hina. Aku mengatakan kepada Affan. Bahwa cara yang dilakukan oleh Si Ikhwan adalah Hina, dan jika Si Akhwat menerima Si Ikhwan itu. Maka keduanya merupakan seorang  yang hina. “Bagaimana anti bisa mengatakan itu!” protes Affan, Saat itu.

Aku menjawabnya  dengan  mengibaratkan  sebuah  air  minum  yang  sudah dihadapan Affan. Tetapi sayang, Affan dilarang meminum air itu. Meskipun, Affan terlihat sangat kehausan  sekali. Lalu tiba-tiba datang seorang Ikhwan, yang dengan berbagai cara. Merayu si pemilik air minum itu, untuk mau diminum oleh Si Ikhwan. Padahal didepan Si Ikhwan ada seorang Ikhwan lain yang sangat lama membutuhkan air minum itu. Dan air minum itu pun sudah dihadapan Affan. Akhirnya dengan serta merta air minum itu pun diperbolehkan untuk diminum oleh Si Ikhwan. Berarti dalam kata lain, bahwa air minum itu telah dirampas oleh Si Ikhwan. Dihadapan saudaranya yang memang membutuhkan air minum itu. Dan air minum itu pun dengan suka cita mau diminum oleh Si  Ikhwan. Bagaimana bukan Hina, seorang yang merampas air minum  yang  sudah  dihadapan  orang  yang  sangat  membutuhkan.  Dan  bagaimana bukan air minum yang hina, saat air minum itu bersuka cita diminum oleh orang yang hina.  Hingga  seorang  yang  kehausan  itu  harus  akhirnya  menanggung  sakit  yang teramat dalam.

“Apakah itu, bukan sebuah kehinaan yang sangat hina!” Jelasku kepada Affan waktu  itu.  Seburuk-buruk  seorang  Ikhwan,  tidak  akan  menyengsarakan  saudara Ikhwan yang lainnya. Atau  bahkan merampas sesuatu yang sudah diidam-idamkan seorang ikhwan. Tidaklah seorang Ikhwan  yang terbaik, kalau dihatinya tertanam benih-benih cara yang hina. Meskipun seorang ikhwan itu bagus akhidahnya, bagus hafalan Al Qur’annya. Tetapi jika dia melakukan cara yang kotor dan  hina. Maka

akhlaqnya tidak  lebih  rendah  dari  binatang  yang  saling  berebut  dalam  mencari makanan.  Tetapi aku salut dengan Affan. Aku benar-benar mengagumi salah satu saudaraku itu. Dengan  santai, meskipun terlihat pedih dimatanya dan terlihat sakit yang mendalam dihatinya. Dia hanya  mengatakan “Sungguh, ana relakan seorang wanita yang ana inginkan. Untuk dijadikan istri oleh seorang ikhwan yang memang membutuhkan.  Mungkin  saja,  Ikhwan  itu  tidak  mempunyai  kemampuan,  untuk mencari seorang wanita lain! Insya Allah ana akan mendapatkan yang lebih baik lagi. Itu  janji  Allah!”  Aku  saat  itu  benar-benar  kagum dengan  ucapan  Affan.  “Benar. Antum, tidak akan diberikan oleh Allah air yang hina untuk antum minum!” Kataku keras  waktu  itu.  Karena,  aku  sangat  jengkel  dengan  seorang  akhwat  yang  telah menjadi pengkhianat cinta. Kalaulah cinta Si Akhwat karena Allah. Maka tiada yang hadir selain keistiqomaan dan berjuang untuk meyakinkan orang tuanya. Dan tidaklah menjadikan seorang Akhwat malah berlenggang  mencari yang terbaik bagi dirinya. Saat yang terbaik itu adalah sebuah ketidakpastian. Seharusnya Si Akhwat sudah dari dulu memutuskan hubungan dengan Affan. Kalaulah dia ingin mencari Ikhwan yang terbaik. Bukan malah mengikat Affan terus menerus dalam hubungan yang tidak pasti.  Hingga  Affan  benar-benar  memperjuangkannya.  Tetapi  sayang,  perjuangan Affan tidak menuai  hasil yang baik. “Bukan hasil yang kita cari. Tetapi keridhoan yang kita harapkan dari Allah!” itulah ucapan Affan waktu lalu. Akhwat mana yang rela    dan    tega    meninggalkan    seorang    Ikhwan    yang    benar-benar memperjuangankannya.  Kecuali  seorang  akhwat  yang   memang  dirinya  mencari kehinaan.   Kalaulah memang Si Akhwat bukan seorang yang Hina.  Seharusnya Si Akhwat sudah memutuskan Affan sejak ketidaksetujuan orang tua Si Akhwat. Bukan malah menjadikan Affan sebagai pemain pengganti jika tidak ada yang lebih baik dari Affan.  Dan  kalau  ada,  Affan  dilepaskan  begitu  saja.  Karena  sebenarnya  ini  bisa dikatakan sebuah kekejaman. Dan sangat zhalim.

Tapi Subhanallah. Aku saat itu baru melihat sifat itsar yang selalu didengung- dengungkan  dalam sejarah umat Islam. Benar-benar hebat. Memang, kenapa Itsar dikatakan sebagai tingkatan  iman yang paling tinggi. Karena memang, melakukan itsar  itu  tidak  semudah  membalikkan  telapak  tangan.  Sangat  berat  memberikan sesuatu yang kita inginkan kepada orang lain. Kalau  bukan seorang yang beriman. Mana mungkin?

Perasaan yang semula kalut kini menjadi lebih tenang. Setelah mengingat seorang  ikhwan yang bernama Affan. Memang, tidak ada dalam kepastian dalam sebuah kehidupan. Karena sesungguhnya kepastian itu hanya milik Allah. Maka, jika kita melakukan sebuah hubungan. Kepastian itu adalah rasa kepercayaan seseorang.

Sejenak aku memikirkan dampak jika aku menikah dengan salah satu dari ikhwan itu. Lutfi dan Khalid. Hem, jika aku akan menikah dengan Akhi Lutfi. Insya Allah aku mendapatkan materi yang berkecukupan. Mungkin jika aku menikahi Akhi Lutfi,  hafalanku  juga  akan  bertambah.  Sejenak  aku  berfikir  lagi.  Lalu,  jika  aku menikahi  Akhi  Khalid,  apakah  kami  berdua    tidak  bisa  berusaha  mendapatkan materi? Lalu apakah jika aku menikah dengan Akhi Khalid hafalanku  tidak bisa bertambah juga?   Tapi, siapa yang bisa menjamin? Bukankah Allah mudah untuk melenyapkan  segala  sesuatu!  Benar-benar  pikiranku  kembali  penat.  Dari  relung- relung  pikirku  yang  semula  hampir  jernih.  AKHLAQ!  Satu  kata  yang  terlintas dibenakku. Iya benar, akhlaq. Sekarang aku sudah tidak pusing lagi untuk mengambil sebuah keputusan. Karena semuanya sudah jelas. Siapa yang harus aku pilih.


Sejenak ucap syukurku kepada Allah. Aku bukanlah akhwat yang mencari kehinaan dalam keridhoan Allah. Apalagi aku bukan akhwat yang tega, meninggalkan seorang Ikhwan yang memang sudah serius untuk menjalin tali pernikahan kepadaku. Apalagi  aku  bukan  seorang  akhwat  yang  hanya  mencari  seorang  ikhwan  yang dikatakan terbaik. Aku bukan mencari ikhwan terbaik  dalam wujudnya saja. Tetapi aku mencari ikhwan yang terbaik dalam segala hal. Dalam akhidah, dakwah dan yang tidak  kalah  pentingnya  adalah  Akhlaq.  Akhidah  bisa  dibangun  dengan  pelajaran pengetahuan tentang Rabb. Dakwah bisa dibangun dengan pondasi-pondasi akhidah. Tetapi  akhlaq, akhlaq tidaklah semudah mempelajari akhidah dan dakwah. Karena akhlaq adalah mencerminkan jiwa yang suci dan bersih. Yang selalu mencerminkan keindahan dakwah Rasulullah. Akhlaq adalah harga yang paling tinggi untuk dimiliki. Karena   untuk   menjalankan   kata   yang   dinamakan   akhlaq.   Harus   benar-benar mencerminkan kepribadian Rasulullah. Yaitu ikhlas. Dan itu sangat sulit.

