Kamis, 15 Maret 2012

Aku Menggugat Akhwat & Ikhwan

JILID 1
Panas terik matahari, bersinar. Terlihat bayang-bayang fatamorgana didepan aspal yang aku lewati. Panas sekali. Angkot yang aku tumpangi pun, malaju dengan kecepatan yang sedang. Bagaikan menikmati hawa panas yang menyengat kulit. Apalagi aku, dengan jilbabku ini. Keringat sudah dari tadi mengalir deras ditubuhku. Tetapi, karena aku memakai pakaian yang berlapis. Dengan jilbab yang mengurai lebar dan besar. Sehingga mungkin keringatku tertahan. Dan tidak sampai membuatku menjadi terlihat sebagai pepesan akhwat. Tetapi, tidak sedikit pula keringat yang mengalir deras diwajahku. Beberapa kali orang melihatku. Mungkin, mereka berfikir panas-panas kok pakai jilbab, besar pula. Tak seberapa lama, benar juga pikirku. Seseorang ibu melihatku dengan penuh tanya.

Ibu itu mengatakan “Mbak, apa nggak gerah! Pakai jilbab yang besar seperti itu?”

Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ibu itu hanya terlihat dengan senyumnya. Entahlah, senyuman apa yang diberikan ibu itu kepadaku. Mungkin senyuman rasa kasihan, karena keringat diwajahku terus mengalir deras. Tapi aku tak perduli.

Cuaca panas inilah yang menjadi pembenar. Untuk melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh sang Al Haq. Dengan berbagai alasan, banyak wanita yang enggan atau tidak mau memakai jilbab. Sungguh ironis dalam sebuah agama terbesar di Negara ini. Lucu sih, alasan tidak memakai jilbab karena cuaca dinegara ini yang bersifat tropis. Padahal, di Arab. Cuacanya tidak kalah panasnya, bahkan lebih panas dibandingkan Negara ini. Tetapi toh, tidak menyurutkan para wanita yang berada di Arab untuk berjilbab.

Panas tetap menyertaiku dalam sebuah mobil angkot yang sangat pengap. Tak jarang, bau keringat pun menyengat. Entah itu bau keringat siapa. Supir angkot, kenek, atau bahkan penumpang lain. Yang penting aku tidak merasa tubuhku berbau. Meskipun aku berjilbab. Aku tidak ingin tubuhku berbau badan yang tidak enak. Tetapi tetap aku juga tidak mau tubuhku harum ditempat yang tidak semestinya. Aku tidak mau dianggap sebagai wanita murahan dalam agamaku. Apalagi dituduh sebagai wanita nakal karena memakai wewangian bukan pada tempatnya.

Angkot tetap melaju pada setiap detik hawa panas yang menyengat aspal. Memang berat hari ini. Tetapi aku harus tetap datang dipertemuan. Beberapa kali aku diundang, tetapi aku sering ada acara lain. Maka ini saatnya aku harus menyempatkan untuk datang di teman-teman LDK (Lembaga Dakwah Kampus). Hembusan angin yang keluar dari jendela angkot. Membuatku sedikit merasa nyaman.

Hem, sampai juga akhirnya! Ucapku dalam hati.

Aku turun dari angkot. Dan berjalan menuju masjid kampus. Pusat para kader- kader dakwah kampus yang akan berkumpul. Terlihat sudah banyak akhwat dan ikhwan yang berkumpul.

“Assalamualaikum!” Salamku.

“Walaikumsalam! Masuk Ukh.” Sambut Ukhti Erni dengan senyum. “Alhamdulillah anti datang juga!” ucapnya lanjut.

Aku hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. “gimana, sudah dimulai?” Tanyaku basa-basi.

“Iya, baru saja dimulai!”

Setelah itu kami menyimak pemapaparan yang diberikan oleh Akhi Samsul, ketua LDK. Memang, akhir-akhir ini aku tidak terlelalu aktif dalam kepengurusan LDK. Karena banyaknya amanah diluar membutuhkan waktu yang sangat besar. Dan tak lupa juga, skripsiku yang menggantung karena banyaknya kegiatan. Akhirnya aku memutuskan untuk memfokuskan beberapa hal yang aku anggap penting. Seperti, skripsiku, dan juga amanah diluar.

