Minggu, 13 Maret 2011

Aku Menggugat Akhwat dan Ikhwan Jilid I

JILID 1
Panas terik matahari, bersinar. Terlihat bayang-bayang fatamorgana didepan aspal yang aku lewati. Panas sekali. Angkot yang aku tumpangi pun, malaju dengan kecepatan  yang  sedang.  Bagaikan  menikmati  hawa  panas  yang  menyengat  kulit. Apalagi aku, dengan jilbabku ini. Keringat sudah dari tadi mengalir deras ditubuhku. Tetapi, karena aku memakai pakaian yang berlapis.  Dengan jilbab yang mengurai lebar dan besar. Sehingga mungkin keringatku tertahan. Dan tidak sampai membuatku menjadi terlihat sebagai pepesan akhwat. Tetapi, tidak sedikit pula keringat  yang mengalir deras diwajahku. Beberapa kali orang melihatku. Mungkin, mereka berfikir panas-panas kok pakai jilbab, besar pula. Tak seberapa lama, benar juga pikirku. Seseorang ibu melihatku dengan penuh tanya.

Ibu itu mengatakan “Mbak, apa nggak gerah! Pakai jilbab yang besar seperti itu?”

Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ibu itu hanya terlihat dengan senyumnya.  Entahlah,  senyuman  apa  yang  diberikan  ibu  itu  kepadaku.  Mungkin senyuman rasa kasihan, karena keringat diwajahku terus mengalir deras. Tapi aku tak perduli.

Cuaca panas inilah yang menjadi pembenar. Untuk melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh sang Al Haq. Dengan berbagai alasan, banyak wanita yang enggan atau tidak mau memakai jilbab. Sungguh ironis dalam sebuah agama terbesar di Negara ini. Lucu sih, alasan tidak memakai jilbab karena cuaca dinegara ini yang bersifat tropis. Padahal, di Arab. Cuacanya tidak kalah panasnya, bahkan lebih panas dibandingkan Negara ini. Tetapi toh, tidak menyurutkan para wanita yang berada di Arab untuk berjilbab.

Panas tetap menyertaiku dalam sebuah mobil angkot yang sangat pengap. Tak jarang, bau  keringat pun menyengat. Entah itu bau keringat siapa. Supir angkot, kenek, atau bahkan penumpang lain. Yang penting aku tidak merasa tubuhku berbau. Meskipun aku berjilbab. Aku tidak  ingin tubuhku berbau badan yang tidak enak. Tetapi tetap aku juga tidak mau tubuhku harum ditempat yang tidak semestinya. Aku tidak mau dianggap sebagai wanita murahan dalam agamaku. Apalagi dituduh sebagai wanita nakal karena memakai wewangian bukan pada tempatnya.

Angkot tetap melaju pada setiap detik hawa panas yang menyengat aspal. Memang berat hari ini. Tetapi aku harus tetap datang dipertemuan. Beberapa kali aku diundang, tetapi aku sering ada acara lain. Maka ini saatnya aku harus menyempatkan untuk datang di teman-teman LDK  (Lembaga Dakwah Kampus). Hembusan angin yang keluar dari jendela angkot. Membuatku sedikit merasa nyaman.

Hem, sampai juga akhirnya! Ucapku dalam hati.

Aku turun dari angkot. Dan berjalan menuju masjid kampus. Pusat para kader- kader  dakwah  kampus  yang  akan  berkumpul.  Terlihat  sudah  banyak  akhwat  dan ikhwan yang berkumpul.

“Assalamualaikum!” Salamku.

“Walaikumsalam! Masuk Ukh.” Sambut Ukhti Erni dengan senyum. “Alhamdulillah anti datang juga!” ucapnya lanjut.

Aku hanya  tersenyum  sambil  menganggukkan  kepala.  “gimana,  sudah  dimulai?” Tanyaku basa-basi.

“Iya, baru saja dimulai!”

