Jumat, 22 Oktober 2010

Aku Menggugat Akhwat dan Ikhwan Jilid III

JILID 3

Entah kenapa, suasana yang tadinya begitu bersahabat. Menjadi terlihat begitu serius. Sudah  tidak ada lagi sendagurau dari para Al Ukh. Padahal, aku tadi tidak bermaksud menyinggung  mereka. Aku hanya mengungkapkan isi hati yang ingin mereka ketahui. Kalaulah hanya masalah  seperti ini saja, menjadi dongkol dihati. Apalagi masalah-masalah perdebatan yang panjang dalam masalah akhidah, syari’at, hadits,  pemahaman  Al  Qur’an,  dll.  Pasti  perdebatan-perdebatan  seperti  itu  yang membuat perpecahan. Padahal solusinya mudah, menurutku. Tinggal kita tidak usah memperdebatkan  hal-hal  yang  tidak  dilarang  dalam  agama.  Jika  seseorang  tidak melanggar syari’at. Kenapa harus dicari-cari pelanggarannya.

Kalaulah ingin berdebat, yah harus dengan hati yang terbuka. Terbuka dengan hujjah orang  lain, terbuka dengan pendapat orang lain, terbuka dengan pemikiran orang lain, selama hal-hal itu tidak menyimpang dari syari’at. Dan yang lebih penting, kita  terbuka  untuk  mencari  sebuah   kebenaran  dari  perdebatan.  Bukan  mencari pembenaran  dari  pendapat  kita  sendiri.  Jika  kita  memang  mencari  pembenaran pendapat kita dalam perdebatan. Pastilah, kita tidak akan pernah mau mendengarkan kebenaran. Karena, pembenaran itulah yang akan memakan egoisme seseorang untuk menafikkan kebenaran dalam perdebatan. Dan akhirnya, dalam perdebatan. Tidak akan pernah  selesai, dan akan membuat rasa benci seseorang kepada lawan bicara. Meskipun, lawan bicara berkata benar.

Tak seberapa lama, ustadzah Heni datang. “Assalamualaikum!”
“Walikumsalam!” Jawab kami serentak tanpa dikomando.

“Afwan, ana terlambat! Ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan” Ucap Ustadzah
Heni.

Kami pun tersenyum, dan memaklumi. Karena kami tahu, bahwa ustadzah Heni. Bukanlah  seorang ummahat yang sedikit kegiatan. Tetapi, jam-jam produktif yang membuat begitu banyak kegiatan. Sungguh seorang mujahidah sejati. Aku tahu semua itu,   karena   Ummiku   adalah   kakak   dari   ustadzah   Heni.   Tetapi,   teman-teman sekajianku. Belum mengetahui, kalau aku. Adalah saudara ustadzah Heni. Atau dalam kata lain. Ustadzah Heni adalah Bibiku yang telah merawatku  semenjak aku kecil. Tetapi aku tidak mau, membuat mereka menjadi tahu. Kalau Ustadzah Heni  adalah Bibiku.

“Gimana, sudah lama tadi?” Tanya ustadzah Heni.

“Nggak juga kok Ustadzah! Kami juga lagi membahas masalah yang besar!” Ucap
Wira. Terlihat seperti cari muka.

Ha! Masalah besar? Jadi mereka menganggap masalah kecil ini menjadi besar? Masya Allah!  Semoga tidak menghalangi dengan masalah-masalah yang memang seharusnya dikatakan besar. Gumamku dalam hati.

“Ha! Masalah besar? Masalah apa kok sepertinya sangat penting!” Ustadzah Heni terlihat penasaran.

“Iya, masalah tentang menikah!” Jawab Wira lagi.

“Hem! Masalah itu. Yah memang itu masalah besar bagi anti-anti yang masih belum menikah!” Sindir ustadzah Heni, sambil tersenyum.

Hihihi! Maunya  pengen  cari  muka.  Eh  kesindir  sendiri.  Masya  Allah!  Aku  kok su’udhan sih!.

“Baik, sebelum membahas masalah besar! Kita buka dulu kajian kita.” Ucap Ustadzah
Heni, bijak.

Sebuah  materi  kajian  diberikan  kepada  kami.  Kami  bersama-sama  pun menyimak apa yang diberikan oleh ustadzah Heni. Materi tentang Pembersihan Hati. Ini adalah materi yang  membuat kami benar-benar tahu akan makna kesucian hati. Kesucian dalam melakukan  perbuatan-perbuatan yang suci. Yang menjadikan aku lebih memaknai kesucian diri. Kesucian  untuk selalu menyembah Rabbul izzattih. Tidak ada keraguan didalamnya.
“Bagaimana, ada yang mau bertanya?” Ustadzah Heni memandang kami satu persatu. Semua diam. Semua terlihat mengerti tentang arti kesucian diri. Hanya saja, kesucian
itu sulit untuk dilakukan.

