Kamis, 21 Oktober 2010

Aku Menggugat Akhwat dan Ikhwan Jilid II

JILID 2
“Gimana Ukhti! Siap?” Tanya ukhti Erni. “Insya Allah, ana siap!” Ucapku pasti.
“Tapi Ukh. Disana tempatnya sangat kumuh!” Erni terlihat khawatir.

“Insya Allah.  Medan  dakwah  yang  berliku-liku,  sudah  ana  lewati.  Tinggal  anti memberikan medan dakwah yang lainnya! Ana sudah siap dengan medan jihad itu” Jawabku mantap.

“Baik Ukh! Ana serahkan kepada anti. Ana tahu, anti lebih berpengalaman dari kami. Makanya ana  ingin anti ikut dengan kita. Ana juga ingin memastikan, apakah anti siap!”

“Insya Allah, ana akan selalu siap! Demi dakwah kita. Ana akan selalu siap!”

Erni telah memberikan amanah dakwah kepadaku. Aku tidak mungkin untuk melepaskan amanah itu. Meskipun amanah dakwahku juga sangat banyak. Aku harus tetap bisa memberikan yang terbaik, demi dakwah ini. Demi untuk meraih kemuliaan disisi sang Maha Mulia.

Beberapa amanah-amanah dakwahku. Membuat benar-benar bikin hidup lebih hidup.  Meski  memang  bahu  ini  terasa  berat.  Tetapi  amanah-amanah  yang  telah dipercayakan, tidak boleh dinafikkan. Selama amanah-amanah itu, tidak diamanahkan secara sembarangan.

Desa kumuh. Binaan para akhwat kampus, terlihat dengan jelas. Aura-aura kejahilan terasa begitu menyengat. Apalagi bau-bau yang tidak mengenakkan. Memang ironis sekali. Ternyata masih  banyak  saudara-saudara umat Islam yang sangat menderita. Menderita  karena  kemiskinan,  dan   tak   pelak  penderitaan  akhidah  pun  mereka rasakannya juga. Dengan pasti, aku dangan akhwat-akhwat lain. Berjalan. Tak lama, Erni berhenti disuatu rumah.

“Kita, telah sampai!” Erni menunjukkan sebuah rumah. Rumah yang terlihat terawat lebih bagus ketimbang rumah yang lainnya. “Assalamualiakum”

Terlihat seorang wanita paruh baya datang menyambut. Terlihat sangat suka cita melihat kedatangan kami.

“Mari-mari silakan masuk! Maaf ya, rumahnya berantakan.” Ucap wanita itu. Sambil membersihkan beberapa debu-debu yang menempel dibeberapa kursi kayunya.

“Bu  Inah,  jangan  repot-repot  yah!”  Ucap  Erni.  Terlihat  mereka  sudah  kenal sebelumnya.

“Oh, nggak kok neng!” Ucap bu Inah, sambil mempersilahkan duduk.

“Bu. Erni disini mau memperkenalkan ustadzahnya!” Ucap Erni sambil tersenyum.


“Oh, iya!” Jawab bu Erni sambil duduk. “ini, Bu!” Erni menunjukku.
Aku tersenyum.

“Namanya Mbak Farah, Bu! Nanti Mbak Farah ini yang akan mengajarkan ngaji dikampung sini. Termasuk, juga nanti teman-teman kami akan ikut pengajian Mbak Farah disini!” Ucap Erni lanjut.

“Insya  Allah!”  Jawabku  pelan.  Sangat  beda  sekali  dengan  kondisi  dirumahku. Kampung ini benar-benar menjadikan ladang pahala. Yang representative bisa aku dapatkan. Dan ini adalah  tugas yang berat bagikut. Ya Allah kuatkan perjuangan hambamu! Ucapku dalam hati.

Bu Inah  tersenyum  melihatku.  “hebat  yah!  Masih  muda  dan  cantik,  sudah  jadi ustadzah.” Pujinya.

“Apalagi belum menikah! Kalau Ibu punya anak laki-laki, bisa dijodohkan sama
Mbak Farah. Kok Bu!” Veletuk Dita. Yang akhirnya membuat “GERR…” Semua. Aku hanya tersenyum. Akhwat ini, ngomong apaan sich! Batinku.
Dari balik kelambu, penutup ruang dalam. Muncul seorang pemuda, dia berjalan menuju  kedepan  dengan  langkah  yang  menunduk-nunduk  sopan.  “Itu  anak  Ibu! Rendra namanya!” Yang akhirnya diikuti dengan anggukan para akhwat.

“Mbak Farah, rumahnya dimana?” Tanya Ibu Inah. Memecahkan suasana.