Seorang yang mempelajari Akhidah. Dia hanya mempelajari pondasi-pondasi dakwah.  Tetapi jika seorang yang mempunyai akhlaq Islam yang tinggi. Maka dia adalah seorang muslim  yang sempurna. Karena pasti, perilaku-perilakunya adalah menurut apa yang dikatakan dalam Al Qur’an dan Sunnah. Bukan hanya keyakinan semata. Dan ciri seorang yang berakhlaq adalah, tidak  melakukan sesuatu hal yang bisa menyakitkan orang lain. Tidak melakukan sesuatu perbuatan yang  hina. Tidak merampas apa yang dipunyai atau yang diharapkan oleh orang lain. Selalu bersifat lemah lembut. Dan keras jika menantang kezhaliman. Ikhwan seperti inilah yang aku cari.
 

Jilid 11
“Tluutt.... Tluutt...” Dering Hpku.

Aku letakkan mushaf yang sedari tadi aku lafalkan. Setelah itu, aku ambil Hp yang tidak jauh berada disampingku. “Akhi Lutfi” tulisan yang tertera di LCD Hpku.

“Assalamualaikum” Ucapku. “Walaikumsalam!” Jawabnya. “Iya, Akhi!”
“Gimana kabarnya, Ukhti hari ini!” Tanya Lutfi. Terdengar basa-basi. “Alhamdulillah, baik-baik saja! Kalau antum?” Jawabku. “Alhamdulillah. Sama, ana juga baik-baik saja!”
Sejenak aku diam. Membiarkan, agar Lutfi yang memulai pembicaraan dahulu. Dan memang berhasil.

“Ukhti. Gimana keputusannya?” Tanya Lutfi penasaran.

“Insya Allah, ana sekarang sudah mengambil keputusan! Dan semoga ini baik untuk ana dan untuk antum!”

“Insya Allah, pasti baik!” Sela Lutfi.

Sejenak aku menarik nafas dalam-dalam. Dan menghembuskannya pelan. “Akhi, dari apa yang ana pertimbangkan. Ana akan menerima..!”

“Syukron anti,  ana  tahu  jawabannya!  Anti  pasti  penerima  ana!  Tidak  mungkin seorang yang hafidz tidak diterima pinangannya!” Sela Lutfi lagi.

“Hem. Afwan Akh. Sesungguhnya, Rasulullah itu pantang memotong pembicaraan orang!” Ucapku tegas.

“Oh, iya maaf Ukhti!”

“Sebenarnya, ana sudah bertaaruf dengan ikhwan lain! Ikhwan itu tidak lebih kaya daripada  antum, tidak lebih bagus hafalan dan tilawahnya daripada antum. Tetapi, Ikhwan itu mempunyai  rasa jihad dalam medan dakwah yang sangat tinggi. Ana sudah pernah merasakan gaya  kepemimpinannya. Sudah pernah mengetahui corak dakwahnya,  dan  sudah  mengetahui  kegigihannya  dalam  dakwahnya!  Ikhwan  itu begitu  tegar  dengan  kemiskinannya.  Sifat  zuhud  yang  dia  terapkan  pada  dirinya, tidaklah membuat dia lebih rendah dari ikhwan manapun. Ikhwan itu penuh dengan kasih sayang yang melimpah pada setiap saudara seimannya. Apalagi sifat akhlaq dan ikhlasnya.  Subhanallah!  Dia  tidak  ingin  memperlihatkan  keberhasilan  dakwahnya

kepada setiap saudaranya. Karena takut akan sifat riya’, ujub dan takabur yang akan melanda pada  dirinya. Dia tidak ingin memperlihatkan sebuah keberhasilan karena jasanya. Tetapi dia lebih  memilih, mengatakan keberhasilan itu karena Allah dan hamba-hambanya yang selalu berjuang dimedan dakwah! Ana mengetahui semuanya itu,  karena  dia  adalah  ketua  ana.  Dan  benar-benar   mengetahui  sepak  terjang dakwahnya. Meskipun, dia tidak pernah memberitahukannya!”

“Tapi, apakah benar dia bisa sehebat itu dari ana? Apakah dia mempunyai hafalan Al Qur’an yang lebih banyak dari ana, apakah dia mempunyai hafalan hadits yang lebih banyak dari ana? Apakah dia mempunyai pekerjaan yang lebih baik dari ana? Apakah dia mempunyai itu semua!” Protes Lutfi.

“Tidak. Sungguh, hafalan Al Qur’an dan Hadistnya. Lebih banyak dari Akhi.”

“Tapi, kenapa anti menerimanya. Sedang anti tidak menerima ana. Toh sudah jelas, ana memiliki  kemampuan yang lebih baik darinya!” Lutfi terdengar sangat tidak menerima keputusanku.

“Akhi. Sesungguhnya ana menerimanya, karena ana sudah lebih dulu melakukan konsistensi kepada Ikhwan itu! Ana tidak bisa, dengan mudah memutuskan seorang ikhwan yang sudah ana istqomahi. Tidak begitu saja ana bisa menerima seorang yang lebih baik darinya! Karena ini menyangkut akhlaq ana.” Jawabku serius.

“Iya. Tapi ana kan lebih dahulu mengenal anti! Sejak anti masih kecil, kita sudah saling kenal. Dan anti tahu, seberapa besar tingkat keilmuan ana!” Ucapnya sengit.

“Akhi. Ana tahu kelebihan yang ada pada antum. Tetapi, karena kelebihan antum itulah  menjadi   sebuah  alasan  bagi  ana  untuk  memilih  ikhwan  itu.  Dia  tidak mempunyai kelebihan seperti  antum. Dia lebih berhak untuk ana kasihi, dari pada antum  yang  bergelimang  kasih!  Antum  seharusnya  mengerti.”  Ucapku  tak  kalah sengitnya.

“Tidak bisa. Ana tidak akan bisa mengerti! Anti seharusnya tahu, bagaimana cinta ana terhadap anti”

“Iya, ana mengerti. Ana sangat mengerti! Cinta antum terhadap ana, adalah karena Allah. Dan pasti antum akan menerima apa yang Allah berikan kepada antum. Bahkan penolakan ana pun, antum pasti  menerimanya. Karena cinta antum karena Allah!” Selaku dengan sengit.

“Tidak. Anti tidak mengerti cinta ana terhadap anti! Anti egois.”

“Akhi. Antum harus ingat. Antum adalah hafidz, seorang yang hafal Al Qur’an. Antum juga sangat banyak hafal hadits. Antum seharusnya menerapkan itu pada diri antum. Bukan hanya mempelajarinya saja!”

“Ukhti.  Ana  tetap  tidak  akan  menerima  penolakan  anti.  Ini  merupakan  sebuah penghinaan bagi ana! Ana tidak akan pernah mau menerima penghinaan ini.”

“Akhi. Ini bukan sebuah penghinaan. Tetapi ini keputusan ana! Antum harus mengerti tentang  keputusan ana. Ana harap antum harus menerima keputusan ana.” Ucapku pelan.

“Afwan Ukh. Ana tidak akan pernah menerima keputusan anti. Ini penghinaan, besar buat ana. Ana  sudah anti hina! Lihat saja nanti.” Setelah mengucapkan itu. Lutfi langsung mematikan Hpnya.

Masya Allah. Jadi, keputusanku memang benar! Gumamku. Hafidz dan Hafal hadits, tidak  menjamin  seseorang  mencerminkan  apa  yang  dihafalkannya.  Sudah  banyak terbukti. Beberapa  kasus korupsi pun, ada juga yang dilakukan oleh seorang yang hafidz. Dan dalam kasusku, sudah  sangat nyata. Lutfi sangat tidak mencerminkan seorang yang benar-benar mengetahui Al Qur’an dan Hadits. Aku jadi teringat hadits innamal  a’malu  binniat  wa  innamal  likuri’immanawwa  famankhanats  hijratahu Ilallah wa Rasullihi fahijratuhu Ilallah wa Rasullihi famankhanats hijratuhi liddunia yusibukha  awimra  ataini  yankhiquha  fahijratuhu  ilaih  maa  hajarah  ilaih.  Hadits inilah  yang  seharusnya  membuat  tujuan  hidup  hanya  untuk  Allah  dan  Rasulnya. Bukan karena harta dan wanita yang ingin dinikahinya.

Alhamdulillah ucapku syukur dalam hati. Aku tidak salah memilih. Aku telah memilih mujahid dalam keistiqomahan perjuangannya. Bukan memilih seorang yang cengeng dengan  kata-kata  cintanya. Meskipun Lutfi seorang yang melebihi Khalid dalam  masalah  wujudnya.  Melebihi  masalah  hapalan  Al  Qur’an  dan  Haditsnya, melebihi kekayaan dan pekerjaannya. Tetapi Khalid, adalah Khalid. Seorang aktivis dakwah  yang  istiqomah  dalam  perjuangannya.  Seorang   yang  istimewa  dalam kezuhudannya. Seorang yang mudah bergaul dengan siapa saja. Seorang yang mampu mengaktualisasikan  ajaran-ajaran  agama  yang  diterimanya.  Dan  Khalid,  mampu menerapkan itu semua. Maka tidak salah pilih, aku memilihnya.