Setelah itu kami menyimak pemapaparan yang diberikan oleh Akhi Samsul, ketua LDK.  Memang,  akhir-akhir ini aku tidak terlelalu aktif dalam kepengurusan LDK. Karena banyaknya  amanah diluar membutuhkan waktu yang sangat besar. Dan tak lupa juga, skripsiku yang  menggantung karena banyaknya kegiatan. Akhirnya aku memutuskan untuk memfokuskan beberapa  hal yang aku anggap penting. Seperti, skripsiku, dan juga amanah diluar.

Hijab yang menutupi saat syuro’. Tidak menurunkan kualitas para ikhwan dan akhwat   untuk   bisa  memberikan  kontribusinya  dalam  dakwah.  Mereka  sangat semangat dengan cara-cara seperti ini. Bahkan memberikan ruang tersendiri bagi para akhwat. Atau bisa juga disebut.  Ruang privacynya para akhwat. Jadi benar-benar sangat menyenangkan. Karena dengan begitu,  kami tidak terlihat bercampur baur dengan para ikhwan. Sehingga dengan bebas mengutarakan  pendapat, tanpa harus malu dilihat para ikhwan.

“Setiap dari kita, harus bisa memberikan kontribusi yang jelas terhadap dakwah kita! Maksudnya adalah, setiap anggota harus mampu berkomunikasi dengan baik kepada para  mahasiswa-mahasiswa.  Jadi  agar  kita  tidak  terlalu  dibilang  eksklusif  oleh mereka. Terkadang julukan itu, membuat  gerakan dakwah kita menjadi terhambat. Maka dari itu, ana harap. Setiap kader LDK, dapat  bersosialisasi dengan mereka. Minimal menjelaskan beberapa hal tentang kegiatan LDK. Dan, maksimal kita dapat mengajak mereka untuk dapat ikut serta berdakwah!” Ucap Samsul dengan panjang lebar. “Baik, ada yang perlu ditanyakan?” Lanjutnya.

“Begini, Akh. Ana mempunyai beberapa trik-trik untuk membuat statement kepada mahasiswa yang merasakan keeksklusifan kita! Seperti halnya, menyebarkan bulletin kepada mahasiswa-mahasiswa dengan tema yang diangkat. Adalah program-program LDK. Jadi kita tidak usah repot-repot untuk mendatangi mereka!” Ucap, Rofiq.
“Hem, boleh juga! Ada masukan lain, mungkin? Dari para Akhwat!” Ucap Samsul. “Assalamualaikum!” Ucapku. Yang akhirnya disambut dengan jawaban salam para
peserta syuro’.  “Kalau  menurut  ana,  lebih  baik  memberikan  pendekatan  kepada mereka. Dengan cara ikut bergabung dengan mereka, tentunya jika tidak menyimpang dari syari’at. Tetap! Karena pada dasarnya, mahasiswa-mahasiswa yang menganggap kita eksklusif, karena kita sangat jarang sekali berkumpul dengan mereka. Sehingga statement seperti itu muncul dipermukaan, karena perilaku kita sendiri. Ana memang merasakan benar, bahwa banyak ikhwan atau pun akhwat. Yang merasa lebih enjoy bergabung dengan halaqoh mereka, dari pada dengan mahasiswa yang bukan  dari halaqoh mereka. Ini merupakan bentuk ketimpangan yang mendasar. Yang akhirnya menjadikan para mahasiswa merasa bahwa para kader LDK. Mempunyai kehidupan sendiri. Atau dalam kata lain, mengasingkan dari kehidupan mahasiswa.” Aku sedikit

menghela  nafas.  “ana  rasa  jika  ingin  tetap  terlihat  eksis  dalam  dakwah  kita. Seharusnya, kita malah harus punya objek dakwah yang jelas. Atau dalam kata lain. Bahwa  kita  tidak   mengesampingkan  objek  dakwah  lain,  meskipun  kita  sudah mempunyai objek dakwah! Seperti halnya, jika kita berada dilingkup kampus. Maka objek dakwah yang fital, adalah para  mahasiswa-mahasiswa yang belum tersentuh oleh dakwah. Ini merupakan sebuah tantangan besar bagi kader dakwah kampus! Jadi kader  dakwah  kampus,  tidak  hanya  diluar  saja  mereka  bisa  berdakwah.  Seperti mengajar ngaji didesa-desa kumuh, bakti social, dll. Tidak hanya seperti itu. Tetapi seharusnya kita harus membenahi juga rumah kita sendiri, dalam artian kampus kita ini. Karena, antum dan anti lihat saja sendiri. Bagaimana kondisi akhlak dan akhidah kampus kita. Jadi ini merupakan sebuah ladang dakwah bagi kita juga!”