Aku bingung untuk menjawabnya. Jangan sampai aku bilang rumahku dikawasan cemara indah!  Bisa-bisa Ibu Inah segan kepadaku. Bukan karena agamaku, tetapi karena kekayaan orang tuaku. Gumamku dalam hati. “Saya tinggal didekat sini aja kok Bu!” jawabku sekenanya.

Bu Inah hanya mengangguk. Beberapa akhwat mencoba mengerti dengan jawaban itu. “Kapan kita mulai!” Ucap Bu Inah
“Lebih baik, secepatnya Bu!” Ucapku

“Baik, kalau begitu minggu depan! Gimana?” Bu Inah terlihat bersemangat sekali. “Bisa, Bu! Tempatnya dimana?” Tanyaku.
“Gimana kalau disini saja! Dirumah ibu.” Bu Inah menawarkan diri.

“Iya, tidak apa-apa!” Jawabku. Yang akhirnya diikuti oleh teman-temanku.

Terlihat senja memerah. Panas mentari tak lagi segarang disiang hari. Aku dan teman-temanku langsung berpamitan.

Dalam perjalanan kami pun berbincang-bincang.

“Anti, dapat darimana desa itu?” Tanyaku kepada Erni penasaran.

“Sebenarnya sich, bukan ana. Tetapi Akhi Khalid yang duluan masuk kedesa itu! Saat itu, akhi Khalid melihat ladang dakwah desa itu besar!” Ucap Erni serius.

“Oh!” jawabku sekenanya. Ikhwan itu lagi! bisik hatiku. Entah kenapa setiap nama Ikhwan itu disebut. Hatiku berdesir. “Lalu, apakah Akhi Khalid ikut membina desa itu juga?” Tanyaku penasaran.

“Loh! Malahan, Akhi Khalid yang pertama kali membina desa itu. Yang pertama kali, membina anak-anak desa itu. Lalu, setelah itu membina para bapak-bapaknya. Kalau anti tahu, pasti anti akan kaget. Siapa bapak-bapak para anak-anak yang ada didesa itu!” Erni terlihat begitu serius sekali.

“Emang siapa Ukh?” Aku benar-benar penasaran.

“Bapak-bapak didesa itu, kebanyakan adalah para preman-preman!”

“HAH! Preman” ucapku kaget. Masya Allah, para preman saja bisa dibina oleh Akhi Khalid! Sungguh dakwah tidak hanya berada dimasjid. Tetapi berada dimana-mana! Gumamku dalam hati. Semakin menjadikan kekagumanku dengan Al Akh yang satu itu.

“Itulah, Ukh! Akhirnya Akhi Khalid mencoba membentuk pengajian untuk para ibu- ibu.  Dan  diserahkan  kepada  akhwat-akhwat  LDK.  Anti  kan  tahu,  akhwat-akhwat LDK masih belum seberapa pengalaman. Akhirnya, kami memilih anti. Karena kami melihat anti lebih berpengalaman dalam pembinaan ibu-ibu!”

“Ah. Nggak  juga!  Ana  sama saja  dengan  anti”  Ucapku  merendah. Masya  Allah, benar-benar berat amanahku.

Erni tersenyum. “Siapa sih, yang nggak kenal ukhti Farah! Apalagi, mantan sekretaris
LDK. Dan termasuk tangan kanannya akhi Khalid!” Goda Erni.

JANGAN…jangan sebut nama itu terus. Jantungku sudah tidak kuat menerima nama jundi itu.  Teriakku dalam hati. “Anti itu, ngomong apaan sich!” Ucapku mencoba mengalihkan perhatian.

Melewati persimpangan Jl. Raden Shaid. Teman-temanku mulai berpamitan. Aku pun  harus naik angkot menuju rumahku. Meskipun nanti aku harus menjadi pepesan akhwat lagi. Atau  bahkan berjalan dari perumahanku, karena angkot tidak boleh memasuki permukiman elit itu. Biarlah, biar aku terbiasa untuk menjadi orang susah. Biar nuraniku tertempa dalam setiap hal-hal baru yang aku dapatkan. Meskipun pahit getir itu juga, harus aku alami dan merasakannya.

***

Tilawah sudah aku kerjakan. Entah kenapa rasa-rasanya pengen sekali melihat acara-acara tv. Sudah sangat lama, aku tidak menontonnya. Dengan malas, aku ambil remote  untuk  menyalakan  tv.  Hem  tidak  pernah  berubah,  sudah  lama  aku  tidak melihatmu. Tapi kamu masih tetap saja sama!.