“Hem, kelihatannya semua sudah mengerti yah!” Ucap ustadzah Heni. “Jadi, menjaga kesucian hati. Memang sangat berat untuk diimplementasikan. Namun, jika kita sudah dapat melakukan itu. Maka  apapun yang akan kita lakukan, sangat menentramkan hati! Karena perbuatan yang kita lakukan, merupakan perbuatan yang tidak terlepas dari keridhaan Ilahi. Dengan kata lain. Perbuatan yang kita lakukan, akan menjadikan kebaikan   bagi   kita.   Selama   perbuatan   itu   baik   menurut   syariat.   Dan   tidak bertentangan!”

Semua mengangguk, Insya Allah tanda mengerti.

“Baik. Untuk masalah besar tadi gimana? Tetap mau dibahas?” Ustadzah Heni dengan senyum membangkitkan tema besar lagi.

“Iya Ustadzah! Masih pelu dilanjutkan.” Ucap Wira antusias.

“Baik. Apa sebenarnya yang menjadi masalah itu!” tanya Ustadzah Heni.

Wira menceritakan pembicaraan yang masih hangat itu. Dengan antusiasnya, sampai kepada hal-hal yang mendetail.

“Ya, seperti itu Ustadzah! Kalau menurut pendapat Ustadzah gimana?” Ucap Wira. Mengakhiri penjelasannya.

“Oh, jadi begitu!” Ustadzah Heni menghela nafas panjang. “Begini sebenarnya, kalau menurut ana. Akhwat mendahului ikhwan dalam berta’aruf, itu sah-sah saja. Hanya saja, budaya timur ini yang membuat kita salah persepsi tentang hal itu. Rasa malu memang  sangat  harus  dipertahankan  dalam  kepribadian  seorang  muslim.  Bahkan malu itupun adalah sebagian dari iman, bukan! Tetapi, yang  paling penting adalah bisa menempatkan rasa malu itu sendiri. Tidaklah seorang muslim yang tidak dapat berlaku proporsional. Semua orang muslim, harus dapat menempatkan sesuatu dengan benar! Karena, jika kita tidak menempatkan sesuatu dengan benar. Maka kita disebut dholim!” Ustadzah Heni tersenyum, dan memandang kami satu persatu. “lalu, apakah akhwat yang mendahului ikhwan berta’aruf itu tidak punya rasa malu? Mungkin kita sering  mendengar  dan  membaca  tentang  riwayat  Ibunda  kita,  Khadijah!  Seorang wanita mulia, yang menikahi manusia paling mulia pula. Mungkin kita berfikir bahwa Siti Khadijah adalah seorang wanita mulia, dan kita tidak setara dengan beliau. Maka kita tidak boleh meniru beliau. Atau karena kita menganggap bahwa yang dinikahi oleh Siti Khadijah adalah seorang yang sangat mulia, sehingga kita memakluminya. Sedangkan  sekarang,  tidak  ada  lagi  ikhwan  yang  paling  sempurna.  Maka  sudah tertutup pintu wanita untuk menkhitbah duluan. Wahai ukhti, ingatlah. Bahwa tidak ada seorangpun yang menyamai Rasulullah. Bahkan, jin sekalipun. Lalu, apakah salah jika seorang akhwat menembak ikhwan duluan! Sebuah pertanyaan besar, mungkin!