Sejenak, peserta kami pun terdiam.

“Wah, Ukhti! Jarang ikut syuro’ tapi selalu dapat memberikan penjelasan yang bagus” Bisik ukhti Erni.

Aku hanya tersenyum, sambil berkata. “Ini sanjungan apa sindiran! Kalau sanjungan, biasanya Ali Bin Abi Tholib itu membalasnya dengan melemparkan sandalnya. Nah kalau ini sindiran, mending  nggak usah disindir gitu! Ana datang aja sudah merasa kesindir.” Bisikku ke ukhti Erni.

“Hhihihi…!” Ukthi Erni sambil memegang kepalanya, takut dilempar sandal.

“Hem iya, bisa juga seperti itu! Syukron Ukhti atas sarannya. Ana rasa, saran anti boleh juga!” Ucap Samsul.

Syuro’ diakhiri dengan beberapa pernyataan untuk dapat memberikan kesan yang lebih baik kepada para mahasiswa. Tidak terlalu terlihat mengasingkan diri dari kehidupan   mahasiswa   lainnya.   Mau   ikut  bergabung  dengan  kegiatan-kegiatan mahasiswa lainnya selama tidak keluar  dari izzah para kader dakwah kampus. Dan beberapa hal keputusan yang lainnya. Intinya, kader  dakwah kampus harus mampu dapat memberikan kontribusi yang jelas baik dan menjadikan mahasiswa lebih senang bergaul   dengan   aktivis   dakwah   kampus   ketimbang   aktivis   yang   tidak   jelas akhidahnya.

***

Aku rebahkan tubuhku diatas kasur busa. Aku rasakan kenyamanan. Sudah dari pagi tadi, aku belum istirahat sama sekali. Capek sekali, tubuhku terasa sangat pegal-pegal sekali.

“Zah!” suara Ummi membangunkanku dari rebahanku. “Iya, Mi! Masuk aja” ucapkku
Ummi membuka pintu. Senyum pun mengembang, dalam wajah Ummi yang begitu teduh. Nikmat sekali.

“Zah, sudah makan belum?” tanya Ummi sambil membelai lembut rambutku.


“Zah belum lapar, Mi!”

“Hem! Nggak boleh seperti itu, nanti anti sakit!” ucap Ummi lembut. “Nggak kok, Mi!”
“Nggak,  pokoknya  anti  harus  makan  sekarang!  Ummi,  sudah  buatin  makanan kesukaan anti!” Ucap Ummi agak memaksa. Tapi tetap, dengan kelembutan.
“Ya udah. Zah mandi dulu! Nanti selesai mandi baru makan” ucapku dengan manja. “Hem. Zah,  kenapa nggak pakai mobil sendiri! Anti kan bisa lebih nyaman! Dan
nggak terlalu capek!” Ujar Ummi.

“Nggak, dulu Mi! Zah pengen, nanti aja kalau udah mau punya suami. Baru, Zah akan bawa mobil sendiri.” Kataku menggoda.

“Iya, Ummi juga pengen Zah cepat-cepat menikah! Apa mau dicarikan?” Goda Ummi balik.

“Ah, Ummi. Nggak dulu, nanti aja! Zah masih ingin menyelesaikan sesuatu yang harus  diselesaikan dahulu!” Jawabku lugas. “Mi, Zah mandi dulu!” Ucapku sambil mengambil handuk di lemari.