Tak seberapa  lama.  Aku  menekan  salah  satu  program  tv  yang  bernuansa Islami. “HIDAYAH” hem bagus juga nih! Sesaat aku menonton sinetron itu. Dari alur ceritanya  bagus  juga,  tetapi  sayang  dari  artisnya  masih  senang  mempertontonkan aurat-auratnya.  Bagaimana  kalau,  masyarakat    meniru  gaya  berpakaian  seperti mereka! Pikirku dalam hati. Ternyata sama sekali tidak Islami. Dari judulnya saja seperti film  yang  Islami. Ternyata dalamnya, sama saja dengan program tv yang lainnya.  Apalagi,  mempersepsikan  seorang  laki-laki  yang  berpoligami.  Bertindak semena-mena  terhadap   istri-istrinya.  Ini  sama  saja  menghasut  seseorang  untuk melanggar syariat Islam. Apalagi, ini  termasuk menyatakan bahwa poligami akan terus membuat dampak yang tidak baik. Aku sangat tidak setuju.

Ini  pemutar  balikan  ajaran  namanya.  Memang,  sering  terjadi  poligami dianggap   sebuah  malapetaka  bagi  sebuah  keluarga.  Tetapi,  seharusnya  bukan poligaminya yang  dipersepsikan seperti itu. Seperti malapetaka yang sangat besar. Seharusnya,  laki-laki  yang   melakukan  poligami  itulah.  Yang  menjadi  sumber masalah. Karena akhidah dan akhlaknya  masih belum mengetahui ajaran rasulullah secara benar. Jadi itulah yang harusnya jadi masalah awal. Bukan ajaran poligaminya. Jadi sama saja, jika ada yang mengatakan bahwa tidak akan pernah bisa adil seorang laki-laki yang berpoligami. Malah seharusnya, ungkapan itu dibalik. Menjadi, tidak akan  pernah bisa adil laki-laki yang tidak berpoligami. Karena, nyata-nyata bahwa poligami itulah yang  menjadikan ujian suami menjadi adil apa tidak. Dan adil itu sendirilah,  nantinya  yang  mengantarkan  seorang  laki-laki  menuju  jahannam  atau jannah Illahi.

Bosan    juga    melihat    tayangan-tayangan    menyedihkan    itu.    Maksudnya, menyedihkan karena tidak berlandaskan Al Qur’an. “KLIK.” Aku matikan saja tvnya. Lebih  baik  aku  terlelap  dalam  tidur.  Memimpikan  berjuang  bersama  mujahidah- mujahidah  Allah.  Bermimpi  tentang  indahnya  bertemu  dengan  istri-istri  manusia termulia didunia. Bermimpi tentang segala  perjuangan. Bermimpi tentang indahnya kemenangan. Dan saat aku bangun. Semua mimpi-mimpiku terwujud. Tapi memang tidak  semudah  itu.  Ya  Allah  untuk-Mu  lah  aku  tertidur.  Dan  untuk-Mu  lah  aku terbangun. Dan bangunkanlah aku pada sepertiga malam-Mu.



***

Pagi yang indah. Aku berjumpa lagi denganmu. Aku tetap setia menantimu. Pagi.  Embun  pagi  tetap  setia  menyirami  bunga-bunga.  Amanah-amanah  dakwah sudah menantiku. Siang ini aku harus berkumpul dan bertemu dengan teman-teman. Kali ini bukan di LDK. Tetapi ditempat  pengajian yang setiap minggu harus aku hadiri.  Wajib.  Untuk  dapat  selalu  mengingatkan  dan  menguatkan  azzamku.  Agar dapat selalu istiqomah dalam berdakwah.

Seperti  biasanya.  Aku  harus  berjalan  menuju  pangkalan  angkot.  Sudah kebiasaanku. Dan sudah kebiasaan akhwat-akhwat yang lain. Biarlah, sesulit apapun jalan dakwah. Aku akan tetap setia dalam mengembannya. Meskipun jalan didepan, sangat terjal dan sulit untuk aku lalui.

Pengap, panas, bau keringat dan bau parfum yang menyengat. Bersatu padu dalam udara yang ada diangkot. Terlihat seorang ibu, berusaha menenangkan bayinya. Karena menangis,  kepanasan.  Seorang siswa SMA berada disamping pintu masuk angkot.  Berusaha  untuk  mendapatkan  angin  segar.  Beberapa  orang  pun  terlihat berkipas-kipas ria. Termasuk yang berada disampingku. Rok yang diatas lutut, baju atasnya terlihat trendy. Sepertinya wanita karier yang  berada di kantoran. Ternyata sebuah  baju  yang  dipilih  oleh  wanita  sendiri,  belum  tentu  nyaman  dipakai  oleh wanita! Makanya, jangan asal pilih baju. Pilih yang telah dipilihkan-Nya. Pikirku dalam hati.