Hijab yang menutupi saat syuro’. Tidak menurunkan kualitas para ikhwan dan akhwat untuk bisa memberikan kontribusinya dalam dakwah. Mereka sangat semangat dengan cara-cara seperti ini. Bahkan memberikan ruang tersendiri bagi para akhwat. Atau bisa juga disebut. Ruang privacynya para akhwat. Jadi benar-benar sangat menyenangkan. Karena dengan begitu, kami tidak terlihat bercampur baur dengan para ikhwan. Sehingga dengan bebas mengutarakan pendapat, tanpa harus malu dilihat para ikhwan.

“Setiap dari kita, harus bisa memberikan kontribusi yang jelas terhadap dakwah kita! Maksudnya adalah, setiap anggota harus mampu berkomunikasi dengan baik kepada para mahasiswa-mahasiswa. Jadi agar kita tidak terlalu dibilang eksklusif oleh mereka. Terkadang julukan itu, membuat gerakan dakwah kita menjadi terhambat. Maka dari itu, ana harap. Setiap kader LDK, dapat bersosialisasi dengan mereka. Minimal menjelaskan beberapa hal tentang kegiatan LDK. Dan, maksimal kita dapat mengajak mereka untuk dapat ikut serta berdakwah!” Ucap Samsul dengan panjang lebar. “Baik, ada yang perlu ditanyakan?” Lanjutnya.

“Begini, Akh. Ana mempunyai beberapa trik-trik untuk membuat statement kepada mahasiswa yang merasakan keeksklusifan kita! Seperti halnya, menyebarkan bulletin kepada mahasiswa-mahasiswa dengan tema yang diangkat. Adalah program-program LDK. Jadi kita tidak usah repot-repot untuk mendatangi mereka!” Ucap, Rofiq.
“Hem, boleh juga! Ada masukan lain, mungkin? Dari para Akhwat!” Ucap Samsul. “Assalamualaikum!” Ucapku. Yang akhirnya disambut dengan jawaban salam para
peserta syuro’. “Kalau menurut ana, lebih baik memberikan pendekatan kepada mereka. Dengan cara ikut bergabung dengan mereka, tentunya jika tidak menyimpang dari syari’at. Tetap! Karena pada dasarnya, mahasiswa-mahasiswa yang menganggap kita eksklusif, karena kita sangat jarang sekali berkumpul dengan mereka. Sehingga statement seperti itu muncul dipermukaan, karena perilaku kita sendiri. Ana memang merasakan benar, bahwa banyak ikhwan atau pun akhwat. Yang merasa lebih enjoy bergabung dengan halaqoh mereka, dari pada dengan mahasiswa yang bukan dari halaqoh mereka. Ini merupakan bentuk ketimpangan yang mendasar. Yang akhirnya menjadikan para mahasiswa merasa bahwa para kader LDK. Mempunyai kehidupan sendiri. Atau dalam kata lain, mengasingkan dari kehidupan mahasiswa.” Aku sedikit

menghela nafas. “ana rasa jika ingin tetap terlihat eksis dalam dakwah kita. Seharusnya, kita malah harus punya objek dakwah yang jelas. Atau dalam kata lain. Bahwa kita tidak mengesampingkan objek dakwah lain, meskipun kita sudah mempunyai objek dakwah! Seperti halnya, jika kita berada dilingkup kampus. Maka objek dakwah yang fital, adalah para mahasiswa-mahasiswa yang belum tersentuh oleh dakwah. Ini merupakan sebuah tantangan besar bagi kader dakwah kampus! Jadi kader dakwah kampus, tidak hanya diluar saja mereka bisa berdakwah. Seperti mengajar ngaji didesa-desa kumuh, bakti social, dll. Tidak hanya seperti itu. Tetapi seharusnya kita harus membenahi juga rumah kita sendiri, dalam artian kampus kita ini. Karena, antum dan anti lihat saja sendiri. Bagaimana kondisi akhlak dan akhidah kampus kita. Jadi ini merupakan sebuah ladang dakwah bagi kita juga!”

Sejenak, peserta kami pun terdiam.

“Wah, Ukhti! Jarang ikut syuro’ tapi selalu dapat memberikan penjelasan yang bagus” Bisik ukhti Erni.

Aku hanya tersenyum, sambil berkata. “Ini sanjungan apa sindiran! Kalau sanjungan, biasanya Ali Bin Abi Tholib itu membalasnya dengan melemparkan sandalnya. Nah kalau ini sindiran, mending nggak usah disindir gitu! Ana datang aja sudah merasa kesindir.” Bisikku ke ukhti Erni.