Aku bukanlah seorang akhwat yang memilih hanya dengan melihat kepintaran seorang ikhwan. Aku bukanlah akhwat yang suka melihat wujud dari ikhwan. Apalagi aku bukan akhwat yang  suka dengan kekayaan seorang ikhwan. Tapi aku adalah seorang akhwat yang istiqomah dengan apa yang aku pilih. Aku adalah akhwat yang lebih suka dengan seorang ikhwan yang memilih jalan dakwahnya dengan ikhlas. Dan aku adalah seorang akhwat, yang memilih ikhwan karena akhlaqnya. Bukan seorang ikhwan yang mudah merampas apa yang dicintai oleh saudaranya sendiri. Apalagi bukan seorang ikhwan, yang menghalalkan cara hanya untuk mendapatkan seorang wanita. Aku bukanlah akhwat seperti itu.

Bersyukurlah  diriku.  Karena  semuanya  sudah  ditampakkan  oleh  Allah. Tidaklah  semua  seorang  yang  pintar  atau  hafal  Al  Qur’an  dan  hadits.  Mampu memahami isi-isi yang  terkandung didalamnya. Tidaklah semua seorang yang hafal Al  Qur’an  dan  hadits.  Mampu  mengamalkan  apa  yang  ada  didalamnya.  Karena semuanya berujung pada sifat keikhlasann kita.  Akhlaq yang baik adalah ciri khas seseorang yang ikhlas dalam berjuang. Sungguh mulia seseorang. Manakalah dirinya mendapatkan rasa itu. Sungguh mulia seseorang yang selalu dalam  kezuhudannya. Sungguh mulia seseorang yang tidak menginginkan dunia dan isinya. Tetapi dia lebih memilih Allah dan Rasul-Nya. Sungguh, alangkah mulianya orang itu. Tidak akan lagi ada rasa  takabur, riya’ atau bahkan ujub. Karena sesungguhnya apa yang dia harapkan bukan pada penghargaan manusia. Tetapi lebih memilih dihargai oleh Allah,

hingga Allah memberikan seberkas kasih sayang yang indah didalam diri seseorang itu. Tidak lagi  seesorang itu menginginkan apa yang memang tidak diridhoi oleh Allah. Tidaklah seseorang itu  melakukan sesuatu apa yang memang tidak diridhoi oleh Allah. Apalagi melakukan cara-cara yang dihinakan oleh Allah. Maka seseorang itu akan menjadi orang-orang dambaan Rasulullah. Dan  itulah kenikmatan sejati. Kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah dalam diri manusia yang  ikhlas dan barakhlaq mulia.

“Tok..Tok...Tok...    Zah!    Anti    sudah    tidur?”    Ketukan    dan    panggilan    Ummi. Mengagetkanku.

“Belum, Mi. Silahkan masuk Mi!” Jawabku.

Setelah membuka pintu kamar. Dengan senyum lembutnya, Ummi mendatangiku. “Gimana, Zah? Sudah diambil keputusannya?” Tanya Ummi.
“Sudah, Mi!” Jawabku. Sambil menganggukkan kepala.

“Lalu, anti milih siapa!” Tanya Ummi lagi. Terlihat penasaran.

Dengan sedikit mendesah pelan. Aku mengatakan “Mi. Zah tidak memilih Lutfi! Zah lebih memilih Ikhwan yang lebih dulu Zah istiqomahi!” Ucapku, sedikit berhati-hati agar Ummi tidak tersinggung.

Ummi tersenyum. Lalu tangan lembutnya membelai rambutku. “Zah. Ummi tidak akan ikut campur urusan Zah dalam memilih calon teman sejati Zah! Apa yang Zah pilih, Ummi akan ikut mendukung dengan pilihan Zah! Lutfi memang kita kenal baik dikeluarga kita. Tetapi bukan berarti  Lutfi harus menjadi suami Zah bukan! Ummi hanya suka melihat kelakuan dia kepada Ummi dan  kepintaran dia! Hanya itu saja. Meskipun begitu, Ummi tidak akan memaksa Zah untuk menikah dengan Lutfi! Zah pilih sendiri, Ikhwan mana yang membuat Zah terjatuh dalam lembah cinta.  Dan membuat  Zah  bergelimang  akan  cintanya. Dan  selalu  akan  bersama-sama,  dalam menggapai cinta-Nya! Itulah yang terpenting Zah.”

“Mi. Tetapi Zah, telah  memilih seorang ikhwan. Yang dia tidak memiliki kepintaran dan kekayaan seperti Akhi Lutfi! Ikhwan ini, tidak lebih banyak hafalannya dibanding Zah. Ikhwan ini tidak mempunyai kekayaan yang sebanyak Akhi Lutfi. Dan Ikhwan ini  tidak  begitu  besar  penghasilan  pekerjaanya  dibanding  Akhi  Lutfi.  Tetapi  dia, adalah seorang Ikhwan yang istiqomah dalam medan dakwahnya!” Ucapku.

“Zah. Kepintaran dan kekayaan itu ada pada setiap orang. Mungkin Ikhwan itu tidak sepintar Akhi  Lutfi, karena dia tidak melakukan apa yang dilakukan Akhi Lutfi. Tetapi  pasti  Ikhwan  itu,  mempunyai  kepintaran  tersendiri  yang  Akhi  Lutfi  tidak mempunyai kepintaran itu! Dan kekayaan, adalah materi yang bisa dicari. Tetapi Zah harus ingat, bahwa seorang yang kaya akan dihisab  lebih  banyak diakhirat nanti. Ketimbang orang yang tidak mempunyai kelebihan materi! Maka,  jika  Zah sudah mantap  dengan  pilihan  Zah  sendiri.  Ummi  berpesan,  Janganlah  ragu-ragu  untuk menapaki hari depan dengan kepastian. Karena sesungguhnya kepastian didunia itu

adalah ketidakpastian itu sendiri. Maka jadilah orang-orang yang sudah pasti, karena sesungguhnya Sang Maha Pasti sudah memberikan kepastian kepada kita!”

“Insya Allah, Mi! Ana sudah sangat yakin dengan pilihan Zah.”

“Baik, kapan dia akan mengkhitbah anti?” Tanya Ummi bersemangat. “Ana nggak tahu Mi!” Jawabku Bingung.
“Zah, nggak usah bingung. Pokoknya, jika Abi sudah pulang. Langsung beritahu Ikhwan itu.  Bahwa waktu itulah yang paling tepat untuk mengkhitbah Zah. Insya Allah! Dan mungkin bisa  saja, Zah langsung dinikahkan oleh Abi!” Ucap Ummi. Sambil sedikit menggoda.

“Ummi..!” Ucapku manja. Sambil memeluk tubuh Ummi.

“Ya. Sudah Ummi mau tidur dulu!” Ucap Ummi sambil melepaskan pelukanku. “Iya Mi!”
Setelah itu, Ummi pun melangkah keluar dari kamarku.

Aku kini  sendiri  dalam  ruang  kamarku.  Rasa  senang  yang  aku  dapatkan, serasa  melambungkan  hatiku.  Aku  benar-benar  bersyukur,  karena  telah  diberikan seorang Ibu yang  begitu  perhatian terhadapku. Seorang Ibu yang bijaksana dalam mengambil sebuah keputusan.  Tidak berdasarkan egoisme keibuan. Aku jadi ingat dengan salah satu Akhwat. Yang dia tidak bisa mengambil sebuah keputusan, lantaran ibunya terlalu mengekang dengan keputusannya. Tetapi,  semua itu berdasar pada keputusan akhwat itu sendiri. Jika akhwat itu memang seorang akhwat  yang bisa mengkondisikan  ruhiyahnya.  Maka  dia  pasti  bisa  mengkondisikan  keluarganya. Tetapi  jika  ruhiyahnya  masih  gamang  dengan  keyakinan  dalam  dien-Nya.  Atau karena ketidakpahaman  yang kuat dalam agamanya. Maka, dipastikan akhwat itu tidak bisa mengkondisikan keluarganya. Dan tidak mungkin, dia mengambil sebuah keputusan pada keluarganya. Jika dia tidak memiliki pemahaman agama yang kuat.

