Senin, 21 Januari 2013

Sejarah Alwi bin Al Idrus || Penyebar agama Islam Di Lampung

Oleh TIM Peneliti Agama Islam Lampung Selatan
 
Salah satunya adalah penyiar agama Islam asal Hadramaut, Yaman, yakni Habib Alwi bin Ali Al Idrus yang makamnya di Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan. Makam itu disertai dua makam yang konon murid sang Habib di dalam Masjid Nurul Huda, Desa Ketapang. Hingga kini makam itu terus diziarahi umat Islam dari berbagai daerah.
Juru kunci makam Habib Alwi bin Ali Al Idrus, Dulhadi, menceritakan sebelum memasuki Desa Ketapang, penyiar Islam itu peserta pengikutnya tinggal di Dusun Pegantungan, Bakauheni. Di sana mereka memperdalam agama dengan Habib. "Setelah Gunung Krakatau meletus tahun 1883, Habib Alwi kembali berlayar menuju ke Desa Ketapang," kata Dulhadi di rumahnya, dekat masjid itu.
Salah satu peninggalan Habib dan pengikutnya saat tinggal di Bakauheni adalah sebuah sumur yang airnya tetap tawar walaupun terintrusi air laut. "Namun, sumur itu baru bisa dilihat kalau air laut surut," .
Di dalam Masjid Nurul Huda ada dua nisan berdekatan tapi berbeda. Makam sang Habib tertutup kelambu, sedangkan makam di sebelahnya tidak. "Konon makam itu merupakan makam murid kesayangan Habib,"
Di papan pengumuman masjid terdapat foto bangunan surau dan silsilah keturunan Habib. Tercantum keturunan Habib Alwi Al-Idrus, mulai dari Abdurrohman bin Syekh Nul Karim, Abdurrohim bin Abdurrohman dan terakhir Abdurrouf bin Abdurrohim. "Keturunan Habib yang masih hidup kabarnya ada di Labuhanmaringgai, Lamtim. Di sana juga ada makam saudara kandung Habib,"
Sementara itu, Yarwina, istri Hamsi, seorang juru kunci makam sebelum Dulhadi, mengatakan hingga suaminya menjadi juru kunci memang tidak ada lagi keturunan Habib di Ketapang. Mereka kabarnya menetap di Labuhanmaringgai, Lampung Timur. "Di sana mereka juga menyebarkan Islam," kata Yarwina yang juga guru SD Negeri I Ketapang itu. (AAN KRIDOLAKSONO/U-3)
 