***

Segar, tubuhku serasa kembali bugar. Air benar-benar memberikan kehidupan. Tidak mungkin aku pungkiri, bahwa air memberikan perbaikan. Sungguh nikmat yang tidak dapat aku ingkari.

Aku langkahkan kaki ini. Pada sebuah meja makan, yang sudah terisi dengan masakan-masakan menggoda untuk segera dinikmati. Kenikmatan yang terus menerus membuatku menjadi bertambah keimanan. Tapi entahlah, ini sebuah kenikmatan atau ujian yang diberikan Allah kepadaku.

“Gimana! Enakkan?” tanya Ummi. Sambil menemaniku makan.

“Enak banget Mi! Tapi, Zah nggak mau sering-sering makan-makanan enak Mi!” Ucapku sambil melahap ayam bakar berbumbu pedas.

“Loh, kenapa?” Ummi terlihat heran.

“Iya Mi. Nanti bisa-bisa Zah ketagihan! Masa aktivis dakwah makannya harus enak- enak terus?” Ucapku sambil tersenyum.

“Hem,  Anti  ini  gimana.  Aktivis  dakwah  itu  seharusnya  makanannya  harus  yang bergizi! Biar  nggak kelelahan dalam berdakwah. Malahan, seharusnya wajib bagi aktivis dakwah untuk makan enak!” Jelas Ummi, sambil tersenyum.

“Tapi nanti malah nggak bisa merasakan penderitaan, apalagi nanti nggak zuhud!”

Ummi tersenyum penuh arti. Wajahnya terlihat sangat gembira. “Zah, Anti sudah menjadi wanita yang dewasa! Ummi senang mendengar apa yang keluar dari mulut anti!”

“Ah, Ummi. Zah ini masih kecil! Masih suka bermanja-manja sama Ummi! Masih suka dengan boneka-boneka lucu. Zah, tetap masih kecil dihadapan Ummi.” Ucapkku sambil terlihat manja.

Ummi  hanya  tersenyum.  Belaian  lembut  terasa  menyejukkan,  saat  tangan  Ummi menyentuh rambut dan kepalaku.

Aku  hampir   menyelesaikan   makan   malamku.   Segelas   air   putih,   membasahi tenggorakanku. Hingga menurunkan semua sisa-sisa makanan yang sedang nangkring ditenggorakanku. Nikmat sekali. Benar-benar, nikmat mana yang harus aku dustai.

Selesai makan aku langsung menuju kamarku. Sudah jadi kebiasaanku. Jika selesai makan  malam, berwudhu, dan langsung melantunkan ayat-ayat suci. Serta mencoba mengerti tentang apa yang terkandung dalam ayat-ayat suci Al Qur’an. Dan berusaha menghayati, serta mengamalkannya.  Setelah itu, tak lupa membaca buku. Buku-buku yang bisa memberikan tingkat pengetahuan dan keimanan. Jika semua itu sudah  aku  kerjakan.  Maka  aku  harus  menyelesaikan  tugasku  selanjutnya,  Allah memberikan malam untuk dijadikan sebagai waktu istirahat.

***

Pagi begitu cerah. Bunga-bunga terbasahi oleh embun-embun pagi. Nyanyian burung-burung  yang  hinggap  dibeberapa  ranting  pepohonan.  Menjadikan  pagi  ini begitu komplit. Tak lupa teh hangat, yang akan selalu menemaniku dalam setiap pagi. Tugas-tugas  yang  seharusnya   aku  kerjakan,  sudah  aku  selesaikan.  Mulai  dari membaca Al ma’tsurat setelah subuh setelah itu  tilawah, olah raga pagi, dan yang terakhir. Menikmati pagi dengan secangkir teh hangat, tak lupa  ditemani dengan berbagai macam kue kering sebagai pelengkap.

“Zah. Anti nggak kuliah hari ini?” Sapa Ummi, yang terlihat baru menyelesaikan tilawahnya.

“Kayaknya sih, nggak Mi! Skripsi Zah kan sudah selesai. Tinggal sidangnya aja! Emang ada apa Mi?”