Bagaimana  bisa  nyaman.  Wanita  yang  berada  disampingku,  sedaritadi. Berkipas-kipas, sangat terlihat kepanasan. Padahal bajunya, sangat kontras dengan pakaian yang  aku kenakan. Sesekali wanita itu melihatku. Tatapan matanya datar, terlihat  sinis.  Aku  hanya  tersenyum,  saat  wanita  itu  melihatku.  Namun  sayang, wajahnya terlihat tidak bersahabat. Ingin  sekali aku menyapanya. Tetapi, aku takut jika dia tidak menanggapiku. Beberapa kali, dia selalu melihatku. Dan selalu, tatapan datar  dan  tarlihat  sinis  yang  ditujukan.  Aku  harus  menyapa  dia,  toh  nggak  ada salahnya! Kalau dia tidak menanggapi. Aku juga nggak rugi apapun. Dan nggak perlu merasa malu dengan wanita yang tidak punya malu. Pikirku.

“Mau turun dimana, Mbak!” Tanyaku, berusaha ramah. “Jl. Sriwijaya.” Jawabnya datar tanpa menatapku.
“Oh!” Aku masih berusaha tersenyum ramah. Itu kan daerah perkantoran!

Aku tidak  lagi  bermaksud  tanya  lagi.  Jika  aku  terus  bertanya,  nanti  dikira  aku menginterogasinya.  Apalagi,  biar  wanita  itu  yang  balik  bertanya.  Nggak  etis, seseorang banyak bertanya dengan lawan bicaranya, yang tidak dikenal.

Tak seberapa lama, wanita itu pun bertanya. “Kalau Mbak, turun dimana?”

Nah kan, umpannya dikembalikan. “Saya, turun, didaerah Jl. Diponegoro” Ucapku dengan senyum.

“Mbak,  bekerja   disana?”   tanya   wanita   itu   kembali.   Sekarang   lebih   terlihat
memanusiakan manusia.

“Oh, nggak kok Mbak! Saya disana mau kerumah saudara” “Oh!” Ucapnya datar.
“Mbak, bekerja?” Tanyaku membuka percakapan kembali. “Iya!” Wanita itu menjawab dengan lebih ramah.


“Kalau boleh tahu, Mbak bekerja dibidang apa?”

“Saya, bekerja disalah satu perusahaan asing!” jawabnya, terlihat bangga. “Wah, pasti gajinya besar ya Mbak!” Ucapku memuji dia.
Wanita itu tertawa. Terlihat bangga sekali. “Sudah berapa lama, bekerja disana Mbak?” “Sudah, hampir empat tahun!”
“Sudah lama juga, ya Mbak!” “Ya, begitulah!”
“Oh  iya,   nama   saya   Farah!”   Kataku   sambil   mengulurkan   tangan.   Mengajak bersalaman.

“Oh iya! Nama saya Vita” Jawabnya ramah.

Hem, ternyata ramah juga kok wanita ini. Pikirku.

Angkot terus melaju. Sesekali terhenti, karena kemacetan. Aku dan Vita, masih asyik mengobrol.  Banyak hal yang dapat aku ketahui darinya. Ternyata dia seorang PR (Publik Relation). Seorang wanita muda yang sudah bersuami. Kariernya yang terus menanjak, dari tahun ketahun. Sungguh sangat dibanggakannya. Kasihan wanita ini, dunianya terbelenggu dengan kefanaan dunia.

“Eh,  Fara!  Aku  mau  tanya,  boleh?”  Vita  sudah  tidak  segan-segan  lagi  untuk memanggil namaku.

“Silakan!”

“Baru kali ini loh, aku mengobrol dengan seorang wanita yang berjilbab besar. Seperti kamu! Aku sering, bertemu dengan seorang wanita yang berjilbab seperti kamu. Tapi sayang, wanita-wanita yang  berjilbab seperti kamu memandangku dengan tatapan yang terlihat jijik sekali. Aku juga muslimah loh! Apakah karena aku nggak berjilbab, makanya mereka melihatku seperti itu?” Serunya.

Oh jadi itu! Yang membuat pandangan datarnya tadi tertuju kepadaku. Bagaimana aku menjelaskan tentang ini. Gumamku dalam hati. Bingung. “Mungkin itu perasaan Mbak  Vita  saja,  deh!  Karena  Mbak  Vita  nggak  berjilbab,  lalu  ada  orang  yang berjilbab memandang Mbak Vita.  Sehingga Mbak Vita melihat diri Mbak merasa dihina oleh wanita yang berjilbab! Hem, kalau misalkan Mbak Vita bertemu dengan wanita berjilbab besar. Dan wanita itu memandang dengan  tidak enak!” aku diam sejenak. “Atas nama wanita yang berjilbab, saya meminta maaf!” Ucapku serius.