“Hhihihi…!” Ukthi Erni sambil memegang kepalanya, takut dilempar sandal.

“Hem iya, bisa juga seperti itu! Syukron Ukhti atas sarannya. Ana rasa, saran anti boleh juga!” Ucap Samsul.

Syuro’ diakhiri dengan beberapa pernyataan untuk dapat memberikan kesan yang lebih baik kepada para mahasiswa. Tidak terlalu terlihat mengasingkan diri dari kehidupan mahasiswa lainnya. Mau ikut bergabung dengan kegiatan-kegiatan mahasiswa lainnya selama tidak keluar dari izzah para kader dakwah kampus. Dan beberapa hal keputusan yang lainnya. Intinya, kader dakwah kampus harus mampu dapat memberikan kontribusi yang jelas baik dan menjadikan mahasiswa lebih senang bergaul dengan aktivis dakwah kampus ketimbang aktivis yang tidak jelas akhidahnya.

***

Aku rebahkan tubuhku diatas kasur busa. Aku rasakan kenyamanan. Sudah dari pagi tadi, aku belum istirahat sama sekali. Capek sekali, tubuhku terasa sangat pegal-pegal sekali.

“Zah!” suara Ummi membangunkanku dari rebahanku. “Iya, Mi! Masuk aja” ucapkku
Ummi membuka pintu. Senyum pun mengembang, dalam wajah Ummi yang begitu teduh. Nikmat sekali.

“Zah, sudah makan belum?” tanya Ummi sambil membelai lembut rambutku.


“Zah belum lapar, Mi!”

“Hem! Nggak boleh seperti itu, nanti anti sakit!” ucap Ummi lembut. “Nggak kok, Mi!”
“Nggak, pokoknya anti harus makan sekarang! Ummi, sudah buatin makanan kesukaan anti!” Ucap Ummi agak memaksa. Tapi tetap, dengan kelembutan.
“Ya udah. Zah mandi dulu! Nanti selesai mandi baru makan” ucapku dengan manja. “Hem. Zah, kenapa nggak pakai mobil sendiri! Anti kan bisa lebih nyaman! Dan
nggak terlalu capek!” Ujar Ummi.

“Nggak, dulu Mi! Zah pengen, nanti aja kalau udah mau punya suami. Baru, Zah akan bawa mobil sendiri.” Kataku menggoda.

“Iya, Ummi juga pengen Zah cepat-cepat menikah! Apa mau dicarikan?” Goda Ummi balik.

“Ah, Ummi. Nggak dulu, nanti aja! Zah masih ingin menyelesaikan sesuatu yang harus diselesaikan dahulu!” Jawabku lugas. “Mi, Zah mandi dulu!” Ucapku sambil mengambil handuk di lemari.

***

Segar, tubuhku serasa kembali bugar. Air benar-benar memberikan kehidupan. Tidak mungkin aku pungkiri, bahwa air memberikan perbaikan. Sungguh nikmat yang tidak dapat aku ingkari.

Aku langkahkan kaki ini. Pada sebuah meja makan, yang sudah terisi dengan masakan-masakan menggoda untuk segera dinikmati. Kenikmatan yang terus menerus membuatku menjadi bertambah keimanan. Tapi entahlah, ini sebuah kenikmatan atau ujian yang diberikan Allah kepadaku.

“Gimana! Enakkan?” tanya Ummi. Sambil menemaniku makan.

“Enak banget Mi! Tapi, Zah nggak mau sering-sering makan-makanan enak Mi!” Ucapku sambil melahap ayam bakar berbumbu pedas.

“Loh, kenapa?” Ummi terlihat heran.

“Iya Mi. Nanti bisa-bisa Zah ketagihan! Masa aktivis dakwah makannya harus enak- enak terus?” Ucapku sambil tersenyum.

“Hem, Anti ini gimana. Aktivis dakwah itu seharusnya makanannya harus yang bergizi! Biar nggak kelelahan dalam berdakwah. Malahan, seharusnya wajib bagi aktivis dakwah untuk makan enak!” Jelas Ummi, sambil tersenyum.

“Tapi nanti malah nggak bisa merasakan penderitaan, apalagi nanti nggak zuhud!”