***

Pagi  hari  yang  indah.  Mentari  bersinar  dengan  kehangatan  pagi  yang menyenangkan. Setelah selesai berolahraga di sekeliling rumah. Aku nikmati sinar mentari dan dinginnya pagi. Nikmatnya hidup dalam rasa syukur yang teramat dalam. Nikmatnya  hidup  jika  semua  karena  Allah  yang  mengatur  hidup.  Ingatanku  pun kembali. Sejenak, aku memikirkan kata-kata yang diucapkan oleh Lutfi. “Afwan Ukh. Ana tidak akan pernah menerima keputusan anti. Ini penghinaan, besar buat ana. Ana sudah anti hina! Lihat saja nanti.” Entahlah, kenapa kata-kata itu harus muncul pada sosok seorang Lutfi. Seorang yang tidak pantas mengucapkan kata-kata itu, karena dia merupakan seorang yang sudah mengatahui seluk beluk dari Dien ini. Kenapa harus ucapan yang  begitu tidak ikhlas dengan sebuah keputusan yang telah diambil oleh seseorang orang. Memang, sakit jika kita apa yang kita menginginkan sesuatu. Tetapi kita  tidak  mendapatkan  sesuatu  itu.  Tetapi  bukankah  keinginan  itu  tidak  harus terpenuhi seterusnya! Adakalanya keinginin kita, tidak harus terpenuhi. Jika apa yang

kita inginkan itu karena Allah. Maka apapun yang kita dapatkan pun, pasti karena Allah. Tetapi jika kita menginginkan sesuatu karena sifat egoisme diri kita. Maka, jika keinginan itu tidak terpenuhi. Kita akan benar-benar merasakan rasa sakit yang sangat dalam. Dan serasa tidak ada obat penyembuh bagi diri kita.

Entahlah, apakah Lutfi sudah tertarbiyah dengan bagus. Ataukah dia sudah mendapatkan  materi tarbiyah. Seharusnya, kalau memang dia sudah mendapatkan tarbiyah yang benar-benar  baik. Maka Lutfi tidak akan seperti itu. Pasti Lutfi akan ikhlas menerima keputusan yang sudah aku pikirkan. Ataukah, dia bukan dari orang- orang yang tertarbiyah. Lalu kalau seandainya, jika Lutfi  bukan dari orang-orang yang menerima pelajaran tarbiyah. Apakah aku bisa hidup berdampingan  dengan seorang yang berbeda pola pandang dan pola pikir. Pastilah sifat jalan dakwah kami akan  benar-benar saling terhambat. Disalah satu pihak ingin jalan kearah A dan di satu pihak ingin jalan kearah B. Pasti akan menjadi sebuah penghambat bagi langkah dakwah dengan satu sama lainnya. Dan menjadikan tidak terfokus dalam salah satu jalan yang akan ditempuhnya. Ya. Inilah yang harus menjadi sebuah pemikiran ulang bagi kita semua.

“Tluutt... Tluutt..” Lagi-lagi bunyi Hpku berdering. Hingga mengagetkanku. “Halo.” Ucapku.
“Halo. Ini Farah?” Tanya si penelphon.

“Iya benar. Ini siapa yah?” Tanyaku penasaran. “Far, ini aku. Nova!”
“Oh. Hai, apakabar?”

“Aku baik-baik saja sekarang. Tapi entah nanti!” Jawabnya sedikit cemas. “Oh. Ada apa sebenarnya Nov?” Tanyaku bingung
“Far. Apakah kamu bisa menolong aku!” Ucap Nova. Terlihat sangat bingung. “Insya Allah. Jika memang aku sanggup!”
“Tapi. Apakah benar kamu sanggup?” Tanya Nova.

“Insya Allah. Makanya beritahu masalahnya!” Ucapku sedikit penasaran. “Far. Bisa nggak kamu menolongku lari dari rumah!”
“HA!” Aku bingung.

“Aku ingin lari dari rumahku Far! Apakah kamu bisa menolong?” Tanyanya sekali lagi.

“Sebentar-sebantar.  Permasalahannya  apa,  hingga  kamu  harus  lari  dari  rumah segala?”

“Ceritanya panjang, Far! Sekarang aku harus lari dari rumah. Nanti setelah kita pergi, aku akan ceritakan semuanya kepadamu!” Jawabnya.

“Apakah memang harus lari dari rumah?” Tanyaku heran. “Iya. Pokoknya harus!” Ucapnya tegas.
“Baik-baik! Aku akan membantumu. Tetapi, kamu harus menceritakan masalahmu kepadaku nanti!”

“Iya. Pasti aku akan menceritakannya!” “Baik. Kita bertemu dimana?”
“Kamu jemput aku digerbang Village of Country. Jam 10 pagi, bisa?” “Ok. Insya Allah, aku akan jemput kamu!”
“Baik. Terima kasih! Aku akan menunggumu disana. Udah yah!” Seketika itu pun, Nova langsung memutuskan pembicaraan.

Entah ada apa lagi ini. Apakah ini juga merupakan cobaan bagiku. Aku tak tahu. Biarlah aku menjalani hidup ini dengan apa yang telah diatur oleh Allah. Jika memang Allah mengatur  hidupku harus seperti ini. Maka aku harus bisa menjalani kehidupanku.  Aku  tidak  boleh   mengeluh  atas  apa  yang  diberikan  oleh  Allah kepadaku. Mungkin ini adalah sebuah ujian bagiku. Entahlah, tapi aku harap ini ujian bukan azab. Tetapi. Apakah ini bukan jebakan! Selintas pikirku. Iya benar, apakah ini bukan  jebakan  orang-orang  kafir  yang  akan  menculikku!  Beberapa  hari   aku mendapatkan  banyak  rintangan  dalam  kehidupan.  Aku  pun  tidak  harus  langsung mempercayai apa yang Nova katakan, seharusnya. Aku seharusnya menyelidiki dulu tentang  Nova.  Bukan  langsung  percaya.  Kalau  memang  ini  benar-benar  jebakan penculikan. Sudahlah, aku pasrahkan sebuah kepada Allah. Khasbiallah! Ucapku lirih dalam hati.

Aku tidak dapat menolak permintaan seorang yang meminta perlindungan kepadaku.  Tidaklah seorang muslim, mengacuhkan permintaan perlindungan orang lain. Bahkan kafir sekalipun, aku harus melindunginya jika dia meminta perlindungan kepadaku.    Dan    jika    seorang    diantara    orang-orang    musyrikin    itu    meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah,  kemudian   antarkanlah  ia  ketempat  yang  aman  baginya.  Demikian  itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. QS. At Taubah 6. Jika seandainya ada  rencana  jahat  kepadaku,  aku  pun  tidak   usah  khawatir.  Allah  sudah  pasti melindungi hamba-hambanya yang bertakwa. Tidaklah aku harus khawatir, jika harus terjadi apa-apa kepadaku. Karena Allah pasti melindungi setiap  hamba-hambanya yang memperjuangkan agama-Nya. Allah pasti melindungi, setiap hamba-hambanya yang  memang  memilih  bermujahadah  dalam  perjuangan-Nya.  Tidak  ada  sebuah alasan untuk takut terhadap musuh-musuh Allah.



“Tok...Tok...!” Sebuah ketukan pintu kamar terdengar.

“Siapa? Ummi? Bi Iyem?” tanyaku. Tiada jawaban dari si pengetuk kamar.

Dengan malas aku pun menghampiri pintu kamar. Aku buka pintu kamar dengan perlahan-lahan. Saat pintu kamar sudah terbuka. Terlihat sosok pria yang tersenyum kepadaku.

“ABI....!” ucapku sambil mencium tangan Abi. Aku senang dengan kedatangan Abi. Serasa semua beban beratku pun sirnah.

Ummi yang berada disamping Abi, melihat dengan senyuman. “Assalamualaikum!” Ucap Abi.
“Walaikumsalam!” Jawabku. Masih dengan mencium tangan Abi.

“Bi. Waktu  ditelphon,  Abi  bilang  masih  agak  lama  pulangnya!”  tanyaku  dengan manja.

“Sebenarnya sih, masih ada beberapa urusan yang masih belum diselesaikan. Tetapi, Abi sudah kangen masakan Ummi nih!” Ucap Abi. Sambil melirik Ummi.

“Kangan apa Kangen....!” Kataku. “Ih. Zah. Genit!” Ucap Ummi.
Yang Akhirnya diselingi tawa oleh Abi dan Ummi.