“Oh  nggak!  Ummi  hanya  mau  ngajak  Zah  jalan-jalan  aja!  Kayaknya  dibutik muslimah dekat rumah ada jilbab yang bagus-bagus. Ummi mau cari beberapa motif jilbab yang bagus! Anti mau ikut nggak?” jawab Ummi. Promosi.

“Hem, Ummi gimana sih. Zah kan pengen hidup zuhud! Tidak bermegah-megahan. Jilbab Zah kan udah banyak!” Jelasku.

Ummi  tersenyum.  Masih  seperti  senyumnya  tadi  malam.  “Alhamdulillah,  anakku benar-benar sudah dewasa! Sayang, bukan berarti hidup zuhud itu mengesampingkan

keindahan. Bukankah  Allah  paling  suka  dengan  keindahan!  Dan  memang,  bukan berarti Ummi  membeli jilbab itu karena keinginan semata. Tetapi lebih didasarkan kebutuhan Ummi sendiri! Beberapa jilbab Ummi kan sudah banyak yang kekecilan. Tahu sendirikan! Ummi semakin gemuk”

“Ok Mi! Zah ikut”

Ummi mengangguk. “Nanti, jam 9 kita berangkat!” Ummi bergegas meninggalkanku, menuju dapur. Untuk membantu Bi Iyem.

Banyak beberapa akhwat yang terjebak dengan trend busana muslim. Memang kita tidak  boleh  mengesampingkan  keindahan.  Tetapi  keindahan  itu  pun  tidak  boleh terlepas dari kebutuhan kita sendiri! Apalagi budaya shopping bagi wanita ammah pun menjadi trend yang barbeda bagi para akhwat. Kalau orang ammah shoppingnya di  mall,  tapi  kalau  akhwat  shoppingnya  di  butik  muslimah.  Lalu,  apa  bedanya? Pikirku dalam hati.

Suasana pagi barangsur-angsur pergi. Meninggalkan aku yang sejak tadi bersama pagi.  Aku  biarkan  pagi,  pergi  untuk  datang  kembali.  Bersama  keindahan  yang diberikan  kepada  umat  seisi  bumi.  Kubiarkan  pagi  pergi.  Agar  bisa  memberikan keindahan pagi hari di belahan bumi yang lain. Bergegas aku menuju kamar mandi. Aku hampir lupa, punya janji menemani Ummi ke butik muslimah.

“Zah, gimana sudah siap belum?” Teriak Ummi diluar kamarku. “Iya Mi. Sebentar! Ini lagi membetulkan jilbab!” Sahutku.
“Ok, Ummi tunggu dibawah ya!” “Ya..!” jawabku singkat.
Aku keluar dari kamar. Bersama jilbabku yang tetap membalut tubuhku dalam balutan  kemesraan perlindungan dari mata-mata jahil yang melihatku. Selain jilbab adalah perintah dari agamaku. Jilbab merupakan sebuah pakaian yang memang lebih nyaman  untuk  dikenakan  dalama   acara  apapun.  Karena  jilbab  adalah  pakaian pembebasan wanita dari pria. Dan wanita berjilbab  adalah wanita yang terbebaskan dari pria. Dan jilbab adalah pakaian yang bebas dan merdeka.

“Ok Mi! Zah sudah siap.” Ucapku, saat Ummi sedang duduk santai diruang depan. Menungguku.

Kami pun berangkat berdua.