Memang  banyak  sekali  akhwat-akhwat  yang  kelewat  batas.  Memandang seorang wanita yang tidak berjilbab, dengan tatapan yang merendahkan. Sepertinya, akhwat  itulah  yang  paling  tinggi  derajatnya.  Padahal,  seorang  wanita  yang  tidak berjilbab. Adalah sebuah objek dakwah yang sudah pasti.

“Aku tadi, memandang Fara. Sama seperti mereka! Tetapi saat Fara yang menyapaku dengan ramah. Aku seperti, seorang wanita yang benar-benar dihargai. Meskipun aku tidak berjilbab”

“Ah, Mbak Vita terlalu berlebih-lebihan! Semua wanita yang berjilbab, juga sama semuanya kok. Hanya saja, mungkin karena Mbak Vita sudah menjaga jarak dengan mereka. Sehingga mereka pun  menjaga jarak dengan Mbak Vita! Kalau aku sich, nggak mau menjaga jarak. Mau, menjaga perasaan aja deh!” Ucapku sambil tertawa kecil.

“Iya, mungkin juga sih! Dalam ilmu komunikasi, aku juga pernah diajarkan seperti itu. Seorang yang menjaga jarak dengan orang lain, maka otomatis. Orang lain pun akan  menjaga  jarak  dengan  kita.  Maka,  diharuskan  dalam  ilmu  komunikasi  itu. Seseorang  tidak  boleh  menjaga  jarak   dengan  orang  lain.  Tetapi  malah  lebih diutamakan, bagaimana menjaga pembicaraan agar tetap  berkesinambungan dengan lawan bicara. Dan lawan bicara tidak tersinggung dengan ucapan kita.” Vita terlihat yakin dengan ucapannya.

“Nah, itu kan Mbak Vita sudah lebih paham!”

“Ah, nggak juga! Kamu aja yang mengingatkanku, tentang ilmu itu. Berarti kamu yang lebih paham dari aku!” Ucapnya merendah.

“Ah, Mbak Vita suka merendah!” Ucapku. Yang akhirnya membuat kami berdua tersenyum.

“Eh, tukeran no Hp yuk!” Usul Vita. “Ok! No Mbak berapa?”
“081234238483! Kalau kamu berapa Far!” “081323137485!”
“Wah, kamu enak diajak ngobrol Far! Kapan-kapan kita ngobrol lagi yah!” Vita sambil memasukkan lagi Hpnya kedalam tasnya.

“Mbak Vita juga! Iya, aku tunggu ngobrolnya kapan-kapan.”

“Eh, aku mau turun nich! Sudah dekat. Ok yah.” Vita terlihat menekan bel. “Iya hati-hati Mbak!”
Angkot sudah berhenti. Saat, Vita akan turun. “Assalamualaikum!” Salamku  kepada
Vita.


Vita terlihat gelagapan melihatku. “Wa…laikumsalam!” Vita tersenyum. Aku hanya tersenyum sambil melambaikan tangan.
Ironis  memang.   Banyak   umat   Islam   yang   lupa   atau   bahkan   enggan mengucapkan sebuah salam keselamatan kepada saudara muslim lainnya. Contohnya Vita. Masih banyak Vita-Vita yang lain dinegeri ini. Mereka mengaku Islam, tetapi tata cara kehidupan mereka. Tidak mencerminkan keIslamannya. Mereka lebih mudah memakai hal-hal yang berbau tidak Islami. Dan mereka merasa bahwa hal-hal yang Islami itu, adalah aneh baginya. Entahlah siapa yang dapat disalahkan. Mereka hidup seperti  itu  karena  ketidak  tahuan  mereka,  atau  ketidak  mautahuan  mereka.  Atau mungkin  juru  dakwahnya  yang  kurang  aktif  dalam  mendakwahkan  hal-hal  yang Islami. Atah bahkan juru dakwahnya sendiri, tidak Islami. Mungkin juga juru dakwah nya malu untuk  mengatakan hal-hal yang Islami. Kemungkinan juga, hal-hal yang berbau Islami itu, hanya diibaratkan dengan sholat, puasa, zakat, naik haji. Itu saja? Entahlah. Hanya Allah, yang dapat  mengetahui itu semua. Dan hanya Allah, yang dapat menyalahkannya. Bukan manusia. Manusia  hanya mahluk yang diutus Allah untuk saling mengingatkan tentang hukum-hukum Allah. Jika hukum Allah dilanggar oleh manusia. Maka, bukan kesalahan yang ditujukan kepada manusia yang bersalah. Tetapi manusia, hanya bisa mengingatkan kepada manusia yang bersalah. Dengan cara, menjalankan hukum-hukum Allah tentunya.