Tetapi pada dasarnya, Allah memberikan derajat yang sama kepada seluruh hambanya.   Baik  wanita  maupun  pria.  Tidak  ada  perbedaan  derajatnya.  Yang membedakan hanyalah, Iman dan ketaqwaannya! Lalu, hubungannya dengan akhwat nembak duluan? Yaitu, wanita sah-sah saja menembak ikhwan lebih dulu. Dan, sudah ada beberapa contoh, selain Siti Khadijah! Tidaklah wanita lebih rendah derajatnya, jika wanita itu menembak ikhwan duluan. Tetapi, kesiapan seorang  wanita untuk menembak ikhwan duluan. Haruslah sangat matang. Disamping kesiapan akhidah dan ilmu,  juga  harus  dikuatkan  pada  sisi  mentalnya.  Dan  seandainya,  ikhwan  tidak menerima tembakan akhwat. Maka, harus diingat bahwa niat untuk menembak hanya karena  Allah.  Bukan  karena  siapa-siapa.  Jadi  meskipun  ikhwan  tidak  menerima, akhwat tetap bisa berlapang dada. Karena niatnya, hanya untuk Allah! Ya, meskipun kita tahu. Bahwa, hati seorang wanita sangatlah sensitif untuk masalah yang satu ini! Tetapi minimal, bahwa rasa malu harus ditempatkan pada tempatnya! Akhwat boleh malu, misalkan saat tembakannya tidak diterima oleh ikhwan. Tetapi hal  itu tidak memalukan. Perlu diingat, bahwa hal itu bukanlah perbuatan yang memalukan! Atau bahkan merendahkan derajat wanita itu sendiri.

Jadi derajat wanita, tidak akan pernah luntur meskipun tembakannya meleset!” Ustadzah Heni, lagi-lagi melihat kami satu persatu dengan memberikan senyumnya. “malu  boleh,  asal  tahu  penempatan  malu  itu!  Ada  sebuah  contoh  dari  seorang shahabiah.  Dinukilkan  dari  hadits!   Seorang  wanita  datang  kepada  Rasulullah, shahabiah itu menghibahkan dirinya, untuk dinikahi oleh Rasulullah. Tetapi apa yang dilakukan Rasulullah? Rasulullah hanya terdiam, tidak berkata apapun sampai ketiga kalinya. Lalu tiba-tiba seorang pria berkata kepada Rasulullah ‘Wahai  Rasulullah, nikahkanlah aku dengannya!’ Rasulullah mengatakan ‘Apa engkau punya sesuatu?’’ lalu  jawab  pria  itu  ‘Aku  tidak  memiliki  apapun  ya  Rasulullah!’  lalu  Rasulullah bertanya  ‘Apakah  engkau  hafal  suatu  surat  dalam  Al  Qur’an?’  lalu  pria  itu  pun

menjawab ‘Aku hafal ini dan itu!’ lalu Rasulullah, mengatakan ‘pergilah, karena aku telah menikahkanmu dengannya, dengan mahar surat Al Qur’an yang engkau hafal!’ apakah wanita itu  menjadi rendah karena tidak dinikahi oleh rasulullah? Ataukah wanita itu rendah karena telah  ditolak Rasulullah? Atau wanita itu rendah karena dinikahi oleh orang yang bukan Rasulullah?  Apalagi dinikahi dengan mahar yang hanya hafalan Al Qur’an! Apakah wanita itu menjadi hina?  Tidak! Shahabiah itu tetaplah  seorang  shahabiah.  Seorang  yang  derajatnya  tidaklah  lebih  rendah  dari shahabiah-shahabiah lainnya! Ada sebuah contoh. Ada sebuah riwayat juga, yang menyatakan, ada seorang yang menikah dengan mahar sepasang sendal yang dipakai oleh orang itu.  Dan Rasulullah bertanya ‘Apakah engkau ridha terhadap diri dan hartamu dengan sepasang  sendal?’ si wanita itu menjawab ‘Ya.’ Maka Rasulullah membolehkannya.

Dari kisah-kisah seperti tadi. Apakah wanita itu sangat rendah? Hingga dia harus dihargai dengan hanya sepasang sendal! Atau, ada kisah lain yang menyatakan sahabat Rasulullah menikahkan dengan mahar, sebuah cincin besi. Semua ini pernah terjadi!  Dan  itu,  tidak  pernah  menjadikan   rasa   malu  terhadap  para  shahabiah- shahabiah. Ini sebuah contoh yang telah dilakukan oleh  generasi Rasulullah! Jadi yang terpenting adalah. Rasa malu itu ditempatkan dengan sebenar-benarnya tempat malu itu sendiri. Jika kita telah melakukan kesalahan terhadap syari’at  Islam! Baru rasa malu itu timbul. Jika kita melakukan dosa-dosa, baru rasa malu dan derajat yang rendah itu boleh muncul! Tetapi jika, kita tidak melakukan perbuatan yang melanggar syari’at.  Maka  sesungguhnya,  kita  tidak  perlu  merasa  malu.  Karena  itu  memang perbuatan yang tidak memalukan!