“Abi, udah datang! Tinggal proses pengkhitbahannya aja nih. Yang dilanjutkan” Ucap
Ummi. Dengan menggodaku. “Ummi! Zah kan, malu”
“Ih. Emang Zah punya malu!” Ucap Abi. “Abi.” Kataku manja.
“Tidak ada yang perlu kita merasa malu. Selama perbuatan kita masih dalam koridor- koridor syariat!” Ucap Abi. Sambil tersenyum dengan kewibawaan.

“Tentunya, dengan mantap bahwa apa yang kita lakukan adalah memang hal yang benar. Benar  menurut hati nurani kita dan benar menurut syariat tentunya!” Sahut Ummi.

“Nah.  Zah  sudah  mengikuti  itu  semua.  Tinggal  aplikasi  syariatnya  yang  harus dilakukan!” Ucapku.

“Siipp! Putri kita memang sudah layak untuk menikah.” Ucap Abi. “Iya. Ummi sudah pengen gendong cucu nih!” Sahut Ummi.
“Iya. Zah juga bosen tidur sendirian!” Ucapku sambil nyengir. “Yeee..... Genit!” Ucap Ummi.
Tawa pun kembali merekah dalam kebahagian yang hadir. Abi kini kembali pulang. Waktu  yang   cukup  lama  buatku,  untuk  menghadapi  sebuah  masalah  dengan keputusanku    sendiri.    Bisanya    aku    selalu    meminta    pertimbangan    Abi    untuk memutuskan suatu masalah yang berat. Tetapi, kepergian Abi. Adalah pelajaran baru buatku.  Pelajaran  yang diberikan oleh Allah kepadaku. Untuk bisa lebih mandiri dalam hidup. Tidak menggantungkan sesuatu hal kepada mahluk. Meskipun itu adalah Abiku sendiri. Karena sesungguhnya, apa-apa yang kita gantungkan kepada mahluk. Pasti tidak akan kekal. Karena  sesungguhnya apapun yang ingin kita gantungkan. Adalah hanya kepada Sang Maha Pemilik  Kekuasaan. Yang memberikan naungan kepada  seluruh  alam.  Dan  yang  memberikan  kebaikan  pada  setiap  apa-apa  yang diciptakan.

Seiring  dengan   keriangan   dari   larutnya   kebahagiaan.   Aku   masih   saja mengingat tentang masalah-masalah yang sedang melanda para saudaraku. Terutama Dewi. Semoga Dewi baik-baik saja. Sesungguhnya, apa-apa yang akan kita lakukan. Jika  berujung  pada  hanya   penghambaan.  Penghambaan  kepada  Sang  pemilik kehidupan. Maka tidak ada yang perlu ditakutkan. Karena sesungguhnya, ketakutan kita adalah manakalah Sang Pemilik Kehidupan.  Mengacuhkan kita dari masalah- masalah  yang  diberikan-Nya.  Karena  sesungguhnya  setiap   permasalahan,  ujian ataupun cobaan. Adalah rasa kasih sayang yang ditunjukkan oleh Rabb kita kepada setiap hambanya. Jika kita sabar. Insya Allah, akan ada berita gembira kepada orang- orang yang sabar.
 
Jilid 12
Aku melihat Nova sedang duduk disebuah taman didaerah Village of Country. Raut  mukanya  terlihat murung dan tampak gelisah. Wajah putihnya pun bagaikan lukisan Monalisa.  Tetapi Monalisa, tak secantik Nova. Aku mencari tempat parkir. Untuk memarkir mobilku.

Setelah mendapatkan tempat parkir. Aku langsung turun dari mobil. Sekali- sekali, aku mengamati daerah perumahan elit ini. Tetap bersikap waspada. Bergegas aku langsung menuju taman Village of Country. Nova masih duduk sendirian, dengan sikap kewaspadaan. Nova terlihat sudah  melihatku. Dia mengangkatkan tangannya, seraya  memanggilku.  Langsung  saja  aku  mendatangi  dia.  Tetapi,  Nova  langsung berlari kearahku. Terlihat sangat tergesa-gesa.

“Farah. Kita harus cepat keluar dari sini!” Ucap Nova. Saat sudah berada didepanku. “Kenapa harus terburu-buru?” Tanyaku bingung.
“Sudah,  tidak  ada  waktu  untuk  menjelaskannya  disini!”  Ucap  Nova.  Dengan memegang tanganku.

“Ini sebenarnya, ada apa sih Nov?”

“Sudahlah. Ayo  kita  pergi!  Tidak  ada  waktu,  untuk  aku  jelaskan  disini.”  Nova menarik tanganku.

Dan kita pun bergegas pergi meninggalkan taman itu.

Segera  aku  tancap  gas  dengan  sedikit  cepat.  Meninggalkan  rona-rona keindahan  taman yang ditata rapi oleh para pengembang perumahan. Tetapi, tidak seindah apa yang telah diciptakan Ilahi. Taman-taman surga yang akan membuat kita terlena dan lupa dengan siksa dunia.  Taman-taman surga yang akan membuat kita akan lupa dengan beratnya cobaan yang diberikan  oleh-Nya. Taman-taman surga, yang memberikan kenikmatan bagi setiap penghuninya. Sungguh  keindahan yang tidak akan pernah tercipta oleh manusia. Bahkan untuk memikirkannya sekalipun. Tidak akan mampu untuk menembusnya. Menembus taman-taman surga yang nikmat nian untuk dihuninya. Nikmat yang tidak akan pernah bisa terpikirkan oleh manusia. Nikmat  yang  tidak  akan  mampu  untuk  digapai  didunia.  Nikmat  yang  tidak  akan mampu  dipikirkan  dalam  otak   manusia.   Sungguh  kenikmatan  yang  tiadatara. Kenikmatan  yang  telah  dijanjikan  oleh-Nya.  Jannah-jannah  Ilahi.  Jannah-jannah untuk para mujahid dan mujahidah. Jannah-jannah untuk para  pembela agama-Nya. Jannah-jannah para pemegang syariat-Nya. Pengusung kebenaran yang tak akan luput dari surga Ilahi.

“Kita mau kemana sekarang?” Tanyaku. Sambil menyetir.

“Terserah kamu, Far. Pokoknya, ketempat yang menurut kamu aman!” Ucap Nova. “Hem. Nggak ada Nov, nggak akan ada tempat yang aman!” Ucapku lirih.


“Apa?” Nova sedikit kaget mendengar ucapanku. “Kenapa?” Tanyaku balik.
“Apa benar, nggak ada tempat yang aman?” “Tidak ada!” Jawabku.
“Jika  kamu,  memang  benar-benar  tidak  mempunyai  tempat  yang  aman.  Sudah tamatlah riwayatku!” Nova berucap sambil terlihat putus asa.

“Iya, Nov. Tidak akan ada tempat yang aman. Sesungguhnya, Allah tetap mengawasi kita! Kita tidak  akan pernah bisa menemukan tempat yang aman. Bahkan kelubang semut pun. Kita tidak akan pernah bisa aman! Karena Allah mengawasi kita. Tetapi, kalau tempat yang aman. Yang tidak diketahui oleh manusia. Insya Allah, aku ada!”

“Oh. Aku kira kamu nggak punya tempat yang aman!” Ucap Nova. Sudah terlihat sedikit lebih tenang.

Aku hanya tersenyum.

Aku mengemudi dengan kecepatan sedang. Jalan-jalan yang lapang, menjadi sangat menguntungkan. Menguntungkan, karena aku bisa memacu mobilku dengan santai. Tanpa harus terkena macet yang melelahkan. Tetapi sayang, jalan beraspal ini begitu terjal. Terjal, karena banyak  lubang-lubang jalan yang tak terurusi. Entah kemana pajak yang setiap hari dibayar oleh para pemakai jalan. Hingga akhirnya, jalan-jalan yang seharusnya mulus dari lubang-lubang aspal yang rusak. Sudah tidak harus dilihat lagi. Hingga akhirnya, para pengendara pun tidak khawatir pada  setiap perjalanan mereka. Tidak khawatir dengan rasa was-was, saat mengemudi. Dan terjerembab kedalam lubang aspal, yang akhirnya menyebabkan kecelakaan.