Angkot sudah melaju kembali, berjalan bagaikan kura-kura laut. Anggap saja ini safari murah! Gumamku dalam hati. Karena angkot berjalan sangat pelan sekali. Matahari, masih bersinar terik. Memamerkan panasnya kepada manusia. Seakan-akan, mengisyaratkan bahwa dineraka akan jauh lebih panas dari pada teriknya sekarang.

“CIIITT….”  Angkot  berhenti  mendadak.  Seketika  itupun,  aku  dan  penumpang lainnya hampir terjungkal. Astaghfirllah ucapku lirih dalam hati.

“BRENGSEK…. Bisa bawa mobil apa nggak!” Teriak seorang anak yang berseragam sekolah SMA, sepertinya menantang sopir angkot. Suzuki Baleno merahnya, bagaikan sebuah keperkasaan jiwanya.

Sopir angkot  hanya  duduk  diam.  Seperti  tersirat  ketakutan  yang  teramat  dalam. Wajahnya mengisyaratkan penyesalan. Sopir angkot mengangguk-anggukkan kepala dan tangannya, seraya mengisyaratkan perminta maaf.

Anak    sekolahan    itu    maju,    dan    menggedor    pintu    samping    supir    angkot. “BANGSAT…! Mau lo.”  Ucapnya sambil mengepalkan tangannya.

“Maaf…. Saya minta maaf!” Ucap supir angkot.

“AWAS, lo!” Anak sekolahan itu kembali kemobilnya. Gayanya, bagaikan seorang jagoan yang  telah memenangkan sebuah pertempuran. Berdecit keras mobil Suzuki Baleno itu. Seketika itu, dengan cepat berjalan melesat kembali.

“HUH! Dasar anak orang kaya. Kalau bukan anak orang kaya, sudah gue jadiin
berkedel.” Gerutu sopir Angkot.


Masya Allah ucapku saat melihat semua itu terjadi. Memang, seharusnya sopir angkot meminta  maaf  kepada  anak  SMA  itu.  Karena  telah  memotong  jalan  seenaknya sendiri. Memang, sering kali sopir angkot seenaknya sendiri kalau mengemudi. Aku, dulu juga hampir menabrak angkot yang supirnya memberhentikan mobil seenaknya.

Tetapi, tidak juga dibenarkan seorang anak yang tidak hormat kepada orang yang lebih tua. Sikap anak SMA tadi sangat keterlaluan juga. Dengan sok jagoan, dan kata-kata makian yang  membuat  panas telinga. Itu sudah menunjukkan, pendidikan orang tuanya tidak merasuk dalam diri  anak itu. Atau bahkan orang tuanya tidak pernah mendidik anak itu dengan ajaran akhlak yang baik. Hem, entahlah.

JL. Diponegoro, Angkot tepat berhenti disisi jalan. Aku pun melangkah turun. Dan berjalan  menuju rumah ustadzah Heni. Sudah kebiasaan juga. Meskipun agak jauh, tetapi disetiap jalan aku merasakan sebuah kenikmatan tersendiri. Dzikir-dzikir dalam perjalanan pun, selalu terucap. Atau  bahkan muraja’ah-muraja’ah pun selalu dapat aku lakukan. Karena aku yakin, disetiap jalanku Allah memberikan pahala dan keberkahan-Nya.  Tetapi  jika  aku  memakai  mobil  sendiri.  Pasti  aku  tidak  dapat melakukan  hal-hal  yang  biasa  aku  lakukan.  Karena  jika  aku  mengendarai  mobil sendiri. Sudah dipastikan aku harus selalu berkonsentrasi dalam mengemudi. Atau, aku akan  dengan  cepat sampi ditempat tujuan. Dan itu membuat, dzikir-dzikirku, muraja’ahku. Tidak benar-benar maksimal.

Langkahku terus disertai dengan teriknya matahari. Sinarnya memancarkan kedahsyatan  Penguasa alam. Menyiratkan sebuah hakekat tentang kehidupan yang akan datang. Kehidupan yang akan dilalui oleh setiap manusia. Kehidupan yang kekal dalam  kehidupan  kedua  manusia.   Kehidupan  yang  akan  menentukan,  tempat kehidupan  selanjutnya.  Tempat  yang  akan  memisahkan,  antara  kenikmatan  dan kesengsaraan. Tempat yang memisahkan, antara perbuatan  kebaikan dan perbuatan keburukan.  Tempat  yang  akan  menjadikan  manusia  menjadi  sadar.  Sadar  akan perbuatan kebaikan dan perbuatan keburukan. Bagi manusia yang telah melakukan perbuatan  baik,  melakukan  perintah  yang  diturunkan  oleh-Nya.  Maka  tempat kembalinya,  adalah sebaik-baik tempat kembali. Jannah. Tetapi bagi manusia yang melakukan  perbuatan  keburukan.  Maka  manusia  itu  akan  mendapatkan  tempat, seburuk-buruknya tempat kembali.  Neraka jahanam. Dan bagi manusia yang telah tersadar akan keburukan perbuatannya. Telah terlambat.