Hanya  karena  adat  daerah,  yang  membuat  rasa  malu  itu  muncul.  Dan persoalan-persoalan yang dianggap tabu dalam adat kita. Maka kita sering terkecoh dengan  menempatkan rasa malu itu sendiri! Jadi, jika sebuah perkara yang pada dasarnya    tidak    dilarang    oleh    agama.    Maka    seharusnya,    kita    tidak    usah memperdebatkan  atau  mencari-cari  kesalahan  pada  hal-hal  itu!”  Ustadzah  Heni mengakhiri penjelasannya dengan sebuah kata-kata yang bijak.

Kami berempat pun, akhirnya mengerti tentang rasa malu itu sendiri. Memang harus  ada  penempatan  dari  rasa  malu  itu.  Bukan  hanya  dengan  ego  kita,  dalam menyatakan sebuah rasa malu. Tetapi pada prinsipnya, rasa malu itupun harus berada pada hal-hal yang sudah ditetapkan. Karena ego kitalah, kita sering menganggap rasa malu itu tidak dapat ditempatkan sebagai mana  mestinya. Sebuah contoh, jika kita tidak bisa mengikuti apa yang sudah menjadi kebiasaan sebuah  daerah. Maka kita akan  lebih  cenderung  untuk  malu,  jika  kita  tidak  mengikuti  kebiasaan  mereka. Dengan kata lain, kita malu untuk tidak mengikuti kebiasaan seseorang yang pada dasarnya kebiasaan itu adalah sebuah kebiasaan yang memalukan.

Jadi sungguh besar memang manfaat rasa malu itu sendiri. Sampai-sampai dalam agama Islam, malu merupakan sebagian dari keimanan. Jadi sebagaimana apa yang telah diajarkan dalam agama Islam. Malu, merupakan hal yang harus dimiliki oleh  setiap  muslim.  Dan  setiap  muslim  harus  bisa  menempatkan  rasa  malunya. Tidaklah setiap muslim mengumbar rasa malu itu, hingga menjadi malu-maluin. Atau tidaklah  seorang  muslim  menyimpan  terlalu  dalam  rasa  malu,  hingga  dia  tidak mengetahui tempat dimana menyimpan malunya. Maka dari itu, setiap muslim telah diajarkan oleh Allah, dengan memiliki sifat tawadzun. Dengan begitu, kita akan dapat

menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dan menempatkan sesuatu dengan tempat yang benar. Bukan asal-asalan, dalam menempatkan.

***

Didalam kamar,  aku  memikirkan  penjelasan  yang  dikatakan  oleh  bibiku. Ustadzah Heni. Terekam kuat dalam benakku. Entah kenapa. Malam, tak membuatku larut dalam buaiannya.  Aku masih belum bisa untuk menutupkan mata. Aku masih larut   dalam   alur   pikirku   yang   tak   menentu.   Tak   seberapa   lama,   terdengar handphoneku berdering.

“Tluuutt…tluutt…”

Dengan malas  aku  mengambil  handphone.  Siapa,  yach?  Malam-malam  kok  telp!
Terlihat di screen layar handphone Ukhti Reni. “Assalamualaikum, Ukh!” Ucapku “Walaikumsalam!” Jawabnya dari seberang sana.
“Ada apa Ukh? Kok telphon malam-malam! Ada yang penting?”

“Afwan Ukh! Ana ngganggu nggak? Ana ingin ngobrol dengan anti nih!” Ucapnya, terlihat sangat berhati-hati sekali.

“Nggak kok! Emangnya ada apa?”

Reni berhenti sejenak. Dan tak lama terdengar desahan nafas. “Ukh. Ini masalah yang tadi! Masalah tentang akhwat nembak duluan!”

“Memangnya, kenapa Ukh?” Tanyaku penasaran. Jangan-jangan Reni tidak setuju dengan hujjahku dan hujjah bibiku. Ustadzah Heni.

“Ana,    percaya    sama    anti.    Dan    ana    menganggap    anti,    dapat    merahasiakan permasalahan ana!”

“Memangnya, ada permalahan apa ukh?” Tanyaku penasaran.

“Ukh. Ana sebenarnya menyukai salah seorang ikhwan, dari kampus anti!” Sejenak
Reni menghentikan ucapannya. “Anti tahu Akhi Khalid?”

Hah…! Nama itu lagi. Sejenak aku terdiam. Tetapi yang menjadikanku terpukul. Reni juga menyukai Akh Khalid. Kami berdua menyukai ikhwan yang sama. Tetapi, aku yakin tidak hanya aku dan  Reni  saja yang menyukai ikhwan itu. Pasti banyak juga yang menyukainya.

“Ukhti. Anti kenal nggak?” Ucap Reni, lagi.