Mobilku tetap melaju dengan kecepatan sedang. Seperti biasanya. Aku tidak mau  memacu  kendaraanku dengan kecepatan yang tak wajar. Meskipun, mobilku dengan  mudah  aku  pacu  sesuai  dengan  apa  yang  aku  inginkan.  Bahkan  cepat sekalipun. Mobilku bisa menuruti  permintaanku. Tetapi, aku bukanlah pengendara yang tidak mengerti tentang aturan berlalu-lintas  yang baik dan benar. Aku adalah orang  Islam  yang  taat  menjalankan  perintah-perintah-Nya.  Perintah-perintah  yang termasuk dengan kemaslahatan bersama. Perintah yang memang dapat  menambah pengetahuanku tentang keteraturan dalam kehidupan. Meskipun, perintah lalu-lintas bukan  ajaran dari syariatku. Tetapi, bukan berarti peraturan lalu-lintas bukan dari syariatku. Karena sesungguhnya, esensi dari syariat Islam. Juga tertuang dari perintah untuk    dapat    memberikan    kemaslahatan    bersama.    Karena    pada    dasarnya. Kemaslahatan  bersama  dalam  mewujudkan  sebuah  keindahan  dalam  keteraturan kehidupan. Adalah merupakan, syariat-syariat Islam.

Maka, aku  memang  harus  benar-benar  bisa  menyadari  tentang  ini  semua. Sadar akan aturan-aturan tentang kemaslahatan yang dimaksud dalam syariat. Hingga akhirnya aku sadar akan kemaslahatan yang memang seharusnya aku lakukan. Karena sesungguhnya, bukanlah sebuah hal yang besar. Jika kita menuruti aturan-aturan yang

memang memberikan kemaslahatan bagi setiap orang. Tanpa harus mengorbankan aturan-aturan yang sudah ada dan sudah diterapkan dalam Islam. Hingga, aku harus bisa melakukan dan melaksanakan aplikasi peraturan yang sudah ditentukan. Karena peraturan itu adalah untuk kepentingan kemaslahatan bersama.

“Tluuut...Tliit....” Dering Hpku.

Aku langsung menekan tombol handsfree. “Ukhti Dewi” tertulis di LCD Hpku. “Assalamualaikum Ukh!” Ucapku.
“Walaikumsalam”

“Gimana Ukh! Anti baik-baik saja?” Tanyaku langsung.

“Mbak. Ana  bisa  ketemu  Mbak  nggak,  sekarang!”  Ucapnya.  Seperti  memendam sesuatu dihatinya.

“Anti sekarang dimana?” “Ana sekarang di kampus!”
“Ana jemput sekarang, gimana?” Tanyaku. “Iya Mbak! Jemput didepan aja.”
“Iya. Ana langsung kesana! Assalamualaikum” “Walaikumsalam!”
Setelah itu  aku  langsung  saja  aku  menuju  kampus  Dewi.  Sejenak,  Nova terdiam. Terlihat dia bertanya-tanya.

“Ada apa, Nov?” Tanyaku. Disela-sela menyetir.

“Kita mau kemana, Far?” Nova terlihat agak bingung.

“Aku mau jemput adikku dulu! Dia sekarang lagi dikampusnya.” Ucapku dengan senyum.

“Hem. Kok kelihatannya ada masalah Far?”

“Insya Allah, semoga masalah itu bisa terselesaikan!” “Benar. Berarti memang ada masalah!” Desak Nova. “Masalahnya, sangat kompleks Nov!” Jawabku sekenanya.
“Far, apakah setiap muslim itu harus membantu saudaranya?”  Tanya Nova. Seketika itu.


Aku mengangguk. “Apakah, wajib?”
Aku hanya  mengangguk.  Sambil  tersenyum,  aku  jelaskan.  “Nov.  Sesungguhnya, wajib bagi seorang muslim membantu saudaranya! Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda. ‘Laa yu’ minu akhadukum khatta yukhibba ilakiihi maa yukhibbu linafsih’ yang  artinya.  ‘Tidaklah  sempurna  iman  seseorang  di  antara  kalian  sehingga  ia mencintai  saudaranya  sebagaimana  ia  mencintai  dirinya  sendiri.’  Jadi,  jika  ada seorang muslim yang memerlukan bantuan. Maka kewajiban muslim lainnya, adalah membantu!”

“Far. Aku salut. Aku benar-benar salut dengan semua aturan yang ditetapkan dalam Islam.  Apalagi,  sepertinya sangat mudah sekali seorang umat Islam menghafal Al Qur’an. Bahkan  perkataan seorang Nabinya pun. Terlihat sangat mudah dihafal!” Ucap Nova. Dengan mata yang berbinar-binar.

“Nov. Dalam Q.S. Al Hijr. Ayat 9. Allah berfirman. ‘Inna nakhnu najjalnaddzikra wa innalahu  lakhafiduun’ Yang artinya. ‘Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya  Kami benar-benar memeliharanya’ Jadi Al Qur’an itu, benar-benar dijaga oleh Allah  keaslihannya. Karena jaminannya penjagaannya dari Allah. Bagaimana Allah menjaganya? Pastilah dengan memudahkan penghafalan Al Qur’an  dan  hadits-hadits,  dan  memudahkan  lafal-lafalnya  agar  terlihat  indah  dan bermakna! Dengan salah satu cara seperti itulah, Allah memberikan penjagaan kepada Al Qur’an!”

“Sungguh, sangat  mengesankan!  Apakah  kamu,  bisa  mengajari  aku  Far?”  Tanya
Nova. Terlihat berharap.

“Insya Allah!” Jawabku. Sambil tersenyum.

Kampus Dewi sudah terlihat. Aku tinggal memutar untuk bisa memasuki area depan kampus. Seseorang akhwat terlihat sedang duduk-duduk disalah satu halte bus. Sesegera mungkin aku langsung menghampirinya. Dengan tepat berhenti didepannya. Akhwat  itu  tersenyum.  Dia  adalah  Dewi.  Yang  dengan  wajah  bingungnya  setia menungguku.

“Assalamualaikum.” Ucapnya, sembari langsung membuka belakang mobil. Setelah tahu kalau kursi depan ada sudah berpenghuni.

“Walaikumsalam.” Jawabku, menyambut.

“Afwan Mbak, ana merepotkan Mbak lagi!” Ucapnya langsung.

“Ukhti. Ana nggak mau anti ngomong seperti itu! Ingat.” Ucapku menekankan. “Iya, Mbak. Afwan.”
Setelah itu aku langsung menancap gas. Pergi meninggalkan halte bus.


“Gimana, Ukh? Apakah sudah ada titik terang?” Ucapku.
“Hem. Mbak, ana rasa masih sulit! Masih sangat sulit Mbak.” Dewi terlihat bingung. “Yah! Memang sulit, Ukh! Tapi, anti tetap harus bersabar dan tetap memohon kepada
Allah. Anti ingatkan...”

Dengan  seketika  itu  pun.  “BERSABAR  DAN  SHOLAT!”  Ucapku  dan  Dewi. Bersamaan, dan lalu tersenyum.

“Insya Allah, Mbak! Pasti.” Ucap Dewi.

“Eh, iya. Ini kenalin, temanku Nova!” Ucapku.

Setelah Nova dan Dewi berkenalan. Tiba-tiba, Nova mengatakan.

“Mungkin, alangkah lebih baiknya jika aku duduk di belakang aja deh. Biar Dewi duduk didepan!”

“Nggak usah! Mbak. Biar Mbak Nova aja yang duduk didepan!” Ucap Dewi.

“Ah. Nggak enak! Kayaknya, yang pantas duduk didepan adalan Dewi.” Ucap Nova, sedikit berharap.

“Jangan, gitu Nov! Kamu tetap duduk didepan aja. Jangan ada perasaan seperti itu!” Ucapku.
“Tapi kelihatannya nggak enak banget, gitu loh!” Ucap Nova, dengan tersenyum. “Bukan nggak enak Nov. Hanya kamu risih aja! Dikelilingi oleh para jilbabers kaya
kita!” Ucapku. bercanda. “Kalau kamu duduk dibelakang. Malahan, kesannya kayak
kamu itu aku culik!” Ucapku lanjut. Yang akhirnya membuat kami tertawa. “Mbak Farah!” Panggil Dewi.
“Iya, Ukh!”

“Mbak, ana kemarin ditelephon sama penjahat-penjahat itu!” Ucap Dewi. Terlihat seperti gelisah.

“Iya? Lalu mereka bilang apa?” Tanyaku penasaran.

“Mereka tetap mengancam, Mbak! Ana takut. Tadi ana bilang sama nenek, kalau ana mau nginep dirumah teman. Ana, takut kalau para penjahat itu tahu rumah nenek. Ana nggak mau ada apa-apa dengan nenek, jika ana tetap tinggal dirumah nenek!”

“Kalau begitu, anti ikut ana! Kita sembunyi, ditempat yang Insya Allah tidak akan diketahui oleh mereka!”

“Baik!”

“Nanti anti, tinggal sama Nova! Biaya hidup, semua ana yang tanggung.” Ucapku tegas.