Siang ini memang begitu terik. Peluh pun bercucuran, saat-saat kaki ini terus berjalan. Melangkah dalam setiap aral yang melintangi jalan-jalan aspal. Tak jarang aku melihat fatamorgana bermunculan. Karena panas terik matahari, yang membakar aspal. Sungguh, panas seperti itu tidak  ada apa-apanya dari pada panasnya neraka. Kakiku terus melangkah, hingga akhirnya aku pun tiba disebuah rumah. Rumah yang asri nan rindang. Membuat sebuah pandangan yang menyenangkan. Tersirat, bahwa si pemilik rumah adalah seorang yang mencintai keindahan. Mencintai kesejukan, dan yang paling indah. Adalah, mencintai sang Maha Keindahan.

Beberapa motor sudah terparkir dipekarangan rumah yang rindang itu. Pohon mangga dan pohon jambu air yang rindang. Membuat suasana semakin benar-benar sejuk. Tak jarang aku dan teman-teman lebih sering duduk dibawah pohon-pohon itu.

Nikmat sekali. Serasa kenikmatan surga turun kedunia. Tetapi aku yakin, kenikmatan itu tidak ada secuil bahkan. Daripada kenikmatan surga.

Aku buka pagar rumah. Dan melangkahkan kaki masuk kedalam rumah. “Assalamualaikum” Salamku pada seisi rumah.

“Walaikumsalam” Serentak jawaban dari seisi rumah

“Masuk, Ukh!” Ucap Reni.

Aku  segera  masuk  kedalam  rumah.  Tak  lupa,  berjabat  tangan  dengan  pelukan persaudaraan.

“Ana, telat yah?” Tanyaku

“Nggak kok, Ukh! Kita aja yang nyampainya duluan.”  Jawab Resti. “O..h!”
“Ustadzah Heni masih belum pulang dari ngajarnya! Jadi dari pada diam kita ngobrol- ngobrol aja.” Ucap Wira.

Hem, kok ngobrol sih. Daripada ngobrol kan mending tilawah, muraja’ah atau dzikir. Hem, akhwat!  Semoga aja nggak ghibah! Aku tersentak dari lamunku. Saat Resti memegang tanganku, sambil mengatakan.

“Ukhti, anti sampai kapan kuat berjalan!” “Maksud anti?” Aku sedikit bingung.
“Iya. Maksudnya, anti sampai kapan kuat berjalan dari jalan besar keperumahan ini! Belum lagi, panasnya minta ampun.” Ucap Wira.

Wah kok pada ngomongin aku nich! Jangan-jangan, dari tadi cuma ngobrolin aku! Wah, aku kok  jadi su’udhon sich. Semoga saja, nggak ngobrolin aku! Gumamku dalam hati. “Oh itu, Insya  Allah  sampai kapan pun ana kuat berjalan kemana pun! Kalau hanya dari sini sampai jalan besar,  itu  kan biasa. Yah, sambil berjalan kaki. Dzikir tidak pernah berhenti!” Ucapku sambil tersenyum.

“Ih, anti aneh! Kenapa mesti jalan kaki? Kan, kita bisa naik motor atau mobil sambil berdzikir! Apalagi, apa anti nggak takut hitam! And nanti, para ikhwan pada nggak mau  loh  ta’aruf  dengan  anti!”  Ucap  Wira,  sambil  tersenyum  dan  mengerdipkan sebelah matanya.

“Iya. Apalagi,  anti  kan  sudah  punya  mobil!  Mending  itu  aja  dipakai,  dari  pada menyulitkan diri sendiri! Bukan berarti, dakwah itu harus selalu sulit loh Ukh! Kalau ada kemudahan, pakai saja kemudahan itu.” Sahut Resti.