Ummi tersenyum penuh arti. Wajahnya terlihat sangat gembira. “Zah, Anti sudah menjadi wanita yang dewasa! Ummi senang mendengar apa yang keluar dari mulut anti!”

“Ah, Ummi. Zah ini masih kecil! Masih suka bermanja-manja sama Ummi! Masih suka dengan boneka-boneka lucu. Zah, tetap masih kecil dihadapan Ummi.” Ucapkku sambil terlihat manja.

Ummi hanya tersenyum. Belaian lembut terasa menyejukkan, saat tangan Ummi menyentuh rambut dan kepalaku.

Aku hampir menyelesaikan makan malamku. Segelas air putih, membasahi tenggorakanku. Hingga menurunkan semua sisa-sisa makanan yang sedang nangkring ditenggorakanku. Nikmat sekali. Benar-benar, nikmat mana yang harus aku dustai.

Selesai makan aku langsung menuju kamarku. Sudah jadi kebiasaanku. Jika selesai makan malam, berwudhu, dan langsung melantunkan ayat-ayat suci. Serta mencoba mengerti tentang apa yang terkandung dalam ayat-ayat suci Al Qur’an. Dan berusaha menghayati, serta mengamalkannya. Setelah itu, tak lupa membaca buku. Buku-buku yang bisa memberikan tingkat pengetahuan dan keimanan. Jika semua itu sudah aku kerjakan. Maka aku harus menyelesaikan tugasku selanjutnya, Allah memberikan malam untuk dijadikan sebagai waktu istirahat.

***

Pagi begitu cerah. Bunga-bunga terbasahi oleh embun-embun pagi. Nyanyian burung-burung yang hinggap dibeberapa ranting pepohonan. Menjadikan pagi ini begitu komplit. Tak lupa teh hangat, yang akan selalu menemaniku dalam setiap pagi. Tugas-tugas yang seharusnya aku kerjakan, sudah aku selesaikan. Mulai dari membaca Al ma’tsurat setelah subuh setelah itu tilawah, olah raga pagi, dan yang terakhir. Menikmati pagi dengan secangkir teh hangat, tak lupa ditemani dengan berbagai macam kue kering sebagai pelengkap.

“Zah. Anti nggak kuliah hari ini?” Sapa Ummi, yang terlihat baru menyelesaikan tilawahnya.

“Kayaknya sih, nggak Mi! Skripsi Zah kan sudah selesai. Tinggal sidangnya aja! Emang ada apa Mi?”

“Oh nggak! Ummi hanya mau ngajak Zah jalan-jalan aja! Kayaknya dibutik muslimah dekat rumah ada jilbab yang bagus-bagus. Ummi mau cari beberapa motif jilbab yang bagus! Anti mau ikut nggak?” jawab Ummi. Promosi.

“Hem, Ummi gimana sih. Zah kan pengen hidup zuhud! Tidak bermegah-megahan. Jilbab Zah kan udah banyak!” Jelasku.

Ummi tersenyum. Masih seperti senyumnya tadi malam. “Alhamdulillah, anakku benar-benar sudah dewasa! Sayang, bukan berarti hidup zuhud itu mengesampingkan

keindahan. Bukankah Allah paling suka dengan keindahan! Dan memang, bukan berarti Ummi membeli jilbab itu karena keinginan semata. Tetapi lebih didasarkan kebutuhan Ummi sendiri! Beberapa jilbab Ummi kan sudah banyak yang kekecilan. Tahu sendirikan! Ummi semakin gemuk”

“Ok Mi! Zah ikut”

Ummi mengangguk. “Nanti, jam 9 kita berangkat!” Ummi bergegas meninggalkanku, menuju dapur. Untuk membantu Bi Iyem.

Banyak beberapa akhwat yang terjebak dengan trend busana muslim. Memang kita tidak boleh mengesampingkan keindahan. Tetapi keindahan itu pun tidak boleh terlepas dari kebutuhan kita sendiri! Apalagi budaya shopping bagi wanita ammah pun menjadi trend yang barbeda bagi para akhwat. Kalau orang ammah shoppingnya di mall, tapi kalau akhwat shoppingnya di butik muslimah. Lalu, apa bedanya? Pikirku dalam hati.

Suasana pagi barangsur-angsur pergi. Meninggalkan aku yang sejak tadi bersama pagi. Aku biarkan pagi, pergi untuk datang kembali. Bersama keindahan yang diberikan kepada umat seisi bumi. Kubiarkan pagi pergi. Agar bisa memberikan keindahan pagi hari di belahan bumi yang lain. Bergegas aku menuju kamar mandi. Aku hampir lupa, punya janji menemani Ummi ke butik muslimah.