 Biografi Alwi bin Al Idrus
Sejak kecil  Alwi bin Al Idrus telah menunjukan kecintaan dan kepeduliannya terhadap ilmu. Menuntut ilmu beliau geluti tanpa mengenal lelah. “Tiada Hari Tanpa Belajar”, demikianlah mungkin motto beliau semasa muda. Kapan dan di manapun beliau senantiasa belajar. Begitu urgen ilmu di mata beliau, hingga akhir hayatpun beliau senantiasa setia merangkulnya.
Alwi bin Al Idrus lebih banyak belajar kepada Al ‘Allamah Al Quthb Al Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih. Seorang ulama terkemuka yang mendapatkan sanjungan dari salah seorang maha gurunya Al Habib Alwi bin Abdulloh bin Syihab, _”Wabilfagiihi fil fighi kal adzro’i, wa fittashowwufi wal adabi muttasi’i”. Marga bilfagih (Hb. Abdul Qodir) dalam bidang fiqih bagai Imam Adzro’i, Dan dalam ilmu tasawuf serta kesusastraan bak lautan yang tak bertepi.
Alwi bin Al Idrus adalah figur yang akrab dengan akhlaqul karimah. Apabila bertemu dengan muslim, beliau senantiasa menebar salam lebih dahulu. Dengan siapapun beliau selalu berkomunikasi dengan tutur kata yang halus dan sopan, bahkan sering kali tutur katanya membuat hati yang mendengarkan menjadi tenang. Sikap yang lemah lembut dan rendah hati senantiasa menghiasi hari-harinya. Tidak berlebihan jika beliau disebut sebagai Bapak anak yatim, kasih sayang dan kepedulian kepada mereka sangat kental dengan pribadi Alwi bin Al Idrus.
Keluhuran akhlaq dan keluasan ilmunya mampu melunakkan hati semua orang, kafir sekalipun. Suatu saat ada seorang non-muslim keturunan Tionghoa bertandang di kediaman beliau guna mendiskusikan ajaran agama islam. Dengan ramah dan senang hati Alwi bin Al Idrus menemuinya dan mengajaknya berkomunikasi dengan tutur kata dan akhlaq yang luhur. Mendengarkan penjelasan dan petuah-petuahnya orang tersebut tercengang dan terkesima. Seketika ia memantapkan hati menyatakan diri memeluk agama islam.
Dalam urusan mengajar dan berdakwah Alwi bin Al Idrus senantiasa berada di barisan terdepan. Sakit, hujan ataupun sedikitnya yang hadir dalam majlis beliau, semuanya tak mengurangi sedikitpun semangat bahkan keikhlasannya dalam mengajar dan berdakwah. Suatu ketika Alwi bin Al Idrus mengajar di sebuah desa dilampung. Dalam perjalanan menuju desa tersebut hujan turun sangat lebat. Melihat kondisi demikian, salah seorang murid beliau yang menyertainya ketika itu mengusulkan agar majlis tersebut ditunda. Namun tidak demikian dengan Alwi bin Al Idrus, karena beban dan tanggung jawab sebagai pengemban risalah nabawiyah, beliau tetap konsisten. Ironisnya, ketika sampai di tempat, ternyata yang hadir saat itu hanya segelintir manusia. Meskipun demikian Alwi bin Al Idrus tak patah semangat.
Bagi Alwi bin Al Idrus, apalah artinya semangat jika tanpa disertai keikhlasan. Pernah Alwi bin Al Idrus diundang ceramah di suatu tempat. Beliau berangkat tidak dijemput dengan mobil mewah layaknya para muballigh lainnya. Tapi beliau hanya dijemput oleh salah seorang utusan panitia. Namun, dengan landasan ikhlas yang tinggi dan ditopang semangat juang yang gigih, beliau berangkat ke tujuan hanya dengan mengendarai jalan kaki, demi misi syiar islam.
Kesederhanaan memang tersirat dalam diri Alwi bin Al Idrus. Memang untuk urusan mengajar beliau bukan tipe ulama yang perhitungan. Di mana dan kapanpun selagi tidak ada udzur syar’i. Siapapun orangnya yang meminta sampai harus naik apa, beliau bersedia hadir. Tidak jarang beliau diundang oleh orang miskin, di pelosok desa yang penuh rintangan, naik dokar sekalipun Alwi bin Al Idrus menyanggupinya. Hampir setiap sore terutama hari kamis Alwi bin Al Idrus memberikan pengajian di Masjid Nurul Huda.
Da’wah Masjid Nurul Huda melegenda ke segenap lapisan masyarakat. Mereka mengenal sosok Masjid Nurul Huda sebagai ulama’ yang memiliki kepribadian yang santun dan bersahaja. Maka tak heran jika beliau memiliki pengaruh kuat yang membuahkan hasil perubahan dan peningkatan. Keberaniannya dalam menyatakan yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil mampu menembus dinding baja ruang kerja para pejabat pemerintah. Ketika ada di antara mereka yang bertindak semau gue tanpa mengindahkan syariat agama islam, beliau tidak segan-segan menegurnya.
Demi misi dakwah, Alwi bin Al Idrus sanggup merelakan segalanya. Dalam hidupnya beliau tidak ingin merepotkan siapapun. Lebih-lebih ketika berdakwah di pedesaan, beliau membawa makanan sendiri dan dibagi-bagikan kepada hadirin. Hampir setiap hari, dalam pengajian yang beliau gelar di kediamannya, Alwi bin Al Idrus menjamu para santrinya. Belum lagi ketika beliau mengadakan pengajian secara mendadak, maka beliau tidak segan-segan untuk merogoh koceknya sendiri demi langgengnya dakwah islamiyah. Begitu ramah dan supelnya Alwi bin Al Idrus, sehingga tukang becak atau pengemis sekalipun tidak merasa sungkan bertamu kepada beliau. Lebih heran lagi, Alwi bin Al Idrus tidak pernah membeda-bedakan tamunya, ini pejabat, ini tukang becak dan sebagainya. Beliau menghormati semua tamunya dengan pelayanan yang proporsional. Sebagai tuan rumah beliau tidak segan-segan mengeluarkan sendiri hidangan untuk tamunya.
Suatu ketika ada seorang pengemis bertamu kepada Alwi bin Al Idrus. Kala itu beliau sedang istirahat siang sementara beberapa santrinya berjaga-jaga di serambi rumah beliau. Rupanya sang pengemis tersebut bersikeras ingin bertemu beliau sekalipun para santri tidak mengizinkannya. Namun akhirnya pun sang pengemis angkat kaki dari rumah Alwi bin Al Idrus membawa kekecewaan yang mendalam. Rupanya Alwi bin Al Idrus mengetahuinya. “Tadi ada tamu pengemis ya?”, tanya Alwi bin Al Idrus kepada santrinya. “Iya guru, tapi guru sedang istirahat”, jawab salah seorang santrinya. “Kenapa tidak membangunkan saya? Iya kalau yang datang tadi pengemis betulan, kalau ternyata Nabiyulloh Khidir as?”, tegas Alwi bin Al Idrus.
Maka berkat akhlaqul karimah, sabar, ikhlas istiqomah serta berbagai mujahadah yang beliau telateni salama ini, semasa hidup Alwi bin Al Idrus sudah menerima bisyaroh dari Al Imam Syafi’i ra berupa dua jaminan dari beliau. Yang pertama di dunia dan yang kedua untuk yang kedua (akherat). Bahkan semasa hidupnya pula Alwi bin Al Idrus pernah bertemu dengan datuknya Rosululloh SAW secara yaqodzoh (terjaga/bangun) sebanyak 35 kali.

Jangan Hanya Menikmati dan Copy Paste Ilmunya Saja, Silahkan Komentar dan Sertakan Link Ini


2 komentar

Assalamu'alaikum.......
Maaf klu boleh tau,alamat lengkp makam beliau dmn ya,dan keturunan beliau yg di labuhan maringgai tepat nya dimn ya??sblm dan sesudh ny trimkasih
ReplyDelete
Assalamu'alaikum.......
Maaf klu boleh tau,alamat lengkp makam beliau dmn ya,dan keturunan beliau yg di labuhan maringgai tepat nya dimn ya??sblm dan sesudh ny trimkasih
ReplyDelete

Poskan Komentar

Cancel Reply