Setiap jalan yang aku lewati. Selalu ada saja pandangan yang tertuju pada kaum    dhuafa    yang    berada    diperempatan    lampu    merah.    Ada    kalanya,    juga perkampungan kumuh yang berjejer. Sangat mengherankan, bagi negeri yang disebut gemah ripah  ini.  Mercedez melaju dengan nyaman disetiap jalan. Mang Kujang, supirku. Mengendarainya dengan santai. Hem enak memang, saat menaiki mercedez ini.Ya Allah, jangan lupakan aku  dengan derita umatmu yang selalu bercucuran keringat saat naik angkot. Bagaikan ikan asin yang dijajar rapi. Entah kenapa, tiba-

tiba aku terkaget dari lamunanku. Sesosok yang aku kenal, terlihat berjalan kaki disebuah  desa  kumuh.  Apa  benar  dia!  Benar  nggak  sich?  ucapku  dalam  hati. Bingung. Oh benar, dia! Iya  tidak salah lagi, Akhi Khalid! Aku melintasinya. Aku tersenyum sendiri. Tersenyum dengan kegembiraan yang tiada tara. Ikhwan itu yang membuat hatiku selalu berbunga-bunga. Ikhwan itu yang membuat jantungku selalu berdetak  tidak  karuan  saat  aku  berbicara  dengannya.  Aku  tidak  berani  menatap matanya, bahkan untuk melihat tubuhnya pun. Aku tidak berani. Dan sekarang pun, jantungku berdetak tak beraturan. Entah kenapa ini. Selalu seperti ini jika aku bertemu dengannya. Memang akhir-akhir ini aku tidak pernah bertemu dengan dia, mengingat kesibukanku dan kesibukannya yang semakin padat.

Entah kenapa, aku seperti berbunga-bunga saat melihatnya. Apalagi saat dia berjalan  diperkampungan kumuh itu. Aku bagaikan melihat seorang mujahid, yang melangkah   pasti   dalam   barisan   tentara   Allah.   Seorang   penjuang   yang   terus mendambakan surga ketimbang dunia. Seorang yang tiada hentinya berdakwah dalam arus ketidakpastian dalam materinya. Seorang yang merasa tidak pernah kekurangan dalam segala hal selain pahalanya. Bahkan untuk urusan dunia sekalipun. Dia tidak pernah terlihat menginginkannya. Ya Allah, teguhkanlah sikap dia tetap  dijalanmu! Hadiahkan  bidadari  kepada  dia  didunia  maupun  disurga-Mu.  Aku  benar-benar bangga terhadap dia. Aku tidak akan layak untuk bisa mendampinginya. Sungguh seorang ikhwan yang begitu tegar dalam perjuangan-Nya. Subhanalah. Ucapku lirih dalam hati.

“Zah, anti  kenapa?  Dari  tadi  kok  senyam-senyum  sendiri!”  Ummi  mengagetkan lamunanku.

“Nggak kenapa-napa kok Mi!” jawabku enteng.

“Ah, masa nggak ada apa-apa? Pasti ada yang menyenangkan hati, Zah?” selidik
Ummi.

“Nggak kok! Zah nggak apa-apa kok Mi!”

“Hem, Ummi tahu. Pasti ada salah satu ikhwan yang sudah masuk kedalam hati Zah!” Ucap Ummi terlihat pasti.

“Nggak Mi!” Jawabku malu.

“Hehe….. nggak usah malu. Kalau memang sudah ingin menikah! Bilang sama Abi atau  Ummi.  Insya  Allah  tidak  akan  ada  ikhwan  yang  akan  menolak  dinikahkan dengan  anti!”  Ummi  terlihat  serius.    “Mana  ada  yang  menolak  dinikahi  seorang akhwat  yang  cantik  begini,  apalagi  hobinya  tilawah  dan  membaca  tafsir!”  Goda Ummi.

“Ummi..!”  Jawabku  sewot,  dan  terlihat  manja.  Ummi  hanya  tersenyum,  sambil memeluk kepalaku.

Aku tidak akan sepadan dengan Ikhwan yang aku impikan itu. Hanya untuk melihat pun  aku  tidak   akan  sanggup.  Apalagi  memilikinya.  Sungguh  sangat  mustahil! Gumamku dalam hati.


***

“Mi, itu  bagus  juga!  Warnanya  cocok  dengan  jilbab  yang  ini!”  Usulku  sambil mengambil contoh beberapa jilbab.

“Iya, yang itu terlihat bagus. Bahannya halus, cocok memang. Warnanya juga nggak terlalu mencolok!” Jawab Ummi.