“Zah, gimana sudah siap belum?” Teriak Ummi diluar kamarku. “Iya Mi. Sebentar! Ini lagi membetulkan jilbab!” Sahutku.
“Ok, Ummi tunggu dibawah ya!” “Ya..!” jawabku singkat.
Aku keluar dari kamar. Bersama jilbabku yang tetap membalut tubuhku dalam balutan kemesraan perlindungan dari mata-mata jahil yang melihatku. Selain jilbab adalah perintah dari agamaku. Jilbab merupakan sebuah pakaian yang memang lebih nyaman untuk dikenakan dalama acara apapun. Karena jilbab adalah pakaian pembebasan wanita dari pria. Dan wanita berjilbab adalah wanita yang terbebaskan dari pria. Dan jilbab adalah pakaian yang bebas dan merdeka.

“Ok Mi! Zah sudah siap.” Ucapku, saat Ummi sedang duduk santai diruang depan. Menungguku.

Kami pun berangkat berdua.

Setiap jalan yang aku lewati. Selalu ada saja pandangan yang tertuju pada kaum dhuafa yang berada diperempatan lampu merah. Ada kalanya, juga perkampungan kumuh yang berjejer. Sangat mengherankan, bagi negeri yang disebut gemah ripah ini. Mercedez melaju dengan nyaman disetiap jalan. Mang Kujang, supirku. Mengendarainya dengan santai. Hem enak memang, saat menaiki mercedez ini.Ya Allah, jangan lupakan aku dengan derita umatmu yang selalu bercucuran keringat saat naik angkot. Bagaikan ikan asin yang dijajar rapi. Entah kenapa, tiba-

tiba aku terkaget dari lamunanku. Sesosok yang aku kenal, terlihat berjalan kaki disebuah desa kumuh. Apa benar dia! Benar nggak sich? ucapku dalam hati. Bingung. Oh benar, dia! Iya tidak salah lagi, Akhi Khalid! Aku melintasinya. Aku tersenyum sendiri. Tersenyum dengan kegembiraan yang tiada tara. Ikhwan itu yang membuat hatiku selalu berbunga-bunga. Ikhwan itu yang membuat jantungku selalu berdetak tidak karuan saat aku berbicara dengannya. Aku tidak berani menatap matanya, bahkan untuk melihat tubuhnya pun. Aku tidak berani. Dan sekarang pun, jantungku berdetak tak beraturan. Entah kenapa ini. Selalu seperti ini jika aku bertemu dengannya. Memang akhir-akhir ini aku tidak pernah bertemu dengan dia, mengingat kesibukanku dan kesibukannya yang semakin padat.

Entah kenapa, aku seperti berbunga-bunga saat melihatnya. Apalagi saat dia berjalan diperkampungan kumuh itu. Aku bagaikan melihat seorang mujahid, yang melangkah pasti dalam barisan tentara Allah. Seorang penjuang yang terus mendambakan surga ketimbang dunia. Seorang yang tiada hentinya berdakwah dalam arus ketidakpastian dalam materinya. Seorang yang merasa tidak pernah kekurangan dalam segala hal selain pahalanya. Bahkan untuk urusan dunia sekalipun. Dia tidak pernah terlihat menginginkannya. Ya Allah, teguhkanlah sikap dia tetap dijalanmu! Hadiahkan bidadari kepada dia didunia maupun disurga-Mu. Aku benar-benar bangga terhadap dia. Aku tidak akan layak untuk bisa mendampinginya. Sungguh seorang ikhwan yang begitu tegar dalam perjuangan-Nya. Subhanalah. Ucapku lirih dalam hati.

“Zah, anti kenapa? Dari tadi kok senyam-senyum sendiri!” Ummi mengagetkan lamunanku.

“Nggak kenapa-napa kok Mi!” jawabku enteng.

“Ah, masa nggak ada apa-apa? Pasti ada yang menyenangkan hati, Zah?” selidik
Ummi.

“Nggak kok! Zah nggak apa-apa kok Mi!”

“Hem, Ummi tahu. Pasti ada salah satu ikhwan yang sudah masuk kedalam hati Zah!” Ucap Ummi terlihat pasti.