“Mbak, ana terlalu merepotkan!” Ucap Dewi.

“Iya. Far. Aku kayaknya sudah terlalu merepotkan kamu!” Sahut Nova. “Kalian jangan ngomong begitu! Semua ini  hanya karena Allah!” Ucapku.
Sejenak, suasana menjadi didalam mobil. Terhenyak. Kata-kata Rabb muncul dengan sendirinya.   Dengan   mudahnya,   dan   dengan   kekuatan   hati   yang   tulur   untuk menyebutnya. Hingga, setiap yang mendengar pun. Harus tertunduk mengagumi-Nya.

“Tapi. Tetap ada syaratnya!” Ucapku, memecahkan keheningan. “Apa, Far?” Tanya Nova.
“Iya, apa Mbak?” Sahut Dewi juga.

“Harus sering-sering, bersihin genteng and nguras sumur yah!” Ucapku, bercanda. “Yee.....” serentak, jawaban yang tidak dikomando meluncur dari Nova dan Dewi.
Suasana pun kembali ceriah. Meskipun, terdapat aral-aral yang melintang didalam setiap diri  Nova dan Dewi. Nova sendiri, sampai sekarang aku masih belum tahu. Masalah apa yang sedang  menggelayuti hatinya. Hingga-hingga, dia harus lari dari rumahnya dengan kegalauan yang terpendam. Dan Dewi, entah bagaiaman perasaan hatinya sekarang. Masalah-masalah yang sangat berat, masih bercokol dalam hatinya.

Mobilku pun terus melaju. Menuju tempat yang harus dituju. Tempat yang nyaman  untuk dihuni. Yang dapat memberikan perasaan tenang para penghuninya. Yang  dapat  memberikan  ketentraman,  pada  jiwa-jiwa  yang  berada  didalamnya. Tempat yang akan membuat setiap manusia rindu untuk memilikinya. Tetapi, rumah itu bukan tempat tinggal. Hanya rumah yang akan membina menjadi tempat tinggal idaman yang lainnya. Rumah yang akan memberikan keindahan kepada rumah-rumah berikutnya.  Membuahkan  rumah  yang  berisi  kedamaian  dan  ketentraman  dalam sebuah kehidupan. Karena rumah itu adalah, rumah yang memang diperuntukkan untuk berkhalwat dengan Yang Maha Memberi ketenangan. Allah SWT.

Saat-saat  mobilku   melaju   dengan   nyaman.   Di   jalan   tol   yang   sedikit bergelombang.  Menuju  area  puncak  pegunungan.  Indah,  karena  didepan  adalah sebuah gunung berdiri dengan gagahnya. Tetapi tetap terasa panas. Tak disangka, aku melihat  sebuah  mobil  sedan  dari  arah  belakang.  Melaju  dengan  sangat  kencang. Sering kali mobil itu membunyikan klakson.  Seraya mengingatkanku untuk untuk minggir, memberi jalan untuk dia lewat. Aku pun,  meminggirkan sedikit mobilku.

Mempersilahkan mobil yang terburu-buru itu untuk melewatiku. Dengan cepat, mobil itu sudah sampai disamping mobilku. Kita pun melaju dengan kecepatan yang sama. Aku sedikit bingung dengan ulah pemudi itu.

Kaca cendela pintu mobil pun terbuka. Terlihat seseorang berkacamata hitam, mengacungkan sebuah benda. Dan berteriak-teriak “CEPAT MINGGIR KAMU!”

Dengan sangat tercengang, aku melihat benda yang diacung-acungkan kepadaku. HA! PISTOL. Teriakku dalam hati

“MBAK, DIA BAWA PISTOL!” Teriak Dewi keras.

Dengan cepat, aku pun menancap pedal gas lebih dalam lagi. Seketika itu pun, aku melesat cepat.  Mobilku pun dengan cepatnya mendahului mereka. Terlihat dikaca spion belakang. Mereka pun, menancap gasnya. Berusaha mengejarku. Kejar-kejaran antara dua mobil pun berlangsung. Dewi  terlihat sangat panik. Nova juga terlihat panik, tetapi masih terlihat bisa mengontrol diri.

“Bagaimana, ini? Apa yang harus kita lakukan?” Ucap Dewi. Bingung.

“Ukh. Telephon polisi! Barangkali, polisi nanti bisa menghadang mereka dipos tol selanjutnya!” Ucapku. Sedikit lebih memerintah.

“Jangan! Jangan lapor polisi. Aku nanti bisa celaka.” Ucap Nova.

“Lalu,    sekarang    apa    yang    harus    kita    lakukan?”    Ucapku    bingung.    Sambil berkonsentrasi menyetir.

“Far, aku mohon. Jangan telephon polisi! Kamu harus bisa, lolos dari mereka. Kalau kita  lapor  polisi,  maka  aku  akan  kembali  kerumah.  Dan  imanku  taruhannya!” Ucapnya serius.

Aku sontak kaget dengan ucapan Nova. “Apa maksudmu, Nov?” Tanyaku.

“Far, pokoknya kamu harus bisa lolos dari mereka! Tekadku sudah bulat, aku mau menjadi   seorang   muslim.   Mungkin   mereka   anak   buah   papaku,   yang   ingin membawaku kembali!” Ucap Nova.

Aku bagaikan mendengar sebuah guntur yang menggelegar. Perasaanku sangat tidak karuan.   Rasa   senang   bercampur   dengan   kekalutan,   kebingungan   dan   bahkan ketakutan. Tetapi, semua itu  telah dikalahkan oleh rasa senangku yang mendalam. Aku harus bisa lolos dari mereka! Kataku dalam hati.

Seketika itu pun aku langsung menancap gas lebih dalam lagi. Mobilku pun melaju cepat. Penjahat-penjahat itu pun, mengikutiku dengan kecepatan yang sama cepatnya denganku. Tak ayal, kejar-kejaran dalam kecepatan tinggi pun berlangsung. Beberapa kali, aku berkelit dari mobil para penjahat itu. Mereka, terlihat sangat terlatih dalam menjalankan rencana mereka. Sesekali, mereka hampir bisa memaksaku untuk keluar dari jalur tol. Tetapi, aku pun dengan sekuat tenaga. Dan dengan bantuan Allah, bisa menghindar dari sergapan mereka.

“DUA.....AAAAR” Tetapi, sebuah suara letusan pistol pun terdengar.

Aku panik. “APA ADA YANG TERKENA TEMBAKAN?” Teriakku. Kepada Nova dan Dewi.

“Aku nggak apa-apa Far!” Ucap Nova.

“Tenang, Mbak. Pelurunya hanya mengenai jok belakang. Ana nggak apa-apa!” Ucap
Dewi.

Hem.  Kalian  ingin  mencoba  merasakan  kekuatan  para  mujahidah  Allah  yah! Gumamku  dalam hati. Seraya mencengkramkan tanganku distir mobil. Dan dengan lebih dalam lagi, aku injak pedal gas mobil. Mobilku pun melaju dengan kecepatan yang  tinggi.  Para  penjahat  itu  hanya   bisa  mengikutiku  dari  belakang.  Dengan mendahului mobil-mobil yang ada didepanku. Aku pun, melesat cepat. Klakson pun, tidak lupa untuk aku kumandangkan. Memberitahukan tentang, kuatnya  mujahidah Allah. Mobilku terus melesat cepat.

Tetapi,  saat  aku  sedang  berada  dijalur  kanan.  Sebuah  truk  menghalangi jalanku. Aku  tidak bisa berbelok kekiri, karena ada sebuah bis. Kini aku diantara kedua kendaraan yang besar-besar itu. Aku terpojok. Dari kaca spion belakang. Aku pun  melihat  para  penjahat  itu  dengan  cepat  menuju  kearahku.  Klakson  pun  aku bunyikan  terus-terusan.  Entahlah,  mungkin  supir  bus   jengkel.  Hingga,  dia  pun mengklakson balik. Suara klakson yang memekakan telinga. Tetapi,  dengan cepat pun. Bus itu melaju mendahului truk. Hingga akhirnya aku bisa langsung berbelok kearah kiri. Suasana begitu sangat menegangkan. Dari arah belakang, terlihat seorang penjahat yang  berada dimobil sedan itu. Memempersiapkan tembakan berikutnya. Aku tidak bisa langsung melaju cepat. Karena, aku kini terhalang oleh sebuah mobil jeep yang berada didepan. Ingin aku langsung  membelokkan kearah kanan. Tetapi, sedan  para  penjahat  itu  pun.  Melesat  cepat.  Langsung  berada  disamping  kanan mobilku. Tepat disampingku, seorang penjahat menodongkan pistolnya kearahku.