Aku sedikit  tergagap  dari  lamunanku.  “Akhi  Khalid!  Akhi  Khalid  yang  mana? Fakultas  Hukum atau dari Fakultas Psikologi?” Ucapku. Sedikit, aku buat bingung.

Karena aku pasti yakin, tidak ada yang tidak menyukai Akhi Khalid dari Fakultas
Hukum.

“Hehee… ternyata anti banyak tahu para ikhwan yah!” Ucapnya.

“Ah, nggak juga. Hanya saja, ana kan kenal karena satu organisasi dengan mereka?” Jawabku sedikit memendam rasa malu.

“Oh, iya! Akhi Khalid yang ana kenal, dari Fakultas Psikologi.” “Oh…!” Sedikit hati ini menjadi lega. Entah kenapa.
“Anti, kenal?” Ucapnya sedikit memastikan. “Kenal! Memangnya kenapa?” Tanyaku penasaran.
Akhirnya Reni menceritakan semuanya kepadaku. Dari mulai perkenalannya dengan  Khalid Wicaksono. Mahasiswa Fakultas Psikologi. Awal pertemuan mereka cukup unik. Saat Reni  sedang berjalan-jalan disebuah toko buku. Reni dan Khalid, berada pada counter yang sama. Counter buku Psikoloagi. Karena memang Reni juga adalah mahasiswa psikologi. Saat mereka sedang  mencari-cari buku yang mereka inginkan. Ternyata stock buku itu tinggal satu. Saat Khalid akan mengambilnya, tak disangka Reni pun sedang akan mengambil itu. Tak ayal, tangan mereka mengambil buku yang sama. Sehingga akhirnya Khalid meminta maaf, dan mempersilahkan Reni untuk  mengambilnya.  Reni  pun  berfikir,  bahwa  Khalid  ini  pasti  sudah  terbina akhlaknya. Karena sikap dari Khalid, cenderung dimiliki oleh setiap ikhwan. Setelah itu perjumpaan mereka akhirnya berakhir.

Malam  setelah  perjumpaan.  Reni  ditelephone  oleh  seorang  Ikhwan.  Dan ternyata  itu   adalah  Khalid.  Reni  sempat  terkejut,  bagaimana  Ikhwan  itu  bisa mengetahui    nomor    telephonenya.    Akhirnya    Khalid    menjelaskan,    bahwa    dia menemukan  dompet  Reni  yang  terjatuh  didepan  toko  buku.  Tak  lama,  akhirnya mereka sering berdiskusi masalah-masalah  psikologi. Yang sesuai dengan jurusan mereka. Entah kenapa, ada benih-benih yang bergejolak  didalam hati Reni. Itulah yang membuat Reni menjadi jarang untuk menerima telephone Khalid.  “Ana takut, terjadi cinta yang terlarang! Dan menjauhkan ana dari-Nya.” Kata Reni.

Hingga akhirnya.  Diskusi  pada  kajian  tadi  siang  itu  yang  membuat  Reni menjadi siap  untuk menembak Khalid. “Ana siap malu! Dari pada rasa ini, tidak diketahui oleh Akhi Khalid!  Entah apa rasanya ini. Karena selama ini, ana belum pernah merasakan yang seperti ini! Mungkin orang akan mengatakan ini cinta, tetapi ana tidak tahu apakah ini benar-benar sebuah kata yang  sakral untuk diucapkan. Cinta!” Kata-kata itulah yang terlontar dari mulut Reni. Hingga akhirnya, Reni ingin mencari tahu. Bagaimana tingkah laku Khalid salama ini, yang aku ketahui.

Hem,    mujahidah    sejati!    Gumamku    dalam    hati.    Seorang    akhwat    yang    siap menembakkan  sebuah  gejolak  perasaan  batin.  Sangatlah  tidak  mudah.  Apalagi  di daerah  yang   mayoritas  akhwat-akhwatnya  masih  memeluk  kebudayaan  daerah mereka.

“Kalau menurut anti, gimana?” Ucap Reni, mengakhiri ceritanya.

“Hem, anti berani! Allahu Akbar!” Ucapku. Aku benar-benar salut dengan akhwat yang satu ini.

“Bukan itu, yang ana maksud! Apakah ana, tidak melampaui batas?” Ucap Reni, terdengar bingung.