“Hem… iya! Ya sudah Mi, beli yang itu aja!”

Ummi mengangguk tanda setuju. “Mbak, yang ini yah!” Ucap Ummi kepada pegawai butik itu.

Saat kami akan bergegas keluar butik. Aku melihat seorang akhwat, yang sedang memilih-milih pakaian. Jelas aku melihatnya. Dan benar dia adalah temanku. Ukhti Ria.

“Assalamualaikum” Salamku, saat mendekati akhwat itu. “Eh… Walaikumsalam!” Jawabnya sambil tersenyum. “Wah. Lagi belanja yach, Ukh?” Tanyaku
Ria hanya tersenyum, sambil menganggukan kepalanya. “Anti lagi shopping juga?”

“Oh  nggak,  lagi  nganter  Ummi!”  Ucapku.  Sambil  telunjukku  menunjuk  kearah
Ummi.

“Oh!” Ria hanya tersenyum. Sambil melambaikan salamnya kepada Ummiku.

“Ok.  Ana  balik  dulu  yah  Ukh!”  Ucapku  sambil  menyalami  dan  memeluknya. “Assalamualaikum” salamku. Sambil berjalan menuju Ummi.

“Walaikumsalam.”

***

Entah  kenapa.   Aku   terus   mengingat   Akhi   Khalid.   Bayang-bayangnya menghiasi   alam  bawah  sadarku.  Sejak  aku  melihatnya  berjalan.  Aku  semakin menganggumi sosok Khalid.  Sosok ikhwan yang tegar, dalam balutan singgah sana keimanan. Meskipun terlihat sangat kekurangan materi, tetapi sosok ikhwan yang satu ini. Tidak pernah meminta sesuatu hal yang dapat merendahkan harga dirinya. Aku sangat bangga bisa bekerja sama dengannya.

Hari ini aku benar-benar tidak ada kesibukan. Memang untuk hari ini aku sudah ijin kepada beberapa teman-temanku. Hari ini aku ingin beristirahat total. Aku tidak ingin disibukkan  oleh  kegiata-kegiatan dakwahku dulu. Bukannya karena aku futur. Tidak, aku tidak futur. Tetapi  aku  sedang kedatangan tamu bulanan. Seperti

persoalan lainnya, akhwat juga manusia. Yang merasakan ketidak sehetan, jika datang waktunya. Hanya untuk saat seperti ini. Dan hanya satu hari ini saja.

“Tluutt…tluutt..” dering hpku.

No  tak  dikenal!  Siapa  yach?  Tanyaku  dalam  hati.  Aku  ambil  hpku,  “Hallo… Assalamualaikum!”

“Walaikumsalam!” Ucapnya.

“Ini siapa yah?” Tanyaku penasaran.

“Hehehe…. Sayang. Masa lupa dengan aku!” Ucapnya

Siapa nich! Pikirku jengkel. “Ini siapa?” Ucapku ketus.

“Wah… benar-benar aku sudah dilupain yah! Ini aku, Deryl!” Ucap si Penelphon

Ha.. Deryl! Anak keluarga Wiryo. Anak itu lagi! Huh.. Gumamku dalam hati. “Oh
Deryl! Kapan datang?” Tanyaku basa-basi.

“Aku datang dari Australi kemarin! Wah aku kangen berat nih sama kamu!”

Huh… nih orang. Apa nggak pernah diajari akhlak sama sekali!

“Oh” Jawabku datar.

“Eh, gimana jalan yuk! Aku pengen jalan-jalan nih. Kamu mau kan!”

“Maaf aku  nggak  bisa!”  Jawabku.  Bingung.  Bagaimana  ngomong  masalah  hijab kepada dia.

“Ah kamu, dari dulu tetap begitu! Kalau gitu aku kerumah kamu aja yah?”

“Maaf aku lagi pengen sendirian! Ok yah Ryl aku udahan dulu! Wassalam” Ucapku sambil mematikan tombol HPku.