Kini aku tepat berada disamping pistol, yang diarahkan kepadaku. Dzikir pun selalu terucap dalam hati dan mulutku. Jantungku berdetak hebat. Tiada yang dapat aku lakukan lagi. Kini tinggal menunggu waktu yang tak pasti. Kematian yang akan aku hadapi. Hingga semoga, kesyahidan yang akan aku raih. Bukan, ini bukan syahid! Syahid bukanlah putus asa. Aku tidak boleh berputus asa, masih banyak jalan untuk bisa selamat dari cobaan ini! Aku harus bisa. Selama aku masih bisa melawan, maka aku harus melawan. Syahid bukan berarti berdiam diri menunggu ajal. TIDAK, AKU HARUS MELAWAN Teriakku dihati. Dan seketika itu pun,

“CEPAT, PASANG SABUK PANGAMAN!” Teriakku. Pada Nova dan Dewi.

Entah, sepersekian detik. Aku langsung menginjak pedal rem dan mengaktifkan rem tangan dengan  sangat keras. Mobilku pun berhenti seketika. Dan seketika itu pun, kami hampir terpelanting kedepan. Beruntung, Allah masih menyelamatkan kami, dan kami memakai sabuk pengaman. Alhamdulillah! Untung juga, tidak ada mobil yang persis  berada  dibelakangku.  Para  mobil  penjahat  itu  pun,  nyelonong  mendahului mobilku. Sekilas, mereka menembakkan pistolnya. Dan  Alhamdulillah, peluru itu tidak mengenai kami. Melesat entah kemana.


Dengan jantung yang masih berdegup keras. Aku langsung mengemudikan mobilku  dengan kecepatan normal. Dan melaju dilajur kiri. Tetapi, tak disangka. Sedan penjahat itu melaju  dengan cepat. Dari yang sebaliknya. Mereka menantang arus jalan. Mereka tepat dibagian kiri jalan. Tepat berada didepan kami. Aku sangat gugup. Mereka terlihat akan menabrakkan mobilnya. AKU  HARUS BISA! Teriakku keras dalam hati. Dengan cepat pula, aku tancap pedal gas. Dan kami pun  melesat cepat. Searah dengan para penjahat itu, mobilku pun terlihat siap untuk menantang mereka.  Jarak kami pun sudah semakin dekat. Kami hampir akan bertabrakan. Jika para penjahat itu tidak  membelokkan kesamping kiri jalan. Hem. Segitu saja nyali kalian! Kalian takut akan kematian. Sedangkan kami, memang mencari kematian itu! Kematian yang kami cari, adalah kematian berlandaskan perjuangan. Bukan bunuh diri, atau kekonyolan dalam kematian.

Terlihat dari kaca spion. Para penjahat itu membelokkan mobil mereka. Dan mereka pun  langsung melesat menyusul kami. Pedal gas pun aku tancap. Dengan dzikir dan keberanian. Aku  pun tidak takut akan maut yang akan menjemput. Jika memang  waktunya  menjemput.  Tetapi,  aku  tidak  akan  pernah  menyerah.  Kejar- kejaran pun terjadi lagi. Dengan cepat, kami melesat.  Diantara mobil-mobil yang lainnya.   Begitu   pula   para   penjahat.   Mereka   terlihat   sangat   berambisi   untuk menghabisi kami. Entah, mereka sudah dibayar berapa. Sepertinya, bayaran mereka sama artinya dengan menebus nyawa mereka. Mereka tidak berfikir tentang neraka yang akan menghanguskan mereka. Mereka hanya memikirkan dunia, yang padahal hanya menipu mereka.

Suara mesin mobil sedan para penjahat begitu keras. Tidak seperti suara mesin mobilku yang tidak begitu terdengar. Meskipun kecepatan yang aku gunakan sangat cepat. Beberapa kali, para penjahat-penjahat itu hampir berada disampingku. Tetapi, jika  aku  menambah  kecepatan.  Mereka  pasti  tertinggal.  Banyaknya  mobil-mobil sering menguntungkan kami. Tetapi juga, tidak sedikit yang merugikan kami. Karena hampir-hampir, para penjahat itu mendapatkan kami.

Sebuah mobil, berada didepanku. Dan disamping kiri pun ada sebuah mobil yang menghalangi jalanku. Kini aku terpojok lagi. Klakson, aku bunyikan berulang- ulang.    Tetapi,    mereka    masih    saja    tidak    bergeming.    Mobil-mobil    itu    tidak menghiraukan klakson yang aku bunyikan. Dan seketika itu pun, sedan para penjahat itu sudah  berada disamping kiriku. Setelah membuka cedela pintu mobil. Mereka tersenyum. Ada rasa  kemenangan yang mereka rasakan. Kemenangan yang mereka kira akan membuat mereka menjadi  seorang yang menang. Dari arah cendela pintu mobil yang ada dibelakang. Terlihat, seseorang menodongkan senjata laras panjang. HA, itu adalah M16. Senjata yang telah membunuh para  mujahid dan mujahidah. Senjata yang dipakai oleh orang-orang yang bengis. Dan haus akan dara!. Senjata yang telah memberondongkan pelurusnya, hanya untuk kesenangan belaka. Untuk menujukkan kekuatan mereka. Padahal, mereka tak ubahnya senjata murahan yang akan tetap kami lawan. AKU BISA MENGHADAPI KALIAN!

Para  penjahat  itu,  tertawa.  Terlihat  rasa  kemenangan  didiri-diri  mereka. Mereka tak tahu akan kepastian kemenangan para tentara Allah. Hingga wajah-wajah mereka  pun  terlihat  bengis  dalam tatapan  yang  sangat  haus  akan  kematian.  Aku tanamkan  dalam  hati,  AKU  TIDAK  TAKUT!  ALLAH  HU’AKBAR.  Mereka  sudah

mengarahkan senjata laknat itu kepada kami. Hingga jika diberondongkan peluru- peluru  itu.  Paling  tidak,  ada  satu  peluru  yang  bisa  mengenai  kami.  Aku  ingin menghentikam  mobilku.   Tetapi,  dibelakang  pun  ada  sebuah  mobil.  Jika  aku menghentikan mobilku, pasti aku akan tertabrak dari belakang dengan keras. Kini aku hanya berharap kepada Allah. Tanpa usaha apapun.  Karena semua usaha yang aku lakukan   pun,   sudah   sangat   maksimal.   Tinggal   menunggu   pertolongan,   atau kesyahidan.

Saat mereka sudah siap akan menembakkan senjata itu. Dari arah tengah, muncul sebuah mobil Jeep yang besar. Langsung saja mobil itu, menghalangi bidikan mereka  kepada  kami.   Ucapku  syukur  atas  pertolongan-Nya.  Tetapi  yang  aku herankan. Jeep itu dengan cepat dan  keras. Membelokkan kemudinya kearah kiri. Kearah para penjahat itu.

“BRUUUAAAAKKK...” Langsung saja, mobil sedan para penjahat itu terpelanting kekiri.

Sedan para penjahat itu pun berhenti seketika dijalur kiri. Mereka terlihat tidak dapat meneruskan pengejaran untuk menangkapku. Jeep itu akhirnya berjalan pelan. Terlihat seperti  melindungiku. Ucapku syukur berkali-kali. Tiada kata yang pantas diucapkan selain pujian dan  rasa  syukur yang teramat dalam kepada Sang Maha Pelindung.    Yang    melindungi    kami    dari    segala    marabahaya.    Yang    dapat membinasakan kita karena kecongkakan dan  kesombongan. Tetapi, sungguh Allah telah membuktikan janjinya. Janji untuk menolong para mujahid dan mujahidah. Para pejuang  yang  menegakkan  ajaran  agamanya.  Menegakkan  dan   mengagungkan syari’at-Nya.  Janji  memberikan  pertolongan,  yang  tak  akan  pernah  kita  duga. Sungguh pertolongan yang tak terduga.

Aku  pun  dengan  cepat  meninggalkan  arena  pertempuranku.  Arena  yang membuat  degup jantungku tak beraturan. Arena yang telah membuatku mengingat Allah dengan kepastian  janjinya. Yang akan selalu aku rindukan kembali. Medan pertempuran dalam jihad abadi.

Pesan: =========================================================== Hanya itu yang dapat kami tulis untuk potingan artikel ini, bila pengujung semua menyukai ini silahkan tinggalkan komentar anda.... Salam Hangat By Iwan Kurniawan ===========================================================


0 komentar

Posting Komentar

Cancel Reply