“Hem,” aku tersenyum. “Yah memang, bisa saja kita berdzikir saat kita mengendarai motor atau mobil. Tapi kalau ana sendiri, ana tidak bisa seperti itu. Ana jadi nggak

konsen  untuk  berdzikir  saat  mengendarai  kendaraan.  Takut  nabrak!  Dan  untuk masalah  dakwah  pun,  ana  merasa  enakkan  berjalan  kaki.  Yah  itung-itung,  bisa merasakan menjadi kaum dhuafa yang tidak punya apa-apa! Dan cara seperti itu yang menurut ana dapat membangkitkan rasa zuhud dalam diri ana sendiri! Menurut ana, bahwa  kemudahan  dalam  berdakwah  itu  adalah  dalam  cara  atau  strategi  dalam melakukan ekspansi dakwah. Bukan dalam seorang yang ingin  membuat motivasi bagi dirinya untuk dapat selalu merasakan kehidupan kaum-kaum dhuafa.  Dalam artian, memberikan sebuah kepekaan dalam diri untuk selalu menyayangi saudara- saudara  kita yang tidak beruntung. Dan menurut ana, itu lebih baik! Daripada ana harus mengambil kemudahan-kemudahan itu, hanya untuk kepuasan diri ana sendiri. Atau dalam kata lain, ana  memanfaatkan kemudahan hanya karena ingin kulit ana bisa tetap putih dan mulus selamanya. Nggak! Ana nggak mau itu! Tidak ada mahluk mana pun yang bisa menjamin itu! Selain sang Maha penjamin kehidupan. Toh, jika takdir menyatakan kulit putih dan mulus ana hilang. Maka secara otomatis, meskipun ana menjaga agar kulit putih dan mulus ana tidak hilang. Pasti dengan cara apapun, kulit putih dan mulus ini akan hilang!” Aku sedikit menghela nafas, lalu melanjutkan perkataanku  “pada  dasarnya,  jika  ada  seorang  ikhwan  yang  tidak  mau  berta’aruf dengan ana! Ya,  kenapa ana harus menunggu ta’aruf ikhwan. Mending ana, yang berta’aruf duluan ke ikhwan!” Ucapku sambil senyum.

Terlihat wajah-wajah  yang  sangat  heran  pada  Al  Ukh,  yang  berada  disekitarku. Meraka merasa tidak percaya, aku mengatakan seperti itu.

“Masya Allah, Ukh! Apa anti nggak malu berta’aruf duluan dengan ikhwan?” Ucap
Wira.

“Ukhti, dimana rasa malu anti! Pernyataan anti seperti itu, membuat  kami malu. Akhwat, harus punya harga diri yang lebih ketimbang ikhwan. Biarlah ikhwan yang mendahului kita, dalam masalah yang satu ini!” Ucap Resti

“Ukhti. Apakah anti ingat Ibunda Khadijah?” Ucapku.

Dengan cepat Wira menyela pembicaraanku. “Selalu Ibunda Khadijah yang dijadikan alasan, oleh  para akhwat untuk hal-hal yang seperti itu! Ukhti harus ingat, bahwa Ibunda Khadijah adalah  wanita yang mulia, dan beliau pun meminang orang yang paling mulia didunia! Nah kita? Siapa  kita? Apakah kita semulia ibunda Khadijah? Atau adakah Ikhwan semulia Rasulullah? Kalau ada ikhwan seperti Rasulullah, ana pun akan bersedia untuk melakukan cara yang dipakai ibunda Khadijah!”

Aku tersenyum. “Al Ukh! Apakah kita tidak pernah merasa dimuliakan oleh Allah? Apakah cara yang dibolehkan menurut Allah, tidak kita lakukan. Hanya karena harga diri kita! Lalu apa bedanya kita dengan orang-orang ammah pada umumnya? Yang merasakan bahwa harga diri atau pun adat istiadat rasa malu itu lebih besar ketimbang hal-hal yang dibolehkan didalam syariat! Jika seperti itu, maka dengan sendirinya kita pun telah menafikkan hal-hal yang bersifat benar dan dibolehkan! Lalu apa bedanya kita dengan wanita-wanita ammah? Apakah kita merasa bahwa harga diri kita lebih tinggi dari pada ikhwan! Apakah itu benar? Atau hanya, kita yang memasang tarif itu? Apakah kita tidak akan kecewa, jika ada seorang ikhwan. Yang bagus dalam akhidah, cakap dalam kegiatan  dakwahnya. Dan kita tertarik dengan dia. Apakah kita hanya

diam,  mengharap  ikhwan  itu  datang  dengan  sendiri  tanpa  ikhtiar  kita.  Tentunya, ikhtiar yang dibolehkan menurut syariat!”

“Ya udah kita nanti menanyakan hal ini ke Ustadzah Heni! Gimana?” Ucap   Reni. Yang  dari  tadi  hanya  diam.  Sepertinya  menyimpan  sesuatu  hal,  didalam maksud pembicaraan masalah ini!
 

Pesan: =========================================================== Hanya itu yang dapat kami tulis untuk potingan artikel ini, bila pengujung semua menyukai ini silahkan tinggalkan komentar anda.... Salam Hangat By Iwan Kurniawan ===========================================================


0 komentar

Posting Komentar

Cancel Reply