Deryl, anak keluarga Wiryo. Seorang pengusaha yang sukses. Tapi sayang tidak  diimbangi dengan kesuksesan mendidik anak-anaknya. Mulai dari SMA dulu, Deryl selalu ingin  mendekatiku. Pengen mengajak jalanlah, pengen curhatlah. Tapi alhamdulillah, Abi dan Ummi  selalu menjaga hijabku dengan setianya. Untunglah orang tuaku tidak menginginkan harta yang berlimpah. Materi yang banyak. Kalaulah orang tuaku menyukai dunia dan isinya. Materi juga harta  benda. Pastilah dengan segera aku dinikahkan dengan, Deryl. Tapi, untunglah orang tuaku termasuk prajurit- prajurit dakwah. Alhamdulillah.

Dari kekayaanku saja. Aku sudah sangat bersyukur. Beberapa usaha Abi sudah sangat  maju.  Hampir  setara  dengan  keluarga  Deryl.  Perusahaan-perusahaan  Abi bahkan  sudah  menerapkan  system management  yang  sangat  bagus.  Tidak  seperti perusahaan-perusahaan yang lainnya.  Dengan  system management Syari’ah itulah,

perusahaan  Abi  semakin  lama  samakin  maju  pesat.  Benar-benar  berkah  yang diberikan oleh Allah kepada keluargaku.

Dulu,    beberapa    kali    Deryl    datang    kerumahku.    Dengan    sopan    aku menemaninya. Tentunya dengan ditemani oleh Abi disampingku. Lucu juga kalau mengenangnya. Deryl menjadi kikuk saat akan berbicara. Kelakuan Deryl pun terlihat kaku. Sangat terlihat tidak  nyaman sekali. Lalu, setelah Deryl pulang. Pasti Deryl akan  langsung  menelphoneku.  Lalu   mengata-ngataiku,  juga  Abi  dan  Ummiku. Kunolah, mengekang anaknyalah, suka mau tahu  urasan anak mudalah. Entahlah, banyak sekali yang dikatakan Deryl dalam telphone. Tetapi tetap aku membalasnya dengan sopan, “Aku senang kok dengan perlakuan orang tuaku. Dan aku  merasa sangat terlindungi dengan sikap orang tuaku yang seperti itu! Sudah yah aku mau tidur.”  Ucapan  itulah  yang  selalu  aku  gaungkan  kepada  Deryl,  jika  dia  sudah mengata-ngataiku.

Aku jadi teringat Akhi khalid. Saat sering menelphoneku. Seorang Al Akh yang   menelephone  hanya  untuk  mengetahui  tingkat  keilmuan  seorang  akhwat. Mengetest  kemampuan  akhwat.  Entahlah,  banyak  cara-cara  jahiliah  yang  saat  itu masih digunakan oleh Akhi Khalid.  Tapi entah kenapa, Akhi Khalid menjadi malu sekali saat bertemu denganku. Saat setelah,  menelephoneku terakhir kali. Hingga akhirnya  aku  menjadi  sekretarisnya  di  LDK.  Aku  tak  menyangka,  ternyata  Akhi Khalid sangat berbeda sekali dengan apa yang aku kira. Seorang Ikhwan yang begitu teguh dalam menjalani dakwahnya. Hingga akhirnya, hatiku luluh dibuatnya. Tetapi tetap, aku harus menjaga hijab dengannya.

Lantunan ayat-ayat  suci  mengembang  dalam  alunan  tilawah  dari  MP3ku. Getaran-getaran hati selalu mengembang dalam setiap alunan tilawah itu. Serasa ingin sekali   menangis,   menangis  karena  dosa-dosaku  yang  telah  menjadikanku  lalai mengingat nama Rabbku. Mengingat nama Sang Maha Haq. Ya Allah, ampuni aku!

Pesan: =========================================================== Hanya itu yang dapat kami tulis untuk potingan artikel ini, bila pengujung semua menyukai ini silahkan tinggalkan komentar anda.... Salam Hangat By Iwan Kurniawan ===========================================================


0 komentar

Poskan Komentar

Cancel Reply