“Tidak. Anti tidak melampaui batas! Itukan juga termasuk Ikhtiar Ukh! Selama cara- cara itu tidak melanggar syar’i. Ana rasa, ana akan mendukung anti. Tapi usul ana, anti harus memberitahukan  murabbiah dulu. Biarkan murabbiah anti yang menjadi perantara, bukan anti sendiri. Yah minimal, meminimalkan rasa malu itu sendiri jika ditolak!”

“Oh iya, betul juga anti!” Reni sedikit menghela nafasnya. “Untung Ukh. Kita punya murabbiah  yang bisa dikatakan excellent. Ada salah satu Akhwat, teman ana. Dia mempunyai murabbiah yang sangat tidak setuju jika akhwat nembak duluan! Sampai- sampai teman ana itu menjadi malu dengan halaqohnya!”

“Nah itulah Ukh! Yang ana tidak begitu senang. Kenapa kita harus mempersoalkan sesuatu yang  tidak melanggar syariat! Hanya karena egoisme semata, syariat kita tafsirkan dengan seenak hati  kita sendiri. Termasuk dalam hal ini, perkara akhwat menembak Ikhwan duluan. Sering dikatakan  kepada para akhwat yang menembak ikhwan duluan. Dengan kata-kata tidak tahu malulah, karena  tidak lakulah, karena kepepetlah, karena mengejar targetlah. Dan banyak Lah-lah lainnya. Jadi ini menurut ana  sudah  melanggar  koridor-koridor  yang  pernah  diterapkan  oleh  shahabiah- shahabiah Rasulullah. Yang tidak pernah dilarang oleh Rasulullah. Ana menggugat akhwat dan ikhwan. Karena perkara-perkara yang seperti ini.

Ikhwan banyak yang mematok kriteria yang terlalu tinggi bagi para akhwat calon istriknya. Padahal, akhwatkan juga manusia! Sedangkan para akhwat,  mereka suka dengan euphoria. Dengan mendambakan ikhwan yang hafalannya bagus, banyak aktif  diorganisasi.  Sampai-sampai,  siap  hidup  sengsara  dengan  para  ikhwan.  Ini merupakan  sebuah  euphoria  yang  membuat  akhwat-akhwat  menjadi  terbelenggu. Hingga akhirnya akhwat-akhwat hanya bisa menunggu saja, sedangkan para ikhwan terus  mencari  kriteria-kriteria  yang  standart  dengan  pikiran  ikhwan  itu  sendiri. Bahkan ini menurut ana, sudah diluar jalur tentang koridor-koridor kesyar’ian.

Apalagi ada seorang akhwat yang tidak mau menembak ikhwan duluan. Tetapi dia lebih memilih mengajukan proposal pernikahannya kepada murabbiahnya. Nah, ini kan sama saja! Hanya, beda cara! Kalau saja akhwat tidak ingin menembak ikhwan duluan.  Maka  seharusnya  akhwat  itu   pun,  tidak  boleh  menngajukan  proposal Pernikahan  kepada  murabbiahnya.  Tetapi,  harus  menunggu  sampai  ada  seorang ikhwan yang melamarnya! Bukan karena ikhwan itu melihat proposal pernikahan si akhwat!  Masalah-masalah  kecil  seperti  ini,  kadang  menjadi  besar  saat-saat  kita membesarkannya.  Rasa  malu  kadang  tidak  seberapa,  dibandingkan  rasa  sesal dikarenakan tidak mendapatkan apa yang    kita harapkannya! Lebih baik kita malu dengan  ditolak,  daripada  kita  menyesali  dengan  apa  yang  tidak  kita  dapatkan!” Jelasku, serius.

“Hehe… Anti kok antusias banget!” Ucap Reni.

“Ana kan, hanya menjelaskan Ukh!” Ucapku, kecut. “Yah, yang terpenting. Semua apa yang kita lakukan. Tidak menyimpang dari syari’at! Dan apa yang kita lakukan hanya untuk mencari Ridha Rabbil Izzati!”

“Ya, benar ukhti! Ana setuju dengan semua yang dikatakan oleh ustadzah Heni dan anti. Ana sebenarnya malu, jika ikut nimburng dalam diskusi siang tadi! Kesannya, kok nanti ana kelihatan  belain anti! Nanti bisa-bisa nggak baik buat ukhuwah kita. Dikira ada kelompok-kelompokan!”
 

Pesan: =========================================================== Hanya itu yang dapat kami tulis untuk potingan artikel ini, bila pengujung semua menyukai ini silahkan tinggalkan komentar anda.... Salam Hangat By Iwan Kurniawan ===========================================================


0 komentar

Posting Komentar

Cancel Reply