“Nggak Mi!” Jawabku malu.

“Hehe….. nggak usah malu. Kalau memang sudah ingin menikah! Bilang sama Abi atau Ummi. Insya Allah tidak akan ada ikhwan yang akan menolak dinikahkan dengan anti!” Ummi terlihat serius. “Mana ada yang menolak dinikahi seorang akhwat yang cantik begini, apalagi hobinya tilawah dan membaca tafsir!” Goda Ummi.

“Ummi..!” Jawabku sewot, dan terlihat manja. Ummi hanya tersenyum, sambil memeluk kepalaku.

Aku tidak akan sepadan dengan Ikhwan yang aku impikan itu. Hanya untuk melihat pun aku tidak akan sanggup. Apalagi memilikinya. Sungguh sangat mustahil! Gumamku dalam hati.


***

“Mi, itu bagus juga! Warnanya cocok dengan jilbab yang ini!” Usulku sambil mengambil contoh beberapa jilbab.

“Iya, yang itu terlihat bagus. Bahannya halus, cocok memang. Warnanya juga nggak terlalu mencolok!” Jawab Ummi.

“Hem… iya! Ya sudah Mi, beli yang itu aja!”

Ummi mengangguk tanda setuju. “Mbak, yang ini yah!” Ucap Ummi kepada pegawai butik itu.

Saat kami akan bergegas keluar butik. Aku melihat seorang akhwat, yang sedang memilih-milih pakaian. Jelas aku melihatnya. Dan benar dia adalah temanku. Ukhti Ria.

“Assalamualaikum” Salamku, saat mendekati akhwat itu. “Eh… Walaikumsalam!” Jawabnya sambil tersenyum. “Wah. Lagi belanja yach, Ukh?” Tanyaku
Ria hanya tersenyum, sambil menganggukan kepalanya. “Anti lagi shopping juga?”

“Oh nggak, lagi nganter Ummi!” Ucapku. Sambil telunjukku menunjuk kearah
Ummi.

“Oh!” Ria hanya tersenyum. Sambil melambaikan salamnya kepada Ummiku.

“Ok. Ana balik dulu yah Ukh!” Ucapku sambil menyalami dan memeluknya. “Assalamualaikum” salamku. Sambil berjalan menuju Ummi.

“Walaikumsalam.”

***

Entah kenapa. Aku terus mengingat Akhi Khalid. Bayang-bayangnya menghiasi alam bawah sadarku. Sejak aku melihatnya berjalan. Aku semakin menganggumi sosok Khalid. Sosok ikhwan yang tegar, dalam balutan singgah sana keimanan. Meskipun terlihat sangat kekurangan materi, tetapi sosok ikhwan yang satu ini. Tidak pernah meminta sesuatu hal yang dapat merendahkan harga dirinya. Aku sangat bangga bisa bekerja sama dengannya.

Hari ini aku benar-benar tidak ada kesibukan. Memang untuk hari ini aku sudah ijin kepada beberapa teman-temanku. Hari ini aku ingin beristirahat total. Aku tidak ingin disibukkan oleh kegiata-kegiatan dakwahku dulu. Bukannya karena aku futur. Tidak, aku tidak futur. Tetapi aku sedang kedatangan tamu bulanan. Seperti

persoalan lainnya, akhwat juga manusia. Yang merasakan ketidak sehetan, jika datang waktunya. Hanya untuk saat seperti ini. Dan hanya satu hari ini saja.

“Tluutt…tluutt..” dering hpku.

No tak dikenal! Siapa yach? Tanyaku dalam hati. Aku ambil hpku, “Hallo… Assalamualaikum!”

“Walaikumsalam!” Ucapnya.

“Ini siapa yah?” Tanyaku penasaran.

“Hehehe…. Sayang. Masa lupa dengan aku!” Ucapnya

Siapa nich! Pikirku jengkel. “Ini siapa?” Ucapku ketus.

“Wah… benar-benar aku sudah dilupain yah! Ini aku, Deryl!” Ucap si Penelphon

Ha.. Deryl! Anak keluarga Wiryo. Anak itu lagi! Huh.. Gumamku dalam hati. “Oh
Deryl! Kapan datang?” Tanyaku basa-basi.

“Aku datang dari Australi kemarin! Wah aku kangen berat nih sama kamu!”

Huh… nih orang. Apa nggak pernah diajari akhlak sama sekali!

“Oh” Jawabku datar.

“Eh, gimana jalan yuk! Aku pengen jalan-jalan nih. Kamu mau kan!”

“Maaf aku nggak bisa!” Jawabku. Bingung. Bagaimana ngomong masalah hijab kepada dia.

“Ah kamu, dari dulu tetap begitu! Kalau gitu aku kerumah kamu aja yah?”

“Maaf aku lagi pengen sendirian! Ok yah Ryl aku udahan dulu! Wassalam” Ucapku sambil mematikan tombol HPku.

Deryl, anak keluarga Wiryo. Seorang pengusaha yang sukses. Tapi sayang tidak diimbangi dengan kesuksesan mendidik anak-anaknya. Mulai dari SMA dulu, Deryl selalu ingin mendekatiku. Pengen mengajak jalanlah, pengen curhatlah. Tapi alhamdulillah, Abi dan Ummi selalu menjaga hijabku dengan setianya. Untunglah orang tuaku tidak menginginkan harta yang berlimpah. Materi yang banyak. Kalaulah orang tuaku menyukai dunia dan isinya. Materi juga harta benda. Pastilah dengan segera aku dinikahkan dengan, Deryl. Tapi, untunglah orang tuaku termasuk prajurit- prajurit dakwah. Alhamdulillah.

Dari kekayaanku saja. Aku sudah sangat bersyukur. Beberapa usaha Abi sudah sangat maju. Hampir setara dengan keluarga Deryl. Perusahaan-perusahaan Abi bahkan sudah menerapkan system management yang sangat bagus. Tidak seperti perusahaan-perusahaan yang lainnya. Dengan system management Syari’ah itulah,

perusahaan Abi semakin lama samakin maju pesat. Benar-benar berkah yang diberikan oleh Allah kepada keluargaku.

Dulu, beberapa kali Deryl datang kerumahku. Dengan sopan aku menemaninya. Tentunya dengan ditemani oleh Abi disampingku. Lucu juga kalau mengenangnya. Deryl menjadi kikuk saat akan berbicara. Kelakuan Deryl pun terlihat kaku. Sangat terlihat tidak nyaman sekali. Lalu, setelah Deryl pulang. Pasti Deryl akan langsung menelphoneku. Lalu mengata-ngataiku, juga Abi dan Ummiku. Kunolah, mengekang anaknyalah, suka mau tahu urasan anak mudalah. Entahlah, banyak sekali yang dikatakan Deryl dalam telphone. Tetapi tetap aku membalasnya dengan sopan, “Aku senang kok dengan perlakuan orang tuaku. Dan aku merasa sangat terlindungi dengan sikap orang tuaku yang seperti itu! Sudah yah aku mau tidur.” Ucapan itulah yang selalu aku gaungkan kepada Deryl, jika dia sudah mengata-ngataiku.

Aku jadi teringat Akhi khalid. Saat sering menelphoneku. Seorang Al Akh yang menelephone hanya untuk mengetahui tingkat keilmuan seorang akhwat. Mengetest kemampuan akhwat. Entahlah, banyak cara-cara jahiliah yang saat itu masih digunakan oleh Akhi Khalid. Tapi entah kenapa, Akhi Khalid menjadi malu sekali saat bertemu denganku. Saat setelah, menelephoneku terakhir kali. Hingga akhirnya aku menjadi sekretarisnya di LDK. Aku tak menyangka, ternyata Akhi Khalid sangat berbeda sekali dengan apa yang aku kira. Seorang Ikhwan yang begitu teguh dalam menjalani dakwahnya. Hingga akhirnya, hatiku luluh dibuatnya. Tetapi tetap, aku harus menjaga hijab dengannya.

Lantunan ayat-ayat suci mengembang dalam alunan tilawah dari MP3ku. Getaran-getaran hati selalu mengembang dalam setiap alunan tilawah itu. Serasa ingin sekali menangis, menangis karena dosa-dosaku yang telah menjadikanku lalai mengingat nama Rabbku. Mengingat nama Sang Maha Haq. Ya Allah, ampuni aku!


Pesan: =========================================================== Hanya itu yang dapat kami tulis untuk potingan artikel ini, bila pengujung semua menyukai ini silahkan tinggalkan komentar anda.... Salam Hangat By Iwan Kurniawan ===========================================================


0 komentar

Posting Komentar

Cancel Reply